Showing posts with label wilayah perbatasan. Show all posts
Showing posts with label wilayah perbatasan. Show all posts

December 02, 2023

Ganjar Pranowo Buka Peluang Bisnis Bakul Sayur Mendunia

Potensi pertanian Indonesia dalam menghasilkan sayur-sayuran dan buah-buahan yang berkualitas tentunya tidak bisa diragukan lagi. Namun, negara ini menghadapi tantangan dalam hal memasarkannya baik di dalam maupun luar negeri. Mengingat negara kepulauan yang luas dan kemampuan untuk menjangkau pasar domestik dan internasional. Tapi… Sogan melihat harapan ini pada kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, maka muncullah Mahni Sindoro yang bercita-cita untuk membuka pasar Dunia bagi para Bakul Sayur dari Nusantara. 


Beberapa Pendekatan komprehensif untuk memasarkan sayuran dan buah-buahan Indonesia secara efektif: 

Berinvestasi dalam Praktik Penanganan Pasca Panen: Terapkan praktik penanganan pasca panen yang tepat untuk meminimalkan kerusakan dan pembusukan. Hal ini mencakup teknik pemanenan yang hati-hati, pencucian dan penyortiran yang benar, serta pendinginan yang cepat untuk mencegah penumpukan panas di lahan. Mendidik petani dan penangan tentang pentingnya penanganan pascapanen yang tepat untuk meminimalkan kerugian dan mempertahankan kualitas produk yang tinggi. 

Optimalkan Bahan Kemasan: Pilih bahan kemasan yang sesuai dengan karakteristik spesifik setiap sayuran atau buah. Misalnya, gunakan kemasan yang dapat menyerap keringat untuk produk yang mengeluarkan etilen seperti apel dan pisang, sedangkan kemasan non-permeabel cocok untuk produk yang sensitif terhadap kelembapan seperti selada dan buah beri. Pertimbangkan alternatif pengganti plastik yang ramah lingkungan, seperti bahan yang dapat terurai secara hayati atau dapat dibuat kompos.

Strategi Pengemasan untuk Pasar Domestik 

Manfaatkan Modified Atmosphere Packaging (MAP):  MAP memperhatikan penggantian udara di sekitar produk dengan campuran gas yang dimodifikasi, biasanya kombinasi nitrogen, karbon dioksida, dan terkadang oksigen. Suasana yang terkendali ini memperlambat proses respirasi dan enzimatik, sehingga memperpanjang umur simpan buah dan sayuran. MAP sangat efektif untuk sayuran berdaun hijau, buah beri, dan produk-produk lain yang mudah rusak. 

Kantong Plastik Berlubang: Untuk buah-buahan dan sayuran yang tidak terlalu sensitif, kantong plastik berlubang menawarkan solusi sederhana dan hemat biaya. Perforasi memungkinkan terjadinya pertukaran gas, mencegah penumpukan etilen, hormon yang dapat mempercepat pematangan dan pembusukan. Kantong berlubang cocok untuk apel, jeruk, dan buah keras lainnya. 

Wadah yang Dapat Digunakan Kembali: Wadah yang dapat digunakan kembali memberikan alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan terhadap kemasan plastik sekali pakai. Mereka sangat cocok untuk menyimpan sayuran akar, kentang, dan bawang. Dengan mempromosikan wadah yang dapat digunakan kembali, Anda dapat mendorong konsumen untuk mengurangi limbah dan menerapkan praktik berkelanjutan. 

Prioritaskan Manajemen Rantai Dingin: Membangun sistem rantai dingin yang kuat untuk menjaga suhu rendah secara konsisten di seluruh rantai pasokan. Hal ini penting untuk produk yang sensitif terhadap suhu, mencegah pembusukan dan menjaga kualitas selama transportasi, penyimpanan, dan distribusi eceran. Memanfaatkan wadah berpendingin, kendaraan, dan fasilitas penyimpanan untuk memastikan kontrol suhu optimal. 



Strategi Pengemasan untuk Pasar Internasional 

Pengemasan Aktif: Teknologi pengemasan aktif memasukkan komponen tambahan ke dalam bahan pengemas untuk secara aktif mengendalikan lingkungan di sekitar produk. Komponen-komponen ini dapat menyerap etilen, melepaskan zat antimikroba, atau menjaga tingkat kelembapan, sehingga memperpanjang umur simpan dan memastikan kualitas produk selama pengangkutan jarak jauh. 

Controlled Atmosphere Storage (CAS): CAS melibatkan penyimpanan buah-buahan dan sayuran dalam lingkungan tertutup dengan suhu, kelembapan, dan komposisi gas terkendali. Metode ini sangat efektif untuk penyimpanan jangka panjang dan secara signifikan dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan tertentu, seperti apel, pir, dan buah kiwi dll. 

Manajemen Rantai Dingin: Membangun infrastruktur rantai dingin yang kuat sangat penting untuk menjaga integritas produk di seluruh rantai pasokan. Hal ini mencakup fasilitas penyimpanan berpendingin, kendaraan transportasi berinsulasi, dan sistem pemantauan suhu yang tepat. 

Strategi Perluasan Pasar: 

Fokus Pasar Domestik: Menargetkan konsumen dalam negeri dengan meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan produk-produk Indonesia. Memperluas jaringan distribusi untuk menjangkau daerah pedesaan dan terpencil, dan mendorong konsumsi lokal melalui kampanye dan inisiatif. 

Eksplorasi Pasar Ekspor: Mengidentifikasi peluang ekspor produk Indonesia di pasar internasional. Melakukan riset pasar untuk memahami preferensi konsumen dan persyaratan peraturan di pasar sasaran. Berpartisipasilah dalam pameran dagang dan pameran untuk memamerkan produk-produk Indonesia. 

Kemitraan dan Kolaborasi: Berkolaborasi dengan produsen lokal, perusahaan pengemasan, penyedia logistik, dan lembaga pemerintah untuk mengembangkan dan menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Memanfaatkan kemitraan untuk mengakses keahlian, sumber daya, dan jaringan pasar. 

Pencitraan Merek dan Story Telling: Mengembangkan identitas merek yang kuat yang mencerminkan kualitas produk-produk Indonesia, dengan menekankan kualitas unik, praktik keberlanjutan, dan signifikansi budayanya. Ciptakan narasi menarik yang menonjolkan asal usul, kesegaran, dan cita rasa buah dan sayuran Indonesia. Pelabelan yang informatif harus mencakup informasi produk, petunjuk penyimpanan, dan fakta nutrisi. 

Ketertelusuran dan Sertifikasi: Menerapkan sistem ketertelusuran untuk melihat asal dan perjalanan produk Indonesia, memastikan transparansi dan kepercayaan konsumen. Dapatkan sertifikasi dan akreditasi untuk kualitas, keamanan, dan praktik berkelanjutan untuk meningkatkan kredibilitas pasar. 

Pemasaran Bertarget: Identifikasi segmen pasar tertentu dan sesuaikan strategi pemasaran. Misalnya, mempromosikan produk organik kepada konsumen yang sadar kesehatan atau menonjolkan cita rasa unik dari produk-produk Indonesia kepada para pecinta kuliner. 

Kemitraan dengan Pengecer: Berkolaborasi dengan pengecer untuk memastikan penanganan dan pemajangan produk Indonesia yang tepat di toko. 

Sertifikasi Ekspor: Dapatkan sertifikasi yang diperlukan dan patuhi peraturan ekspor untuk memastikan kelancaran akses ke pasar internasional.



 

October 12, 2020

Perbatasan : Pulau Sebatik Ikon Kota Perbatasan





 Pulau Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Sebagai bagian dari provinsi Kalimantan Utara banyak orang menghayalkan bahwa suatu saat Sebatik akan jadi Singapura nya Kaltara. Bukan tidak ada alasan, pulau Sebatik berada di pertigaan wilayah Malaysia-Brunai dan Filipina. Tetapi apapun itu, sebatik sebenarnya adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Dia tidak saja sebagai beranda depan Bangsa, tetapi ia layak dan perlu dijadikan “role model” bagi pengembangan pulau-pulau terluar. Dahulu Kemenhan dan Kementerian Kelautan dan Kemenhub mencoba untuk mengangkat  Pulau Nipah, Batam sebagai salah satu model bagi pengembangan pulau terluar dengan titik berat eknomi dan pertahanan. Pemerintah lewat KemenPU kemudian mereklamasi pulau Nipah dan jadilah ia seperti yang sekarang.Tapi sebenarnya belum bisa memberikan makna apa-apa, kecuali sedikit dari sisi pertahanan.


Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Kali ini saya menulis tentang pengembangan pulau Sebatik ke depan, dengan jalan melihat pulau itu sejak abat ke 16, bagaimana posisinya terhadap Tawau. Dengan mengetahui sedikit banyak tentang realitas tersebut maka para perencana nantinya akan bisa memberikan ciri khas yang sesuai bagi pengembangan pulau Sebatik jadi Kota Perbatasan. Dari sisi pertahanan Malaysia jelas sudah menjadikan Tawau sebagai Armatim atau Armada Timur (pangkalan utama Angkatan Laut nya), sementara Indonesia tidak punya ide terkait untuk itu, meski memang akan ada rencana pembangunan satu brigif di Nunukan. Tetapi masih jauh dari sepadan. Kalau Malaysia punya dua Lanud di Tawau dengan panjang runway 3000 meter, nampaknya Indonesia baru Punya Sepinggan. Sementara Tarakan, Nunukan, Malinau, Putu Sibau bandaranya baru kelas sedikit diatas “perintis”.

Belanda Juga Diusir Inggris Dari Tawau. Dalam catatan penulis, awal mula etnis pertama yang bermukim di Pulau Sebatik adalah etnis Tidung, Mereka bermukim di Pulau Sebatik bermula sekitar tahun 1912, saat mereka membuka desa Setabu atas perintah Sultan Tidung. Cerita itu sudah kita dengar dari mulut ke mulut. Termasuk dari Kepala desa Stabu sendiri (2011) saat penulis melakukan penelitian lewat Universitas Pertahanan di wilayah itu. Waktu itu, beliau menambahkan bahwa ia merupakan keturunan langsung dari orang pertama yang membuka daerah Pulau Sebatik untuk permukiman. Etnis yang menjadi mayoritas di Pulau Sebatik saat ini bukanlah etnis Tidung tetapi Bugis. Bugis menjadi etnis mayoritas dengan jumlah mencapai 70% dari keseluruhan populasi Pulau Sebatik. Etnis Jawa menjadi etnis kedua terbesar, disusul etnis Tidung, Dayak Agaba, Timor, dan Lombok. Kemudian saya juga mendapati bahwa  Ambo Mang bin Haji Midok diyakini sebagai orang pertama yang membawa keluarganya menetap di Sebatik pada 1940, tepatnya di daerah Liang Bunyu.
Tapi jauh sebelum itu pada  Abad ke 17, kongsi dagang Hindia Belanda VOC sudah mulai memperluas wilayah koloni mereka ke Borneo Timur atau Kalimantan Utara. Pada tahun 1635 Garit Thomasen Pool untuk pertama kalinya diutus Pemerintah Hindia Belanda berkunjung ke Kaltara untuk melakukan kontak dagang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara, tetapi usaha ini tidak berhasil. Pada Tahun 1671 Belanda mengutus lagi Paoelos De Bock dengan kapal Chiolop de Noorman melakukan perluasan wilayah koloni ke Kalimantan Utara. Mereka melakukan kontak dagang dengan kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong.

Pada tahun Tahun 1672 Frans Heys dengan tiga Kapal dagang berkunjung lagi ke Kerajaan Kutai Kartanegara untuk melakukan kontak dagang. Tetapi karena hasilnya kurang memuaskan maka mereka meneruskan perjalanan ke pesisir Timur pantai Kalimantan hingga Kalimantan Utara yang sekarang menjadi Negara bagian Sabah Malaysia Timur. Di suatu tempat kawasan pantai yang disebut Tanjung Tinagat (kini Tawau), Belanda membuka perkampungan baru. Disini mereka mendirikan perwakilan dagang sebagai bagian dari wilayah koloni mereka. Pada sebuah batu yang menjorok ke laut diukir lambang VOC yang secara jelas bisa dilihat dari laut sebagai bukti bahwa Tanjung Tinagat (Tawau) adalah wilayah koloni Hindia Belanda.
Strategisnya Tawau atau Malaysia, itu terlihat dari upaya Belanda dan Inggeris memperebutkan Tawau. Pada masa itu. Inggris yang telah menguasai India, Burma, semenanjung Malaya, dan Singapura, juga tengah memperluas wilayah koloninya ke Borneo Utara. Sarawak, Berunei dan Sabah berhasil mereka diduduki. Inggris berniat memperluas wilayah jajahanya hingga Tawau, tetapi tidak berhasil. Kota Tawau lebih dahulu dikuasai Belanda. Mereka terikat perjanjian bahwa sesama Bangsa Eropa tidak boleh saling berebut wilayah jajahan yang sudah dikuasai.
Akan tetapi keinginan Inggris tidak berhenti sampai disitu. Dengan sengaja Inggris membuat kekacauan di Tawau. Suku Heban dan suku suku lain diadu domba bahwa mengayau atau memenggal kepala Manusia diperbolehkan dengan alasan adat. Maka terjadilah perang antar suku di Kota Tawau. Di muara sungai Tawau dirintangi berbagai pohon yang sengaja ditumbangkan. Kapal-kapal dagang Belanda dan kapal dagang asing dirampok, awak kapalnya dibunuh. Kantor maskapai VOC Belanda diserang kemudian dibakar. Batu cadas yang bertuliskan lambang VOC diujung tanjung dihancurkan oleh agen Inggris untuk menghilangkan bukti tapal batas wilayah koloninya Belanda.
Meluasnya kekacauan di Tawau membuat Belanda merasa kewalahan. Akhirnya orang-orang Belanda menyingkir kesebuah desa yang disebut Kampung Pembeliangan. (kini berada di Kabupaten Nunukan). Disini Belanda berkirim surat Kepada Raja Bulungan Sultan Kaharuddin, untuk minta dijemput. Maka sultan mengirim beberapa perahu mengambil orang-orang Belanda untuk dibawa ke Tanjung Palas, ibukota kerajaan Bulungan. Sesampai di Tanjung Palas Sultan Kaharuddin mengajukan penawaran Kepada orang-orang Belanda apakah akan pulang kenegeri Belanda atau tetap ingin tinggal di Bulungan. Ternyata mereka memilih untuk tetap tinggal di Kerajaan Bulungan. Oleh Sultan kaharuddin Orang-orang Belanda ini diberi tempat tinggal berupa tanah seribu depa diseberang Sungai Kayan. Tempat orang-orang Belanda ini sekarang menjadi Kota Tanjung Selor, ibuKota Kabupaten Bulungan.
Kisah masa lalu setidaknya telah memberikan kita semacam referensi bagaimana perebutan wilayah ini dilakukan serta bagaimana Belanda mengincar posisi strategis wilayah Tawau dalam perdagangan. Dari sudut pandang ini, maka cara yang termudah untuk mengembangkan kawasan di segitiga Tawau, Malaysia-Brunai-Filipina adalah dengan jalan melakukan sinergi terhadap berbagai keunggulan yang sudah ada. Posisi Pulau Sebatik-Nunukan-Tarakan-Sangata-Balikpapan adalah partner yang sangat ideal bagi perkuatan kota Tawau sebagai pertigaan arus ekonomi yang mengkaitkan potensi Malaysia-Brunai-Indonesia dan Filipina. Bagaimana Kota perbatasan Pulau Sebatik mampu memanfaatkan potensi disekitarnya demi kemaslahatan bersama.

Masih ingat sejarahnya bagaimana Pulau Batam jadi Badan Otorita (sekarang Badan Penggusahaan,BP) pada tahun-tahun awal kelahirannya 1970an? Adanya semangat untuk menghadirkan Kota Industri yang bisa bekerja sama dengan negara tetangga, kota yang  tidak disibukkan oleh birokrasi pemerintahan, dan dikelola laiknya sebuah perusahaan. Sekarang ini Kota Batam[1] adalah kota terbesar di Kepulauan Riau dan merupakan kota dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatra setelah Medan dan Palembang, Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam Per April 2012 jumlah penduduk Batam mencapai 1.153.860 jiwa.
Metropolitan Batam terdiri dari tiga pulau, yaitu Batam, Rempang dan Galang yang dihubungkan oleh Jembatan Barelang. Batam merupakan sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang cukup dekat dengan Singapura dan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Dan jangan lupa Batam masih tergolong wilayah perbatasan, yang memang pantas untuk dijadikan halaman depan bangsa. Lalu bagaimana dengan Pulau Sebatik?

Ikon Kota Perbatasan

Pengembangan Kota Pulau Sebatik (selanjutnya disebut Kota Sebatik)  ke depan haruslah mengupayakan untuk mengoftimalkan pemanfaatan berbagai potensi sumber daya yang ada, baik dari sisi letak geografisnya sendiri maupun potensi sumber daya alam yang telah ada, mencakup pengembangan usaha perikanan tangkap, rumput laut, pengembangan usaha tani perkebunan dan tanaman pangan seperti kakao, kopi, kelapa sawit dan padi serta pengembangan usaha-usaha perdagangan dan jasa yang menjadikannya sebagai pintu masuk ke Indonesia khususnya wilayah KalimantanTimur dan Kalimantan Utara, khususnya kota-kota disepanjangn pantai timur Kalimantan mulai dari Balikpapan, Bontang,Tanjung Selor, Tarakan, Nunukan dan Sebatik; dan juga sepanjang jalan paralel perbatasan mulai dari Tanjung Datu-hingga ke Nunukan, termasuk di dalamnya adalah potensi pariwisata (Trade and Service).
Usaha dan upaya diatas dipandang penting dalam menggerakan perekonomian Pulau Sebatik. Kalau dilihat dari potensi wilayah-wilayah yang ada di belakang Sebatik, maka jelas daya tarik pengembangan ekonomi kawasan perbatasan di segi tiga Malaysia-Brunai-Filipina itu akan sangat terpesona oleh potensi yang dimiliki Sebatik dan jajarannya. Terlebih lagi kalau Sebatik-Tawau bisa di satukan lewat jalan khusus (dengan Kapal Ferry-Roro) atau Jembatan sekelas Barelang. Kalau di perhatikan secara alami saja perkembangan Pulau Sebatik selama ini telah jadi perhatian utama bagi kawasan disekitarnya- sehingga dapat menjadi perhatian positip dari kota tetangganya Tawau. Tawau secara pasti telah menjadikan Sebatik sebagai partner dagang yang baik dan memberikan semangat kerjasamanya. Kalau sebatik didandani dengan sarana dan prasarana yang tepat maka tidak mustahil Kota Sebatik akan sangat memukau.
Bisa kebayang nggak? Kalau misalnya suatu saat nanti dibentuk sebuah Badan Pengelola Kawasan Sebatik ( disingkat BPKS) yakni lembaga instansi pemerintah Pusat yang dibentuk oleh BNPP (Badan Nasional Pengelola Perbatasan) yang mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengelolaan, pengembangan dan pembangunan kawasan perbatasan sesuai dengan fungsi-fungsi kawasan?  Badan semacam ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangun perbatasan jadi beranda depan kedaulatan bangsa. Seperti di Batam terdapat dua model pengelolaan dalam satu Pulau yakni satu Kota Batam dan satunya lagi BP Batam.
Badan Pengelola Kawasan Sebatik  ini nantinya akan menyiapkan  beberapa proyek unggulan untuk meningkatkan keunggulan dan kelebihan Pulau Sebatik dari kawasan sekitarnya. Langkah ini dimaksudkan untuk menjadikan Pulau Sebatik sebagai tempat investasi yang menarik bagi kalangan perdagangan dan pelabuhan  di kawasan segi tiga emas Malaysia-Brunai-Filipina  dan sekitarnya.
Proyek tersebut di antaranya seperti pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Sebatik- Nunukan dan pulau Kalimantan,bahkan termasuk dan sampai ke Tawaunya sendiri. Kemudian diikuti dengan pengembangan pasilitas PPLB Lamijung yang menjadi satu kesatuan dengan Border Trade Zone, jalan tol Sebatik –Nunukan dan pulau Kalimantan, Perluasan atau peningkatan kualitas Pelabuhan Nunukan- pembangunan SMK unggulan pertanian, perikanan Rumput Laut, Karet dan Kakao dan bahkan balai pelatihan untuk TKI.
Konsepsi pengembangan wilayah Kabupaten Nunukan secara umum dan pulau Sebatik khususnya di masa depan harus terintegrasi dan dikembangkan melalui strategi pengembangan wilayah yang spesifik sesuai dengan kondisi geografi wilayahnya, yang sinkron  dengan VISI INDONESIA 2025 DAN KONEKTIVITAS ASEAN serta Masyarakat Ekonomi Asean 2015  baik pada wilayah laut maupun daratnya. Hal ini dikarenakan pada wilayah ini disamping merupakan wilayah perbatasan juga sebagai simpul dalam system jaringan perdagangan antar Negara, yang bisa memanfaatkan potensi perekonomian kota-kota besar di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara khususnya Balik Papan, Samarinda, Bontang, Sangata, Tanjung Selor, Tarakan dan Nunukan dengan kota-kota di wilayah Sabah.

Perekonomian wilayah di pulau Sebatik sebenarnya telah jadi daya pikat tersendiri di daerah itu. Kalau saja Sebatik bisa dijadikan tumpuan sarana Transit (Ferry Roro-Kapal Laut Cepat dan Kapal Pesiar Sewaan), fasilitas pelabuhan, serta jaringan Hotel dan penginapan maka ia akan jadi tempat transit yang menyenangkan dan apalagi bisa lebih murah bagi kota-kota disekitarnya. Misalnya dengan Tarakan. Tarakan dapat dicapai dan dilayani oleh kapal Feri Tawindo MV dan Indomaya MV pulang pergi, setiap pagi jam 09.00 dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan dan jam 11.00. Harga tiket feri dari Tarakan adalah Rp 290.000 per orang(data tahun 2013) dan dari Tawau adalah 140 MYR (ringgit) per orang dan tidak tersedia tiket dengan kategori eksekutif ataupun ekonomi. Lama perjalanan adalah 4 sampai 5 jam tergantung cuaca laut.
Sebatik, Tarakan dan Tawau adalah surga petualangan laut, bila di Tarakan anda bisa melanjutkan jalan ke Pulau Derawan, maka dari Tawau anda dapat ke Pulau Sipadan dan Ligitan. Kalau Sebatik misalnya bisa membuat paket Tour dari Sebatik ke Pulau Derawan dan kota-kota disekitarnya termasuk paket penginapan, transport dan island shopping bahkan dengan atau tidak termasuk makan serta pengeluaran pribadi. Kemudian hal yang sama Tour ke Tawau- Semporna-Sipadan-Ligitan.berikut kota-kota di sekitar nya, maka ia akan jadi sesuatu yang menarik.


Sekarang sudah era globalisasi, termasuk didalamnya globalisasi ekonomi yang sedang dan masih terus akan berlangsung membawa dampak terhadap pergerakan orang, barang dan modal yang tidak lagi dapat dibatasi oleh dimensi waktu dan ruang. Menurut Dumairy[2] globalisasi dimaknai mendunianya kegiatan perekonomian, yang tidak lagi mengenal batas kenegaraan; globalisasi bukan hanya sekedar berada di tataran nasional, namun sudah menjadi transnasional kegiatan yang tidak hanya mencakup aspek perdagangan dan keuangan saja, tapi sudah memasuki ranah aspek produksi, pemasaran dan sumber daya manusia. Konsekuensinya, perekonomian antar Negara menjadi saling berkaitan, dimana peristiwa ekonomi suatu Negara dengan dan mudah berimbas ke Negara lainnya.
 Apakah Sebatik serta kawasan perbatasan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dapat memanfaatkan dampak positif arus globalisasi ekonomi, terutama peluang perdagangan bebas kawasan sekitarnya. Artinya, langkah awal pengembangan perdagangan seperti apa yang pas untuk Sebatik? Apakah perdagangan bebas perlu dikembangkan di kawasan Pulau Sebatik? Semua itu sangat tergantung pada kemampuan memanfaatkan potensi pasar Negara Bagian Sabah, Brunai dan Filipina dengan memanfaatkan peraturan yang ada yakni Border Trade Agreement (BTA) Tahun 1970 serta aturan yang ada pada BIMP-EAGA?
Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya dalam jangka pendek perdagangan bebas lintas batas negara lewat lautlah kelihatannya yang “lebih mudah”; yakni melalui pembentukan Border Trade Zone (BTZ) – Pos Pengamanan Lintas Batas (PPLB), khususnya di kawasan perbatasan laut (pesisir), mencakup Nunukan dan sekitarnya. Dalam jangka panjang secara bertahap PKSN atau PPLB yang berada dikawasan perbatasan darat dikembangkan kegiatan perdagangan bebas lintas batas.
Kawasan perbatasan laut (pesisir) yang kita sebut di sini mencakup 5 Kecamatan di Pulau Sebatik, 2 Kecamatan di Pulau Nunukan (Nunukan, Nunukan Selatan) dan wilayah pesisir Kecamatan Sei Manggaris. Untungnya sejak awal telah dipersiapkan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung pergerakan lalu lintas orang dan barang. Infrastruktur transportasi berupa bandar udara Nunukan dan pelabuhan laut Tunon Taka, untuk melayani kapal melakukan bongkar muat barang dalam jumlah besar sudah tersedia.
Demikian pula PPLB Lamijung akan segera difungsikan sebagai lalu lintas keluar - masuk orang dari Nunukan ke Tawao atau sebaliknya. Model pengembangan Kawasan Perbatasan Laut  yang merupakan pilihan tepat untuk mengembangkan Nunukan dan sekitarnya membutuhkan keberadaan Kawasan  Berikat  dan Kawasan  Pelabuhan  Bebas.  Dalam  hal yang sama, Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah mencanangkan Pulau Sebatik sebagai Kawasan Pengembangan Agroindustri dan Jasa Maritim, pada 28 Mei 2012 lalu. Sebagai kawasan pengembangan agroindustri lebih realistis untuk segera direalisasikan dalam jangka pendek, dibandingkan dengan pembentukan kawasan berikat. Karena kawasan berikat membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana yang lebih  kompleks.
Namun demikian, pilihan model pengembangan diatas sudah mengisyaratkan peluang untuk dilakukannya kegiatan perdagangan bebas dikawasan perbatasan, walaupun perdagangan bebas dimaksud tidak dalam skala besar pada tahap awalnya. Ketersediaan fasilitas kepelabuhan perlu disiapkan dan dikembangkan, seperti dermaga, terminal penumpang, lahan penumpukan barang (kontainer), gudang, perkantoran, fasilitas CIQ serta pengamanan harus sudah disiapkan. Kenyataannya seluruh fasilitas dimaksud sudah tersedia pada pelabuhan laut Tunon Taka; hanya saja setatus pelabuhan tersebut belum sebagai Pelabuhan ekspor – impor.
Rencananya Pemerintah daerah  akan segera memindahkan lalu lintas pergerakan orang dari Nunukan menuju Tawao atau sebaliknya, yang semula berada di Tunon Taka, dialihkan ke Lamijung yang nantinya akan menjadi PPLB Laut (dilengkapi CIQS) Keberadaan Tunon Taka dan Lamijung ini dalam jangka pendek sudah relevan untuk mendukung terwujudnya perdagangan bebas lintas batas, karena selama ini antara Nunukan dan Tawao sudah terjadi kegiatan ekspor - impor melalui mekanisme perdagangan lintas batas berdasarkan ketentuan BTA.
Apa yang terjadi saat ini memang seolah dan nyatanya menjadikan posisi Nunukan tidak mengun tungkan; karena hal yang tidak mungkin dipungkiri lagi adalah produk olahan dari Malaysia sudah membanjiri pasaran retail di Sebatik, Nunukan, bahkan sudah merambah Tarakan; padahal belum tentu produk produk tersebut sesuai dengan standar laik sehat yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia (SNI).

Hal seperti ini mestinya harus dapat dilihat sebagai bagian dari proses alami. Sebab sejak zaman kolonial dahulu, Tawau memang sudah lebih berkembang bila dibandingkan dengan Nunukan apalagi Sebatik.  Dihadapkan pada kondisi demikian, maka langkah yang bijak dan terbaik adalah memformalkan kegiatan perdagangan lintas batas ini, menjadi perdagangan bebas lintas batas.
Dengan demikian  Pemerintah agar mempertim bangkan  perubahan status Pelabuhan Tonan Taka menjadi pelabuhan ekspor - impor; atau pelabuhan lainnya di Pulau Sebatik dalam rangka menjadikan Sebatik sebagai kawasan perkotaan, dengan basis agroindustri dan jasa maritim. Keberadaan  pelabuhan ekspor - impor ini adalah sebagai pintu keluar - masuk tunggal kegiatan perdagangan bebas, tidak hanya untuk perdagangan bebas lintas batas, namun lebih luas dari itu, yaitu dipersiapkan untuk perdagangan luar negeri yang mencakup BIMP-EAGA-Asean-Brunai-Malaysia-Indonesia dan Filipina.
Langkah berikutnya,  secepatnya merealisasikan Lamijung sebagai PPLB (CIQS), untuk keperluan lalu lintas orang antar Negara. Pergerakan pelintas batas ini, baik menggunakan passport atau pass lintas batas tidak menutup kemungkinan akan membawa barang, baik untuk keperluan pribadi maupun dagang. Adanya PPLB ini maka kegiatan keluar masuknya orang/barang dapat lebih terpantau dengan baik. PPLB lainnya ditempatkan di Pulau Sebatik. Keberadaan kedua PPLB tersebut, apabila sudah berfungsi dengan baik, maka pelbagai pos lintas batas tradisional yang ada harus ditutup  secara  bertahap,  mengingat  selama  ini kegiatan perdagangan illegal banyak melalui pos tradisional dimaksud, yang sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Langkah berikutnya upaya memberi nilai tambah pada produk hasil bumi, hasil laut dengan jalan melakukan pengolahannya terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan adanya Border Trade Zone (BTZ) dalam kawasan PPLB. Konsepsi BTZ ini identik dengan upaya perluasan marketing. Dalam kawasan ini dipertemukan penjual - pembeli, dengan  memperdagangkan produk setegah jadi atau untuk sementara  produk ekstratif; BTZ ini perlu dilengkapi fasilitas gudang untuk transit (penyimpa nan sementara) produk yang diperdagangkan; didukung sistem pengelolaan profesional, transaksi perdagangan (ekspor), bongkar muat yang dapat diselesaikan cepat dan profesional, serta langsung dapat dikapalkan atau sementara menunggu proses administratifnya, produk tersebut dapat dititipkan di gudang transit) sebelum diekspedisikan menuju pelabuhan ekspor - impor (kapal).
Langkah berikutnya, memastikan produk yang diperdagangkan merupakan produk unggulan kawasan; unggul dari segi apa saja, mulai dari kualitas produk, harga jual yang kompetitip; tentu ini membutuhkan strategi dan taktis yang komprehensip  mulai dari upaya perbaikan pada faktor pembudidayaannya yang didukung faktor penanganan pasca produksi; sudah ada sentuhan teknologi (kompetitif dinamis). Produk unggulan sejatinya diproduksi dalam skala besar, sehingga ini hanya dimungkinkan oleh perusahaan yang memiliki modal besar dan lahan usaha yang luas dengan pola Inti-Plasma. Sementara produksi yang dilakukan secara individual terutama penduduk lokal, harus dihimpun terlebih dahulu dalam suatu lembaga usaha bersama semisal "koperasi". 


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batam
[2] Drs. Dumairy, MA. 1997. Perekonomian Indonesia. Cetakan Pertama. Yogyakarta; Penerbit Erlangga. Hal 10.








July 05, 2016

7 Rahasia Menulis Artikel Opini Disukai Koran





7 Rahasia Menulis Artikel Opini Disukai Koran ( E-Book)
Untuk dapat menulis di media arus utama ini, kita perlu banyak belajar dari penulis lain tentang upaya mereka menembus media massa. Yakni dengan membaca artikel-artikel mereka serta memperhatikan waktu artikel tersebut dimuat.  Salah satu rubrik paling polpuler adalah opini. Banyak penulis profesional begitu antusias menulis di sini. Karena itu, saya ingin mengatakannya, bahwa mencoba kemampuan menulis anda bisa diukur dari sisi ini. Meski demikian bukan berarti sebuah tulisan yang tidak bisa dimuat di suatu kolom Opini Surat Kabar berarti tulisan tersebut jelek. Dalam hal ini ada terpaut soal selera. Tetapi sebagai calon penulis professional hal seperti ini bisa jadi pertanda.
E-Book Gratis Ebook ini Bisa Anda dapatkan Gratis Kalau anda membeli Salah satu Buku Serial Menulis dari Buku Perbatasan: Katika Jalan Tertutup Menulis Malah Memberiku Segalanya, Rahasia Sukses Penulis Preneur, dan 7 Cara Menulis Artikel Yang Disukai Oleh Koran. Emailkan saja bukti pembelian Anda ke : harmenbatubara@gmail.com atau SMS kan ke HP 0818173382 maka kami akan mengirimkan Ebook tersebut ke Anda.
Mampukah anda membuat tulisan dan dimuat di Koran tersebut. Kalau belum. Mulailah berjenjang, urutkan dari Koran kecil di kota anda, kemudian ke kota tetangga dan seterusnya hingga Koran terbaik di negeri ini. Menurut saya ide seperti itu akan mampu menumbuhkan adrenalin kepenulisan anda, dan itu sesuatu yang menarik.
Saya pernah berada pada kondisi seperti itu, tetapi motivasinya berbeda. Waktu tahun-tahun 70 an saat masih mahasiswa di UGM Yogyakarta, saya berjuang hanya untuk bisa menjadi penulis Koran demi mendapatkan honornya. Saat itu belum ada computer, belum ada wifi dan kehidupan Online. Yang ada barulah mesin tik dan Tip Eks sebagai penghapusnya. Di tengah berbagai keterbatasan dan kegiatan perkuliahan, saya melaku kan pelatihan menulis dengan otodidak ( Kisah selengkapnya sobat bisa lihat dibuku saya: Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup… Menulis Malah Memberiku Semuanya). Hasilnya setelah enam bulan berjuang barulah satu tulisan saya dimuat di Koran  Dua Mingguan Eksponen di jalan KH Dahlan-Yogyakarta. Senangnya bukan main.
 Dua bulan berikutnya, hampir semua Koran nasional sudah menerbitkan artikrl-artikrel saya. Yang Paling melegakan, saya dapat memperta hankan penghasilan honor dari tulisan saya antara 17-35 ribu rupiah perbulannya. Sebagai perbandingan, saya masih ingat anak bupati sahabat saya, yang kostnya di Realino waktu itu wesselnya baru sebesar Dua puluh lima ribu rupiah. Harga beras per Kg memang masih tiga puluh rupiah. Jadi harga satu artikel di harian Nasional seperti Kompas-Sinar Harapan dan Surabaya Post waktu itu bervariasi antara 17,500 sampai 30,000 rupiah atau setara dengan 580 kg-1000 kg beras ukuran sedang, sementara Koran Lokal seperti Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat dan Suara Merdeka bervariasi antara 1500-2500 rupiah. Berkaca dengan pengalaman ini maka menjadi penulis professional adalah soal kemauan dan target yang diinginkan.Jadi kalau anda mahasiswa dan ingin mebiayai kuliah anda dengan hasil honor dari menulis artikel, maka ebook ini perlu anda baca.
Menulis Ebook ini juga saya maksudkan hanya dengan niat sederhana, bisa membantu para pembacanya untuk bisa menulis Opini dengan lebih baik. Tahu polanya, mengetahui ilmunya dan kemudian menuliskannya. Hanya saja ada satu hal yang harus kita ingat. Anda juga harus terus meng Up datet intelektual anda dengan cara banyak membaca, banyak mendengar para ahlinya dan seterusnya. Sebab tanpa pengetahuan serta intelektual yang memadai nggak mungkinlah Opini yang anda tulis akan menarik bagi para pembaca kalau anda sendiri masih gelap dengan kehidupan ini kan? Jadi memperkuat pengetahuan itu perlu dan memang diperlukan.

May 10, 2016

Jual Tapal Batas Profil Wilayah Perbatasan Indonesia - Buku Perbatasan | Tokopedia





Jual Tapal Batas Profil Wilayah Perbatasan Indonesia - Buku Perbatasan | Tokopedia
: Jual Tapal Batas Profil Wilayah Perbatasan Indonesia, bagus dengan harga Rp 124.000 dari toko online Buku Perbatasan, Bandung. Cari produk politik lainnya di Tokopedia. Jual beli online aman dan nyaman hanya di Tokopedia.
Secara geografis  Indonesia merupakan Negara terbesar ke lima di dunia yang menghubungkan dua benua (Asia-Australia) dan dua samudra  ( Hindia dan Pasifik)  merupakan jantung perdagangan di belahan dunia timur.  Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI berbatasan dengan 10 (sepuluh) negara  sahabat yaitu  India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, Kepu lauan Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste dan di Darat berbatasan dengan 3 (tiga) Negara yaitu ; Malaysia, Papua Nugini dan RDTL. Selain itu terdapat 92 (sembilan puluh dua) buah pulau kecil terluar yang merupakan halaman Negara dan dua belas diantaranya membutuhkan perhatian khusus.
Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dengan elegan menyatakan bahwa seluruh perairan di sekitar, diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang masuk daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bagian-bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia (Wawasan Nusantara). Konsep Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelago State) diakui dunia bersamaan dengan United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) disahkan pada tanggal 10 Desember 1982 dan Indonesia meratifikasinya dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985.
Sebagai negara Kepulauan Indonesia wajib memberikan jaminan bahwa wilayah lautnya sebagai wilayah yang aman untuk dilewati oleh masyarakat internasional; baik itu untuk maksud damai maupun untuk maksud perang dengan segala persyaratan dan konsekwensinya. Itu artinya Indonesia harus  mampu mengamankan  jalur laut dan sumber daya lautnya. Diantaranya harus mampu mengamankan jalur di 12 laut yang ada di Indonesia. Harus mampu menguasai titik-titik strategis yang meliputi  choke points Selat  Malaka dan 39 selat lainnya. Jalur strategis  sebagai pendukung kepentingan perdagangan, pergerakan sumber daya energi dan makanan (sea lanes of trade/ SLOT) serta merupakan jalur supra strategis militer (sealanes of communi cations/SLOC). Salah satu cara untuk itu, yakni dengan membangun pulau-pulau terluar sebagai “Kapal Induk”. Sederhanya pulau itu dikembangkan sehingga bisa jadi Markas Komando, dapat menampung pesawat tempur, kapal perang, para prajurit berikut semua logistiknya. Dibanding, beli kapal Induk cara seperti ini jauh lebih efektip.

Wilayah perbatasan sesuai UU merupakan kewenangan Pusat. Namun demikian pada era otonomi daerah keinginan kita adalah agar Pemda segera dapat mengambil posisi. Hal yang terkait penegasan batas, baik itu antar negara maupun antar provinsi/Kabupaten/Kota sudah saatnya berubah. Jangan lagi semuanya menunggu untuk dikerjakan oleh pemerintah pusat. Salah satu yang sangat memprihatinkan adalah karena selama ini semuanya dikerjakan dari pusat, baik itu tenaga ahli, para pelaksana maupun peralatannya semua masih dari pusat, maka tentu saja biaya opresionalnya sangat besar. Sampai-sampai provinsi yang daerahnya menjadi batas antar negara itupun, sesungguhnya tidak tahu banyak dengan apa yang dilakukan oleh Tim penegasan batas antar negara yang ada diperbatasan daerahnya. Misalnya dalam penegasan batas RI-Malaysia di Kalimantan, telah dimulai dari tahun 1975, sampai pengukuran batas sepanjang 2004 km selesai, pihak provinsi hanya sekedar diberitahu saja. Bahkan sering tidak ikut sama sekali. Mereka sama sekali tidak dilibatkan di lapangan dan bisa jadi bahkan belumpernah melihat peta atau daftar koordinat perbatasannya. Meski hal yang sama belum tentu terjadi dengan Papua, NTT khususnya karena Pemdanya memang pro aktive dan peduli sejak dari awal.
Buku ini Secara sederhana bermaksud untuk memberikan gambaran secara spesifik tentang perbatasan darat antara Indonesia dengan negara tetangga. Mulai dari pulau Kalimantan, Papua dan pulau Timor. Diharapkan dengan memberikan gambaran yang jelas dan utuh tentang perbatasan darat mulai dari bagaimana batas itu di tetapkan, lalu seperti apa batas itu ditegaskan kembali dan bagaimana cara memeliharanya. Buku ini menjelaskan apa itu garis batas, tugu batas, pos-pos pengamanan batas dan  asesoris batas lainnya seperti Gapura, papan nama dan beacon atau sosok, jalan inspeksi perbatasan sebagai data dasar  dalam mengenal Tapal Batas negara kepulauan yang indah ini. Sehingga menjadi bahan masukan bagi para pihak untuk bisa lebih mengoptimalkan pemeliharaan, pengembangan serta kerja sama daerah maupun daerah antar negara, serta pengamanan perbatasan bagi  kepentingan nasional Indonesia.


Bagi mereka yang belum akrab dengan wilayah perbatasan tetapi ingin berinvestasi di wilayah ini, maka diharapkan buku ini dapat dijadikan sebagai pembuka jalan dalam memberikan informasi dasar yang bisa menambah wawasan mereka terkait perbatasan. Dalam buku ini meski secara sederhana juga dipaparkan kondisi riel wilayah perbatasan yang meliputi seluruh wilayah Kabupaten di sepanjang perbatasan. Sehingga mereka bisa atau dapat melihat potensi wilayah perbatasan cocoknya dikembangkan sebagai apa? Baik dari dalam maupun dengan negara tetangga. Juga bagi mereka yang karena tugas dan tanggung jawabnya terkait wilayah perbatasan.