Showing posts with label buku batas. Show all posts
Showing posts with label buku batas. Show all posts

May 25, 2025

Sukses UMKM Laris Manis di Google Ads

 

E-Book ini,  akan memberi anda cara mudah memasang iklan di Google Ads. Bersama-sama membongkar stigma bahwa iklan itu rumit dan mahal. Membuat iklan itu ribet. E-Book ini membuat anda jadi tahu persis langkah-langkah yang harus dilakukan kalau mau memasang Iklan di Google Ads. Jadi jelas, jadi gamblang meskipun anda baru kali ini mau pasang iklan. Atau bagi yang sebenarnya sudah lama baca tutorial nya tapi tidak paham paham juga. Tidak Ngeh Juga. Maka miliki sekarang dan buat iklanmu dengan senang serta  lihat usahamu akan terus berkembang.



Pernahkah anda membayangkan sebuah toko tanpa papan nama? Tanpa promosi,  hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut? Atau sebuah produk Bagus yang tersimpan di Gudang? Tak seorang pun tahu keberadaannya? Mungkin dahulu, hal itu masih bisa bertahan. Namun, sekarang dimana informasi mengalir bagaikan air bah. Bisnis seperti itu tinggal kenangan.

Dengarkan baik-baik, karena ini adalah kebenaran yang hakiki. Di era digital ini, ber iklan bukan lagi sebuah pilihan atau sekadar biaya tambahan. Ber iklan adalah sebuah investasi. Pilar utama yang tak tergantikan dalam mengembangkan usahamu.  Sekecil apa pun itu! Jika anda masih berpikir bisa bertahan tanpa ber iklan, maaf.  Sama saja layaknya membohongi diri sendiri.

Jujur saya katakan. Bayangkan anda sudah mencurahkan waktu, tenaga, bahkan mungkin seluruh tabunganmu untuk membangun bisnismu. Anda sudah menciptakan produk terbaik, memberikan pelayanan prima. Itu laksana sebongkah berlian. Tapi, jika tersimpan di dalam goa yang gelap, tidak akan ada yang tahu, tidak akan pernah ditemukan. Iklanlah  yang mengangkat berlianmu. Iklanlah yang memancarkan kilaunya ke seluruh penjuru, memberitahukan kepada dunia.Ini lo, aku punya sesuatu yang kalian butuhkan!"

Di luar sana, persaingan kian ketat. Setiap hari, ada bisnis baru bermunculan, berusaha merebut perhatian pasar. Jika anda tidak beriklan, anda akan dengan mudah tenggelam dalam lautan informasi. Anda akan tertinggal di belakang, sementara pesaingmu dengan sigap merebut pangsa pasar yang seharusnya bisa menjadi milikmu. Ini bukan tentang siapa yang punya modal paling besar, tapi siapa yang paling cerdas dalam memanfaatkan alat yang ada.



Internet, khususnya Google, telah mengubah lanskap bisnis secara drastis. Jutaan orang setiap detiknya mencari solusi, mencari produk, mencari jasa. Mereka mengetikkan kata kunci yang spesifik: "catering diet sehat terdekat," "kursus bahasa Inggris online," "bengkel motor panggilan." Ini adalah momen emas! Ini adalah saat ketika calon pelangganmu, yang sudah memiliki niat beli, sedang aktif mencari keberadaanmu. Pertanyaannya, apakah anda ada di sana saat mereka mencari? Apakah bisnismu muncul di hadapan mereka, menawarkan solusi yang tepat?

Melalui E-Book ini, kita akan bersama-sama membongkar stigma bahwa iklan itu rumit atau Iklan itu hanya untuk perusahaan besar. Kita akan membuktikan bahwa Google Ads adalah platform yang demokratis, yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap pengusaha, termasuk anda, yang mungkin baru memulai atau memiliki budget terbatas. Anda bisa beriklan mulai dari nominal yang sangat terjangkau, menargetkan pasar yang sangat spesifik, dan yang paling penting, anda bisa mengukur setiap rupiah yang anda keluarkan. Tidak ada lagi iklan "kira-kira", semuanya berbasis data yang jelas.

Jadi, lepaskan keraguanmu. Singkirkan ketakutanmu. Ini bukan lagi era di mana kita bisa "bersembunyi" dan berharap pelanggan datang sendiri. Ini adalah era di mana kita harus aktif menjemput peluang, harus bersahabat dengan iklan, dan menjadikannya sebagai pilar fundamental dalam strategi bisnismu.

Mari kita mulai perjalanan ini bersama. Mari kita nyalakan lampu di goa gelap bisnismu, agar berlian yang sudah anda poles dengan susah payah itu bisa bersinar terang benderang di mata dunia! Siap untuk menjadikan Google Ads sebagai sahabat terbaik bisnismu? Mari kita mulai!



December 02, 2023

Ganjar Pranowo Buka Peluang Bisnis Bakul Sayur Mendunia

Potensi pertanian Indonesia dalam menghasilkan sayur-sayuran dan buah-buahan yang berkualitas tentunya tidak bisa diragukan lagi. Namun, negara ini menghadapi tantangan dalam hal memasarkannya baik di dalam maupun luar negeri. Mengingat negara kepulauan yang luas dan kemampuan untuk menjangkau pasar domestik dan internasional. Tapi… Sogan melihat harapan ini pada kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, maka muncullah Mahni Sindoro yang bercita-cita untuk membuka pasar Dunia bagi para Bakul Sayur dari Nusantara. 


Beberapa Pendekatan komprehensif untuk memasarkan sayuran dan buah-buahan Indonesia secara efektif: 

Berinvestasi dalam Praktik Penanganan Pasca Panen: Terapkan praktik penanganan pasca panen yang tepat untuk meminimalkan kerusakan dan pembusukan. Hal ini mencakup teknik pemanenan yang hati-hati, pencucian dan penyortiran yang benar, serta pendinginan yang cepat untuk mencegah penumpukan panas di lahan. Mendidik petani dan penangan tentang pentingnya penanganan pascapanen yang tepat untuk meminimalkan kerugian dan mempertahankan kualitas produk yang tinggi. 

Optimalkan Bahan Kemasan: Pilih bahan kemasan yang sesuai dengan karakteristik spesifik setiap sayuran atau buah. Misalnya, gunakan kemasan yang dapat menyerap keringat untuk produk yang mengeluarkan etilen seperti apel dan pisang, sedangkan kemasan non-permeabel cocok untuk produk yang sensitif terhadap kelembapan seperti selada dan buah beri. Pertimbangkan alternatif pengganti plastik yang ramah lingkungan, seperti bahan yang dapat terurai secara hayati atau dapat dibuat kompos.

Strategi Pengemasan untuk Pasar Domestik 

Manfaatkan Modified Atmosphere Packaging (MAP):  MAP memperhatikan penggantian udara di sekitar produk dengan campuran gas yang dimodifikasi, biasanya kombinasi nitrogen, karbon dioksida, dan terkadang oksigen. Suasana yang terkendali ini memperlambat proses respirasi dan enzimatik, sehingga memperpanjang umur simpan buah dan sayuran. MAP sangat efektif untuk sayuran berdaun hijau, buah beri, dan produk-produk lain yang mudah rusak. 

Kantong Plastik Berlubang: Untuk buah-buahan dan sayuran yang tidak terlalu sensitif, kantong plastik berlubang menawarkan solusi sederhana dan hemat biaya. Perforasi memungkinkan terjadinya pertukaran gas, mencegah penumpukan etilen, hormon yang dapat mempercepat pematangan dan pembusukan. Kantong berlubang cocok untuk apel, jeruk, dan buah keras lainnya. 

Wadah yang Dapat Digunakan Kembali: Wadah yang dapat digunakan kembali memberikan alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan terhadap kemasan plastik sekali pakai. Mereka sangat cocok untuk menyimpan sayuran akar, kentang, dan bawang. Dengan mempromosikan wadah yang dapat digunakan kembali, Anda dapat mendorong konsumen untuk mengurangi limbah dan menerapkan praktik berkelanjutan. 

Prioritaskan Manajemen Rantai Dingin: Membangun sistem rantai dingin yang kuat untuk menjaga suhu rendah secara konsisten di seluruh rantai pasokan. Hal ini penting untuk produk yang sensitif terhadap suhu, mencegah pembusukan dan menjaga kualitas selama transportasi, penyimpanan, dan distribusi eceran. Memanfaatkan wadah berpendingin, kendaraan, dan fasilitas penyimpanan untuk memastikan kontrol suhu optimal. 



Strategi Pengemasan untuk Pasar Internasional 

Pengemasan Aktif: Teknologi pengemasan aktif memasukkan komponen tambahan ke dalam bahan pengemas untuk secara aktif mengendalikan lingkungan di sekitar produk. Komponen-komponen ini dapat menyerap etilen, melepaskan zat antimikroba, atau menjaga tingkat kelembapan, sehingga memperpanjang umur simpan dan memastikan kualitas produk selama pengangkutan jarak jauh. 

Controlled Atmosphere Storage (CAS): CAS melibatkan penyimpanan buah-buahan dan sayuran dalam lingkungan tertutup dengan suhu, kelembapan, dan komposisi gas terkendali. Metode ini sangat efektif untuk penyimpanan jangka panjang dan secara signifikan dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan tertentu, seperti apel, pir, dan buah kiwi dll. 

Manajemen Rantai Dingin: Membangun infrastruktur rantai dingin yang kuat sangat penting untuk menjaga integritas produk di seluruh rantai pasokan. Hal ini mencakup fasilitas penyimpanan berpendingin, kendaraan transportasi berinsulasi, dan sistem pemantauan suhu yang tepat. 

Strategi Perluasan Pasar: 

Fokus Pasar Domestik: Menargetkan konsumen dalam negeri dengan meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan produk-produk Indonesia. Memperluas jaringan distribusi untuk menjangkau daerah pedesaan dan terpencil, dan mendorong konsumsi lokal melalui kampanye dan inisiatif. 

Eksplorasi Pasar Ekspor: Mengidentifikasi peluang ekspor produk Indonesia di pasar internasional. Melakukan riset pasar untuk memahami preferensi konsumen dan persyaratan peraturan di pasar sasaran. Berpartisipasilah dalam pameran dagang dan pameran untuk memamerkan produk-produk Indonesia. 

Kemitraan dan Kolaborasi: Berkolaborasi dengan produsen lokal, perusahaan pengemasan, penyedia logistik, dan lembaga pemerintah untuk mengembangkan dan menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Memanfaatkan kemitraan untuk mengakses keahlian, sumber daya, dan jaringan pasar. 

Pencitraan Merek dan Story Telling: Mengembangkan identitas merek yang kuat yang mencerminkan kualitas produk-produk Indonesia, dengan menekankan kualitas unik, praktik keberlanjutan, dan signifikansi budayanya. Ciptakan narasi menarik yang menonjolkan asal usul, kesegaran, dan cita rasa buah dan sayuran Indonesia. Pelabelan yang informatif harus mencakup informasi produk, petunjuk penyimpanan, dan fakta nutrisi. 

Ketertelusuran dan Sertifikasi: Menerapkan sistem ketertelusuran untuk melihat asal dan perjalanan produk Indonesia, memastikan transparansi dan kepercayaan konsumen. Dapatkan sertifikasi dan akreditasi untuk kualitas, keamanan, dan praktik berkelanjutan untuk meningkatkan kredibilitas pasar. 

Pemasaran Bertarget: Identifikasi segmen pasar tertentu dan sesuaikan strategi pemasaran. Misalnya, mempromosikan produk organik kepada konsumen yang sadar kesehatan atau menonjolkan cita rasa unik dari produk-produk Indonesia kepada para pecinta kuliner. 

Kemitraan dengan Pengecer: Berkolaborasi dengan pengecer untuk memastikan penanganan dan pemajangan produk Indonesia yang tepat di toko. 

Sertifikasi Ekspor: Dapatkan sertifikasi yang diperlukan dan patuhi peraturan ekspor untuk memastikan kelancaran akses ke pasar internasional.



 

June 25, 2021

Harmen Batubara Penulis Dari Daerah Perbatasan



Buku buku Tentang Perbatasan & Bisnis Online Yang Bisa dimanfaatkan Dari Perbatasan,Beli Dua"BEBAS ONGKIR"




Bagi  sahabat yang tertarik Masalah dan Dinamika Wilayah Perbatasan…bisa melihat Koleksi  Buku dan Literasi Kita terkait Perbatasan Di sini..Semoga bermanfaat…Dalam hal hubungan Internasional, masalah teritorial merupakan salah satu penyebab klasik munculnya konflik antar negara dan menjadi ancaman abadi bagi perdamaian serta keamanan internasional Tapi anehnya, tidak semua Negara dengan benar-benar membenahi perbatasannya. Bahkan banyak Negara yang menempatkan penegasan perbatasannya pada Lembaga/Kementerian yang justeru awam dengan masalah perbatasan itu sendiri. Indonesia bisa digolongkan pada Negara yang seperti itu. Padahal semua paham bahwa ketidakjelasan batas territorial; merupakan salah satu hal, menjadi faktor laten penyebab munculnya sengketa perbatasan yang akan mengganggu stabilitas hubungan antarnegara. Hal seperti itu sudah bukan lagi rahasia umum, boleh dikatakan 85% Negara di Dunia ini mempunyai permasalahan perbatasan dengan Negara tetangganya.



Bagi  sahabat yang tertarik Masalah dan Dinamika Wilayah Perbatasan…bisa melihat Koleksi  Buku dan Literasi Kita terkait Perbatasan Di sini..Semoga bermanfaat…Dalam hal hubungan Internasional, masalah teritorial merupakan salah satu penyebab klasik munculnya konflik antar negara dan menjadi ancaman abadi bagi perdamaian serta keamanan internasional Tapi anehnya, tidak semua Negara dengan benar-benar membenahi perbatasannya. Bahkan banyak Negara yang menempatkan penegasan perbatasannya pada Lembaga/Kementerian yang justeru awam dengan masalah perbatasan itu sendiri. Indonesia bisa digolongkan pada Negara yang seperti itu. Padahal semua paham bahwa ketidakjelasan batas territorial; merupakan salah satu hal, menjadi faktor laten penyebab munculnya sengketa perbatasan yang akan mengganggu stabilitas hubungan antarnegara. Hal seperti itu sudah bukan lagi rahasia umum, boleh dikatakan 85% Negara di Dunia ini mempunyai permasalahan perbatasan dengan Negara tetangganya. Apalagi kalau hal itu kita lihat dibelahan Asia, hampir semua Negara punya masalah perbatasan dengan Negara tetangganya. Sebut saja nama negarnya, misalnya China atu Tiongkok, Negara ini punya permasalahan batas dengan India, dengan Jepang, dengan Korea Selatan, dengan Malaysia, dengan Brunai, dengan Vietnam, dengan Filipina. Indonesia sendiri mempunyai masalah perbatasan dengan sepuluh (10) Negara tetangganya dan selalu bermasalah dengan kedaulatan perbatasannya.

 


Kalau ingat perbatasan, maka saya juga akan mengingat kehidupan masa kecil saya. Masa kecil yang menyenangkan. Menyenangkan dalam suasana kesederhanaan. Kesederhanaan Desa terpencil bagai di perbatasan. Sebagai penulis, saya tidak akan pernah lupa nasihat guru SR ( Sekolah Rakyat, kini SD), guru idola saya  lima puluhan tahun lalu. Ketika itu kita masih di kelas 3 SR. Setiap ada kesempatan beliau selalu memberi motivasi dan selalu menyemangati. Kalau kalian ingin jadi murid bapa dan berhasil, maka inilah tugas-tugas yang harus kalian lakukan dengan baik. Pertama, kalian harus bisa pelajaran tambah, kali dan bagi mulai dari satu sampai 10 di luar kepala. Kedua, kalian harus bisa menunaikan shalat, dan bisa jadi imam dalam melaksanakan shalat. Ketiga, kalian harus bisa “berpidato” di depan kelas. Keempat, kalian harus bisa menuliskan “ceritra” dengan baik dan enak dibaca dan bisa menceritrakannya dan enak didengar.

Bagi kalian yang ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, maka kalian harus bisa dan jadikan ini sebagai modalmu. Kamu akan bisa hidup senang di kampungmu ataupun kalau kamu merantau. Pertama, kamu harus bisa menanak nasi. Menanak nasi dengan benar, mulai dari persiapan kayu bakarnya (waktu itu belum ada kompor, yang ada baru kayu bakar) hingga menghidangkannya. Kedua,  bisa mencuci dan menyetrika pakaian kalian sendiri (sterika juga masih pakai arang kayu atau batok kelapa, belum ada listrik). Ketiga, bisa naik sepeda (kala itu belum ada sepeda motor,sepeda juga model sepeda ontel besar). Keempat, bisa menjadi penjual”Es lilin” jajanan yang berhasil (kala itu es lilin dalam termos, Es bisa dijajakan dan kalau laku kita dapat komisi). Kelima, kalian harus bisa jadi “penyadap karet” yang baik;  Sebetulnya yang paling menarik dari ceritra beliau itu adalah ilustrasi di setiap ketrampilan yang dijelaskannya.

Kalau semua ini kalian bisa lakukan dengan baik, maka percaya sama bapa kamu akan bisa sekolah ke mana saja, ke negeri mana saja dengan “kekuatan kamu” sendiri. Sejak itu apa yang disampaikan Guru saya itu…betul-betul menjadi azimat yang saya pelajari dan ikhtiarkan agar bisa saya wujutkan; bahasa masa kininya mewujudkannya secara professional, ahli dan jadi trampil dalam bidang yang ada di lingkungan kita berada. Logikanya. Kalau kita punya ketrampilan yang sesuai atau dibutuhkan oleh lingkungan kita sendiri, maka tidak terasa kita sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan, merasa dihargai dan diterima oleh lingkungan. Dalam kondisi seperti itu kita percaya dan yakin semua “jalan, semua ketrampilan adalah Emas”. Saya sangat ingin menyampaikan pesan-pesan beliau itu kembali dalam versi Catata Blog Seorang Prajurit Perbatasan dengan bahasa  apa adanya…

 

Harmen Batubara Penulis Dari Daerah Perbatasan

Melihat desa tertinggal di perbatasan tentu tidak semua orang dapat “melihatnya”, karena untuk bisa melihat ketertinggalan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang tahu makna “tertinggal” itu sendiri. Desa tertinggal itu, ya jauh darimana-mana. Secara fisik desa itu baru dicapai setelah melakukan “perjalanan kaki”, selama satu atau dua hari, karena memang akses jalannya belum ada. Di sepanjang jalan kaki itu, sama sekali tidak ada “warung”. Karena memang semuanya masih berupa hutan dan hutan belukar. Kemudian sampailah anda ke perkampungan tertinggal itu. Ya benar-benar kampung apa adanya. Warung sudah ada, tetapi yang di jual hanya sebatas, beras, garam dan berbagai super mie serta jajanan anak-anak berupa permen dan sejenisnya. Rokok memang ada, tetapi lebih banyak jenis tembakau dan kertas linting. Pendek kata hanya sepertiga dari keperluan sehari-hari,mereka bisa beli juga karena masih bisa dengan cara barter. Jual kelapa, kemudian beli minyak tanah dst.dst.

Berikut Buku-Buku Yang Saya Tulis

Nama Buku

Nama Buku

BumDes & BumNas Sinergis Rakyat Sejahtera

Pengamanan Perbatasan

Seleksi Masuk SeskoaD

Kopi Mandheling Lungun NasoRaSasa

Membaca Strategi Perbatasan Jokowi

Membangun Pertahanan Negara Kepulauan

Formula Sukses Bisnis Affiliasi

Batas Laut Profil Perbatasan Indonesia

Membangun Halaman Depan Bangsa

Ketika Tugu Batas Digeser

Ketika Semua Jalan Tertutup

Rahasia Sukses Penulis Preneur

7Cara Menulis Artikel Yang Disukai Koran

Persiapan Tes Masuk Prajurit TNI

Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah

Setiap Asa Bertabur Nikmat

 

Batas Negara Indonesia

Menangkan PilkadaMu

Pengelolaan Wilayah Pesisir

Mendirikan &Membangun BumDes

10 Langkah Efektif Memenangkan Pilkada

Perbatasan Tertinggal&Diterlantarkan

Formula GapTek 10 Jt Perbulan

Tapal Batas Profil Perbatasan Indonesia

Pertahanan Kedaulatan di Perbatasan

Cara Mudah Cari Uang di Clickbank

Cinta Ujung Negeri

Strategi SunTzu Memenangkan Pilkada

Papua Kemiskinan Pembiaran&Separatisme

Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Penetapan& Penegasan Batas Negara

Bila di diskripsikan dengan kata-kata masyarakat pedesaan perbatasan terpencil adalah masyarakat yang relatf tertutup, mempunyai ketergantungan kuat dengan alam. Melakukan kegiatan produksi yang bersifat subsistence atau peramu, sekedar mengambilnya dari alam dengan mata pencaharian serabutan. Tidak ada atau  memperoleh pelayanan sosial yang sangat minim, menyebabkan tumbuhnya tingkat kualitas SDM yang relatif sangat rendah. Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat pedesaan terpencil, khususnya masyarakat adat, mampu menghasilkan produk budaya berkualitas tinggi seperti ukiran suku Asmat, tato suku Mentawai, pengelolaan hutan yang harmonis suku Baduy, dll.


Ketika Wisuda di UGM 

Saya masih ingat kehidupan dikampung saya di Aekgarugur, Tapanulis Selatan di tahun-tahun 60 an. Kampung yang menghubungkan jalan raya provinsi dengan Kampung Sipotang Niari (± 20 km) lewat tengah hutan dan persawahan. Jalan memang sudah ada, tetapi masih sebatas diperkeras, hanya bisa dilewati oleh Pedati, kuda beban dan sepeda ontel. Geliat ekonomi ada, dan warung-warung di sepanjang jalan itu sudah hidup terutama oleh pelaku usaha “transportasi”, di sana sudah kita temukan tempat-tempat warung untuk pangkalan Pedati, ada pula tempat persinggahan bagi para pemilik kuda beban dan juga bagi para pelaku transportasi sepeda ontel para pemikul barang. Mereka membawa hasil bumi (padi, kopi,karet dll) dari sawah, kebun ke perkampungan di sepanjang jalan tersebut, dan kemudian membawa keperluan primer sehari-hari dan sekunder lainnya dari Kampung Aekgarugur atau Sayurmatinggi ke kampung-kapung sepanjang jalan ke Sipotang Niari. Layanan dari pemerintah masih sangat terbatas, belum ada listrik, lokasi sekolahan 4km dari kampung, tidak ada puskesmas tapi untunglah terdapat satu Rumah Sakit di Sayurmatinggi. Jadi kalau ada yang sakit dari desa Sipotang Niari maka cara membawanya adalah dengan ditandu cara sederhana. Kain sarung diusung dengan tiang bambu sebagai tandu, sipesakitan di tidurkan untuk kemudian diusung oleh dua orang, biasanya ada dua pasang tenaga “ganti” yang secara terus menerus bergantian. Jalan 20 km dengan mengusung orang sakit secara bergantian dan marathon adalah sesuatu yang biasa kala itu dan hal itu membutuhkan waktu satu sampai dua harian penuh. Sementara Rumah Sakitnya juga kira-kira setara dengan Puskesmas sekarang ini.

Meski tinggal di kampung terpencil, tetapi ke sekolah terus saja berlanjut. Sejujurnya saya juga tidak mengerti mengapa saya masih terus saja sekolah, padahal jumlah anak SR di sekolahan saya itu hanya tinggal 9 anak lagi, itupun sudah dari berbagai kampung tetangga. Dari kampung saya sendiri hanya tinggal saya saja, yang masih sekolah. Tetapi hebatnya lagi, saya ikut dua sekolah. Pagi jadi murid di SR dan Sore hari ikut Sekolahan Agama. Praktis semua teman-teman di kampung sudah tidak ada lagi yang bersekolah, saya juga sebenarnya ingin juga seperti mereka. Tapi kedua orang tua tidak pernah meminta saya untuk berhenti, dan saya terus melakoninya begitu saja.


Saat Belajar di Fort Belvoir Virginia USA

Sehabis di SR saya harus ikut dengan keluarga ke Kotanopan untuk bersekolah di SMP Kotanopan. Padahal jarak dari Kampung ke Kotanopan itu sekitar 80 Km. Meski jaraknya 80 km, tetapi pada masa itu harus di tempuh selama satu hari perjalanan dengan mobil antar Kota. Namanya mobil Adianbania. Mobil itu memang setiap hari ada 5 trayek dari Kotanopan-Padangsidimpuan. Mereka dari Kotanopan pada pagi hari, mulai dari jam 05.00 pagi dan pulang lagi dari Padangsidimpuan kembali ke Kotanopan. Nah kalau saya naik dari Kampung saya misalnya jam 09.00, saya harus jalan kaki dahulu sejauh 2 km ke pinggir jalan, menunggu Adianbania dari Padangsidimpuan dan baru sampai di Kotanopan Jam 17.00. Tamat dari SMP Kotanopan, saya kemudian melanjutkan ke SMA Kotanopan. Tetapi sayangnya, saya harus dipindahkan ke SMA Padangsidimpuan, karena kebetulan dari anak-anak SMA klas satu naik ke kelas dua ada 4 orang anak yang masuk katagori jurusan Pas/Pal. Saya termasuk salah satunya. Untungnya semua keperluan perpindahannya diatur oleh sekolahan. Jadi saya resmi menjadi Anak kelas II Pas/Pal di SMA 2 Padangsidimpuan. Saya sangat menikmati suasana sekolah saya di Padangsidimpuan. Karena setiap sabtu sore saya bisa pulang ke Aekgarugur (± 30km) dan besok paginya saya bisa manderes karet. Jadi tiap minggu saya bisa dapat uang sendiri dari manderes karet uang setara RP75 -100 ribu. Dalam pergaulan saya, saya ikut Klub Boxing, dan pelari Marathon. Nah yang juga menarik adalah setamat SMA dan perubahan sikap mencari Pendidikan Berikutnya.

Terus terang, saya tadinya tidak punya niat untuk kuliah lagi. Hal itu disebabkan keuangan orang tua dan juga belum ada contohnya anak yang berhasil kuliahnya di Kampung saya. Malah sebaliknya mereka telah menghabiskan semua kebun dan sawah orang taunya, tetapi sekolah juga tidak selesai-selesai. Tetapi sekitar dua minggu sebelum pengumuman kelulusan SMA, saya main ke sekolahan saya. Saat itulah saya baru sadar bahwa sebagian besar teman-teman saya sudah pada punya rencana kuliah. Mereka umumnya ke Medan, Padang, Palembang da nada juga yang ke Jakarta, Bogor dan Yogyakarta. Pada saat itulah hati saya berguncang, dalam hati saya sangat yakin bahwa dengan ketrampilan hidup ( bisa menderes karet, bisa bersawah, bisa berkebun, bisa berjualan sayur mayur dengan sepeda, bisa berjualan minyak tanah dengan sepeda dll) yang sudah saya lakoni di Kampung saya, maka saya percaya saya akan mampu menghidupi diri saya sendiri dan bahkan yakin mampu mengkuliahkan diri sendiri, dimanapun kotanya. Pulang dari Sekolahan niat itu saya bicarakan dengan keluarga. Intinya adalah, keluarga mau mendukung Kuliah ke Yogya dengan Rp 15 ribu serta mampu membiayai sebesar Seribu rupiah perbulan. Waktu itu harga beras masih sekitar 30 rupiah/Kg. Jadi perhitungan saya dengan besar 10 kg atau Rp 300 dan dengan uang Rp 700 lainnya saya akan bisa hidup di Yogya dengan pola saya sendiri. Maka kesampaianlah cita-cita saya untuk meneruskan Kuliah ke Yogyakarta. Soal gimana nantinya? Yan anti sajalah dibicarakan. Toh kalau misalnya gagal juga, ya kembali ke Kampung. Begitu saja.

Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak langsung. Tapi ini untuk setting ceritra tahun tahun 70an. Itu menurut saya adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan “abang-ijo” di perempatan jalan. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekat. Tidak berbeda dengan anakan penyu yang meluncur ke laut, dari ribuan yang berlari yang sampai hanya beberapa. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu, hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuan  Yogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu. Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.


Ketika Mampir di Pos Pam Tas Indonesia-Timor Leste

Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Bagaimana anak kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan. Banyak dari teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi pengaruh yang berlebihan bagi perjalanan nasibku. Sangat bersyukur karena meski dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat itu sebuah pencapaian luar biasa. Apalagi bagi seorang siswa lulusan SMA pedalaman dari Sumatera. Tetapi dengan uang satu ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Tantangannya nyata dan sungguh luar biasa.

Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi, menurut saya pas. Misalnya dalam mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya. Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan, yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code kala itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas itu jauh lebih baik dari di Kampung. Waktu itu saya malah dapat tempat kost yang tidak perlu bayar apa-apa.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang harga beras waktu itu per kilonya masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat percaya jalan pasti ada. Saya  yakin sekali, jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya belum tahu. Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak mengganggu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya, bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada di sana. Cuma bagaimana memulainya.

Ketika Belajar di Australia

Saya beruntung dan tergolong anak anak yang mudah beradaptasi, dan dengan cepat saya mendapatkan tugas sebagai pembersih dan penunggu “kantor” RW. Sebagai petugas RW saya boleh memakai sarana itu kapan saja, tugas saya hanya merawat kantor, mengetikkan dan menyampaikan surat-surat dinas dan undangan. Entah bagaimana ceritanya, pak RW malah membolehkan saya tinggal di situ, lengkap dengan makan minum gratis di warung yang ada di dekat kantor itu. Coba bayangkan, alangkah murahnya hati pak RW itu. Tuhan menolongku lewat kebaikan hati pak RW. Sederhananya saya dapat pekerjaan jadi penjaga dan merawat kantor RW tanpa upah, tetapi sebaliknya saya bisa tinggal di kantor itu dan dapat makan. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan, itu saya peroleh ketika saat mandi di pinggiran kali code.

Sungguh saya sangat bersyukur karena “tangan Tuhan” memberikan saya begitu mudahnya dan semuanya. Tempat tinggal dengan semua sarananya, malah ada listrik, air ledeng dan mesin tik kantor yang bisa saya pakai sampai pagi. Padahal umumnya warga di kampong itu ya hanya dengan lampu teplok dan air sumur. Waktu itu, sasaran dan tekad saya hanya satu jadi penulis. Menulis untuk mendapatkan honor bagi kelanjutan kuliah. Sebagai mahasiswa UGM akses ke perpustakaan terbuka lebar, bahan bacaan saya melimpah. Saya terus menulis, menulis, menulis dan menulis. Menulis dengan mesin tik sebelas jari setiap ada kesempatan.

Sampai suatu hari setelah enam bulan mengetik tulisan siang  dan malam. Salah satu tulisan saya dimuat di Koran dua mingguan EKSPONEN YOGYAKARTA. Aduh senangnya bukan main. Rasanya dunia ini jadi begitu indah. Saya lalu mengajak anak pak RW mengambil honor tulisan itu di jalan KH Dahlan. Memang besarnya hanya 500 rupiah, dan honor itu sendiri saya berikan ke anaknya pak RW. Maka sontak di desa itu nama saya jadi buah bibir dan terkenal, mahasiswa UGM itu ternyata pintar juga menulis. Tetapi yang lebih heboh lagi, dua minggu kemudian, koran Sinar Harapan Jakarta memuat tulisan saya dengan honor 27.500 rupiah begitu juga dengan Surabaya Post dengan honor 30.000 rupiah. Setelah itu tulisan saya sudah ada dimana-mana. Bayangkan teman-teman saya umumnya hanya punya wessel antara 15-25 ribu perbulan sementara saya sudah punya penghasilan dengan rata-rata 30 ribu perbulan.

Saya menikmati kehidupan masa muda saya di Gondolayu selama dua tahun. Pada tahun ke tiga saya sudah bisa menyewa kamar di Jetis Harjo tepat di depan Teknik Geologi UGM waktu itu. Sebagai mahasiswa penulis saya juga sudah punya sepeda motor, dan bisa membayar berbagai kebutuhan saya sebagai mahasiswa Yogya.  Setelah saya memasuki kuliah di tahun ketiga, maka dunia kepenulisan telah mulai memudar karena digantikan oleh dunia survei dan pemetaan. Dari segi penghasilan, tantangan kerja di lapangan ternyata dunia survei lebih menantang. Menulis bagi saya waktu itu hanyalah jadi selingan, sementara kehidupan saya sudah sepenuhnya di topang oleh pekerjaan survei dan pemetaan. Apalagi waktu itu saya juga diangkat sebagai Chief Surveyor untuk lembaga penelitian kerja sama UGM dan KemenPU dalam hal penelitian persawahan Pasang Surut. Kehidupan mahasiswa saya sangat mennyenangkan. Mandiri, penuh dinamik dan antusiasme.

Prajurit Dengan Gaji Terbatas

Setelah lulus Geodesi UGM, mencari pekerjaan masih tergolong Mudah. Kalau di perusahaan cuku Telpon Perusahaannya dan pekerjaan selalu Ada. Saya malkukannya dan sempat beberapa bulan kerja di perusahaan Swasta. Begitu juga kalau mau jadi PNS masih tergolong mudah. Hanya saja memang harus seperti “magang” dahulu. Maksudnya  Kementerian itu mau menerima, tetapi waktunya kan pada bulan-bulan tertentu. Jadi sebelum bulan itu datang, kita jadi “magang” dulu dengan mereka dengan upah sebesar 30% dari Gaji. Sekedar untuk bisa ongkos ke Kantor. Kebetulan saya dipanggil untuk ikut Wajib Militer. Maka jadilah saya prajurit TNI. Tetapi jadi prajurit gajinya juga terbatas, artinya kalau mengandalkan Gaji saja tidak cukup.


Bersama Keluarga

Saya lalu ingat besaran gaji saat memulai meniti karier di TNI dahulu. Ya di tahun-tahun 1980an. Sebagai seorang perwira pertama dengan pangkat Letnan Satu total gajinya, sebesar Rp 90 ribu. Itu sudah termasuk ULP ( Uang Lauk Pauk). Artinya itulah semua. Hal yang sama untuk personil Pollri dan PNS, kalaupun beda besarnya kecil sekali. Tentu berbeda dengan karyawan swasta. Kalau perusahaanya baik, ya gajinya besar tetapi kalau perusahaanya biasa saja, maka gajinya juga menyesuaikan. Tetapi tetap penghasilannya masih lebih baik. Untuk menyicil Rumah BTN atau katakanlah Sewa rumah, waktu itu, sebesar Rp60 ribuan/bulan. Bisa dibayangkan bagaimana sisa uang Rp30 ribu itu bisa membiayai makan, pakaian, sekolah anak-anak dan transportasi kekantor dll dalam sebulan. Dalam kondisi keuangan seperti itu, kita juga harus menjaga “road Map” jenjang karier kita. Bagaimana kau bisa tampil sehat, kerja bersemangat dan dapat penilaian baik dari atasanmu? Terus terang tidak banyak yang bisa lolos dengan baik dalam hal seperti ini. Intinya adalah kau harus bisa mencukupi keperluan harian keluargamu terlebih dahulu dan kemudian baru bisa bertugas dengan baik di tempatmu bekerja. Kau harus paham dengan Pareto 80/20.  Tapi bagaimana kau melengkapi keperluan keluargamu? Itulah tantangannya.

Pada masa itu banyak sekali hal yang dilakukan oleh mereka-mereka yang mempunyai persoalan seperti ini. Ada yang nyambi jadi sopir angkot setelah selesai jam kerja. Ada yang buka warung di rumah kontrakannya. Ada juga yang membuka “lesehan” semacam pecel lele dan mengajak teman patungan. Ada yang jadi guru les privat, ada yang jadi petugas “ keamanan” di berbagai tempat usaha atau kegiatan malam. Biasanya para anggota prajurit/Polri yang punya “pergaulan” bisa memanfaatkan jejaring seperti ini. Bisa dibayangkan, bagaimana kinerja mereka ditempat kerjanya, kalau semalaman tidak tidur. Ada juga yang jadi “pengamanan” truk. Jadi anggota prajurit/polri itu sehabis kerja ikut duduk di kenderaan Truk. Dll ternyata dinamika kehidupan itu sangat “responsip”, banyak sekali ragamnya, sulit untuk mengatakannya satu persatu. Bahkan ada banyak yang juga bisa melihat peluang ditengah-tengah kondisi ekonomi seperti itu.

Pada zaman itu, setiap instansi yang memiliki peralatan yang banyak diminati oleh masarakat atau pengusaha (alasan, untuk membantu biaya pemeliharaan)  masih diperbolehkan untuk menyewakannya. Misalnya jajaran Kementerian PU, mereka boleh menyewakan alat-alat eskapator, stoom walls dsb. Begitu juga TNI., satuan yang mempunyai alat-alat berat seperti itu atau alat-alat “pemetaan”  bisa menyewakannya. Peluang ini sesungguhnya sangat “baik” dan bisa dimanfaatkan oleh anggota prajurit itu sendiri. Saya pernah melihat seorang prajurit bisa “menyewakan” alat-alat pemetaan dari satuan TNI terdekat kepada koleganya di seluruh Nusantara. Karena memang satuan itu ada di setiap Kodam, boleh dikatakan ada di setiap provinsi. Memang “komisi”nya tidak besar, dalam artian sang parjurit tersebut juga harus memikirkan nama baiknya dan nama satuannya. Tetapi yang jelas, kalau bisa memanfaatkannya dengan baik maka ada “pemasukan” yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut.

Hal lain juga sangat khas, khususnya pada prajurit TNI/Polri dan PNS yang bisa berbahasa inggeris atau bahasa lain seperti Jerman, Belanda Dll. Pada masa itu masih sangat banyak kesempatan untuk bisa mengkuti “pendidikan” di luar negeri. Kelebihannya pendidikan di luar negeri apa? Pertama sesuai dengan jenjang kariernya, karena secara langsung bermanfaat untuk meningkatkan SDM di tempat dia bekerja. Penilaian kantornya pasti bagus. Hal lain yang lebih menarik lagi adalah honor yang diterima saat mengikuti pendidikan tersebut. Misalnya untuk prajurit TNI/Polri (waktu itu masih bersatu) dalam satu hari pendidikan di luar negeri minimal mereka memperoleh $10 dari TNI dan $14 dari Kementerian Pertahanan belum lagi dari Negara yang menyelenggarakannya. Besarnya tidak mesti tetapi biasanya sudah menyediakan semua fasilitas dan sarana selama pendidikan. Mulai dari apartemen, makan minum, rekreasi dan uang saku. Artinya kalau prajurit tersebut mau berhemat maka ia akan dengan mudah memperoleh $24-$35 perhari selama ia mengikuti pendidikan. Umumnya mempunyai rentang waktu antara 3-6 bulan. Kalau di hitung dengan kurs pada waktu itu, setara dengan Rp24-35 ribu perhari. Bayangkan dengan gaji yang hanya Rp90 ribu per bulan. Peluang yang sungguh tidak dinyana. Terus terang penulis juga ikut memanfaatkan kesempatan ini. Dari beberapa Sekolah ke dinasan saya, hanya dua yang saya ambil dalam negeri selebihnya saya ambil di luar. Mulai dari Amerika, Autralia, dan Inggeris. Berkat dengan semangat itu. Saya bisa belajar di  Mapping Charting And Geodesy Course (DMA,USA,1984) ; Map Control Survey Course (Aust,1988); Mapping And Manegement Border Area Course (Aust,1993); Rasvy Regimen tal Officer Course (Aust,1994) dan MBA (Leicester Univ, 1998)

 

Hari hari yang menyenangkan dengan keluarga

Hal lain yang memungkinkan bisa dikerjakan oleh anggota prajurit/Polri atau PNS adalah menulis. Ya menulis untuk mengejar Honor. Besaran honor menulis pada waktu itu jauh labih besar daripada saat ini. Kenapa saya berani bilang begitu? Pada masa-masa itu harga satu artikel untuk harian sekelas Kompas, Sinar Harapan dan Surabaya Post bisa mencapai antara Rp27.500-35.000. Sementara Koran-koran Lokal seperti Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Merdeka, Yudhagama Dll bervariasi mulai dari Rp 1.500-3.500 per artikel. Jadi dengan bisa menulis 2 artikel dalam sebulan di harian sekelas Sinar Harapan, atau Surabaya Post, atau Kompas ditambah dengan 4 artikel di harian lokal maka anda bisa memperoleh Rp 50.000-65.000. lumayan kan? Bandingkan dengan gaji yang sebesar Rp 90.000 perbulan. Penulis sendiri, pada waktu itu juga memanfaatkan kemampuan menulis untuk mencari penghasilan tambahan. Saya kebetulan di ajak teman untuk bergabung dengan Majalah Elektronika di Bandung. Disamping menjadi anggota redaksi tersebut, saya juga menjadi penulis buku. Saya punya kesepakatan dengan Penerbit. Waktu itu, setiap naskah buku yang saya serahkan saya dibayar Rp 1.000.000 ( satu juta ). Dengan catatan, besarnya honor penulisan 12.5 % dari harga buku. Jadi besaran satu juta itu adalah pembagian honor yang dibayarkan di depan, yang nantinya akan diperhitungkan kemudian. Kesepakatannya biaya itu, adalah biaya untuk membantu penulisan; seperti biaya untuk pembelian buku-buku referensi dan kebutuhan lainnya.

 

 

October 12, 2020

Perbatasan : Pulau Sebatik Ikon Kota Perbatasan





 Pulau Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Sebagai bagian dari provinsi Kalimantan Utara banyak orang menghayalkan bahwa suatu saat Sebatik akan jadi Singapura nya Kaltara. Bukan tidak ada alasan, pulau Sebatik berada di pertigaan wilayah Malaysia-Brunai dan Filipina. Tetapi apapun itu, sebatik sebenarnya adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Dia tidak saja sebagai beranda depan Bangsa, tetapi ia layak dan perlu dijadikan “role model” bagi pengembangan pulau-pulau terluar. Dahulu Kemenhan dan Kementerian Kelautan dan Kemenhub mencoba untuk mengangkat  Pulau Nipah, Batam sebagai salah satu model bagi pengembangan pulau terluar dengan titik berat eknomi dan pertahanan. Pemerintah lewat KemenPU kemudian mereklamasi pulau Nipah dan jadilah ia seperti yang sekarang.Tapi sebenarnya belum bisa memberikan makna apa-apa, kecuali sedikit dari sisi pertahanan.


Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Kali ini saya menulis tentang pengembangan pulau Sebatik ke depan, dengan jalan melihat pulau itu sejak abat ke 16, bagaimana posisinya terhadap Tawau. Dengan mengetahui sedikit banyak tentang realitas tersebut maka para perencana nantinya akan bisa memberikan ciri khas yang sesuai bagi pengembangan pulau Sebatik jadi Kota Perbatasan. Dari sisi pertahanan Malaysia jelas sudah menjadikan Tawau sebagai Armatim atau Armada Timur (pangkalan utama Angkatan Laut nya), sementara Indonesia tidak punya ide terkait untuk itu, meski memang akan ada rencana pembangunan satu brigif di Nunukan. Tetapi masih jauh dari sepadan. Kalau Malaysia punya dua Lanud di Tawau dengan panjang runway 3000 meter, nampaknya Indonesia baru Punya Sepinggan. Sementara Tarakan, Nunukan, Malinau, Putu Sibau bandaranya baru kelas sedikit diatas “perintis”.

Belanda Juga Diusir Inggris Dari Tawau. Dalam catatan penulis, awal mula etnis pertama yang bermukim di Pulau Sebatik adalah etnis Tidung, Mereka bermukim di Pulau Sebatik bermula sekitar tahun 1912, saat mereka membuka desa Setabu atas perintah Sultan Tidung. Cerita itu sudah kita dengar dari mulut ke mulut. Termasuk dari Kepala desa Stabu sendiri (2011) saat penulis melakukan penelitian lewat Universitas Pertahanan di wilayah itu. Waktu itu, beliau menambahkan bahwa ia merupakan keturunan langsung dari orang pertama yang membuka daerah Pulau Sebatik untuk permukiman. Etnis yang menjadi mayoritas di Pulau Sebatik saat ini bukanlah etnis Tidung tetapi Bugis. Bugis menjadi etnis mayoritas dengan jumlah mencapai 70% dari keseluruhan populasi Pulau Sebatik. Etnis Jawa menjadi etnis kedua terbesar, disusul etnis Tidung, Dayak Agaba, Timor, dan Lombok. Kemudian saya juga mendapati bahwa  Ambo Mang bin Haji Midok diyakini sebagai orang pertama yang membawa keluarganya menetap di Sebatik pada 1940, tepatnya di daerah Liang Bunyu.
Tapi jauh sebelum itu pada  Abad ke 17, kongsi dagang Hindia Belanda VOC sudah mulai memperluas wilayah koloni mereka ke Borneo Timur atau Kalimantan Utara. Pada tahun 1635 Garit Thomasen Pool untuk pertama kalinya diutus Pemerintah Hindia Belanda berkunjung ke Kaltara untuk melakukan kontak dagang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara, tetapi usaha ini tidak berhasil. Pada Tahun 1671 Belanda mengutus lagi Paoelos De Bock dengan kapal Chiolop de Noorman melakukan perluasan wilayah koloni ke Kalimantan Utara. Mereka melakukan kontak dagang dengan kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong.

Pada tahun Tahun 1672 Frans Heys dengan tiga Kapal dagang berkunjung lagi ke Kerajaan Kutai Kartanegara untuk melakukan kontak dagang. Tetapi karena hasilnya kurang memuaskan maka mereka meneruskan perjalanan ke pesisir Timur pantai Kalimantan hingga Kalimantan Utara yang sekarang menjadi Negara bagian Sabah Malaysia Timur. Di suatu tempat kawasan pantai yang disebut Tanjung Tinagat (kini Tawau), Belanda membuka perkampungan baru. Disini mereka mendirikan perwakilan dagang sebagai bagian dari wilayah koloni mereka. Pada sebuah batu yang menjorok ke laut diukir lambang VOC yang secara jelas bisa dilihat dari laut sebagai bukti bahwa Tanjung Tinagat (Tawau) adalah wilayah koloni Hindia Belanda.
Strategisnya Tawau atau Malaysia, itu terlihat dari upaya Belanda dan Inggeris memperebutkan Tawau. Pada masa itu. Inggris yang telah menguasai India, Burma, semenanjung Malaya, dan Singapura, juga tengah memperluas wilayah koloninya ke Borneo Utara. Sarawak, Berunei dan Sabah berhasil mereka diduduki. Inggris berniat memperluas wilayah jajahanya hingga Tawau, tetapi tidak berhasil. Kota Tawau lebih dahulu dikuasai Belanda. Mereka terikat perjanjian bahwa sesama Bangsa Eropa tidak boleh saling berebut wilayah jajahan yang sudah dikuasai.
Akan tetapi keinginan Inggris tidak berhenti sampai disitu. Dengan sengaja Inggris membuat kekacauan di Tawau. Suku Heban dan suku suku lain diadu domba bahwa mengayau atau memenggal kepala Manusia diperbolehkan dengan alasan adat. Maka terjadilah perang antar suku di Kota Tawau. Di muara sungai Tawau dirintangi berbagai pohon yang sengaja ditumbangkan. Kapal-kapal dagang Belanda dan kapal dagang asing dirampok, awak kapalnya dibunuh. Kantor maskapai VOC Belanda diserang kemudian dibakar. Batu cadas yang bertuliskan lambang VOC diujung tanjung dihancurkan oleh agen Inggris untuk menghilangkan bukti tapal batas wilayah koloninya Belanda.
Meluasnya kekacauan di Tawau membuat Belanda merasa kewalahan. Akhirnya orang-orang Belanda menyingkir kesebuah desa yang disebut Kampung Pembeliangan. (kini berada di Kabupaten Nunukan). Disini Belanda berkirim surat Kepada Raja Bulungan Sultan Kaharuddin, untuk minta dijemput. Maka sultan mengirim beberapa perahu mengambil orang-orang Belanda untuk dibawa ke Tanjung Palas, ibukota kerajaan Bulungan. Sesampai di Tanjung Palas Sultan Kaharuddin mengajukan penawaran Kepada orang-orang Belanda apakah akan pulang kenegeri Belanda atau tetap ingin tinggal di Bulungan. Ternyata mereka memilih untuk tetap tinggal di Kerajaan Bulungan. Oleh Sultan kaharuddin Orang-orang Belanda ini diberi tempat tinggal berupa tanah seribu depa diseberang Sungai Kayan. Tempat orang-orang Belanda ini sekarang menjadi Kota Tanjung Selor, ibuKota Kabupaten Bulungan.
Kisah masa lalu setidaknya telah memberikan kita semacam referensi bagaimana perebutan wilayah ini dilakukan serta bagaimana Belanda mengincar posisi strategis wilayah Tawau dalam perdagangan. Dari sudut pandang ini, maka cara yang termudah untuk mengembangkan kawasan di segitiga Tawau, Malaysia-Brunai-Filipina adalah dengan jalan melakukan sinergi terhadap berbagai keunggulan yang sudah ada. Posisi Pulau Sebatik-Nunukan-Tarakan-Sangata-Balikpapan adalah partner yang sangat ideal bagi perkuatan kota Tawau sebagai pertigaan arus ekonomi yang mengkaitkan potensi Malaysia-Brunai-Indonesia dan Filipina. Bagaimana Kota perbatasan Pulau Sebatik mampu memanfaatkan potensi disekitarnya demi kemaslahatan bersama.

Masih ingat sejarahnya bagaimana Pulau Batam jadi Badan Otorita (sekarang Badan Penggusahaan,BP) pada tahun-tahun awal kelahirannya 1970an? Adanya semangat untuk menghadirkan Kota Industri yang bisa bekerja sama dengan negara tetangga, kota yang  tidak disibukkan oleh birokrasi pemerintahan, dan dikelola laiknya sebuah perusahaan. Sekarang ini Kota Batam[1] adalah kota terbesar di Kepulauan Riau dan merupakan kota dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatra setelah Medan dan Palembang, Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam Per April 2012 jumlah penduduk Batam mencapai 1.153.860 jiwa.
Metropolitan Batam terdiri dari tiga pulau, yaitu Batam, Rempang dan Galang yang dihubungkan oleh Jembatan Barelang. Batam merupakan sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang cukup dekat dengan Singapura dan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Dan jangan lupa Batam masih tergolong wilayah perbatasan, yang memang pantas untuk dijadikan halaman depan bangsa. Lalu bagaimana dengan Pulau Sebatik?

Ikon Kota Perbatasan

Pengembangan Kota Pulau Sebatik (selanjutnya disebut Kota Sebatik)  ke depan haruslah mengupayakan untuk mengoftimalkan pemanfaatan berbagai potensi sumber daya yang ada, baik dari sisi letak geografisnya sendiri maupun potensi sumber daya alam yang telah ada, mencakup pengembangan usaha perikanan tangkap, rumput laut, pengembangan usaha tani perkebunan dan tanaman pangan seperti kakao, kopi, kelapa sawit dan padi serta pengembangan usaha-usaha perdagangan dan jasa yang menjadikannya sebagai pintu masuk ke Indonesia khususnya wilayah KalimantanTimur dan Kalimantan Utara, khususnya kota-kota disepanjangn pantai timur Kalimantan mulai dari Balikpapan, Bontang,Tanjung Selor, Tarakan, Nunukan dan Sebatik; dan juga sepanjang jalan paralel perbatasan mulai dari Tanjung Datu-hingga ke Nunukan, termasuk di dalamnya adalah potensi pariwisata (Trade and Service).
Usaha dan upaya diatas dipandang penting dalam menggerakan perekonomian Pulau Sebatik. Kalau dilihat dari potensi wilayah-wilayah yang ada di belakang Sebatik, maka jelas daya tarik pengembangan ekonomi kawasan perbatasan di segi tiga Malaysia-Brunai-Filipina itu akan sangat terpesona oleh potensi yang dimiliki Sebatik dan jajarannya. Terlebih lagi kalau Sebatik-Tawau bisa di satukan lewat jalan khusus (dengan Kapal Ferry-Roro) atau Jembatan sekelas Barelang. Kalau di perhatikan secara alami saja perkembangan Pulau Sebatik selama ini telah jadi perhatian utama bagi kawasan disekitarnya- sehingga dapat menjadi perhatian positip dari kota tetangganya Tawau. Tawau secara pasti telah menjadikan Sebatik sebagai partner dagang yang baik dan memberikan semangat kerjasamanya. Kalau sebatik didandani dengan sarana dan prasarana yang tepat maka tidak mustahil Kota Sebatik akan sangat memukau.
Bisa kebayang nggak? Kalau misalnya suatu saat nanti dibentuk sebuah Badan Pengelola Kawasan Sebatik ( disingkat BPKS) yakni lembaga instansi pemerintah Pusat yang dibentuk oleh BNPP (Badan Nasional Pengelola Perbatasan) yang mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengelolaan, pengembangan dan pembangunan kawasan perbatasan sesuai dengan fungsi-fungsi kawasan?  Badan semacam ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangun perbatasan jadi beranda depan kedaulatan bangsa. Seperti di Batam terdapat dua model pengelolaan dalam satu Pulau yakni satu Kota Batam dan satunya lagi BP Batam.
Badan Pengelola Kawasan Sebatik  ini nantinya akan menyiapkan  beberapa proyek unggulan untuk meningkatkan keunggulan dan kelebihan Pulau Sebatik dari kawasan sekitarnya. Langkah ini dimaksudkan untuk menjadikan Pulau Sebatik sebagai tempat investasi yang menarik bagi kalangan perdagangan dan pelabuhan  di kawasan segi tiga emas Malaysia-Brunai-Filipina  dan sekitarnya.
Proyek tersebut di antaranya seperti pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Sebatik- Nunukan dan pulau Kalimantan,bahkan termasuk dan sampai ke Tawaunya sendiri. Kemudian diikuti dengan pengembangan pasilitas PPLB Lamijung yang menjadi satu kesatuan dengan Border Trade Zone, jalan tol Sebatik –Nunukan dan pulau Kalimantan, Perluasan atau peningkatan kualitas Pelabuhan Nunukan- pembangunan SMK unggulan pertanian, perikanan Rumput Laut, Karet dan Kakao dan bahkan balai pelatihan untuk TKI.
Konsepsi pengembangan wilayah Kabupaten Nunukan secara umum dan pulau Sebatik khususnya di masa depan harus terintegrasi dan dikembangkan melalui strategi pengembangan wilayah yang spesifik sesuai dengan kondisi geografi wilayahnya, yang sinkron  dengan VISI INDONESIA 2025 DAN KONEKTIVITAS ASEAN serta Masyarakat Ekonomi Asean 2015  baik pada wilayah laut maupun daratnya. Hal ini dikarenakan pada wilayah ini disamping merupakan wilayah perbatasan juga sebagai simpul dalam system jaringan perdagangan antar Negara, yang bisa memanfaatkan potensi perekonomian kota-kota besar di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara khususnya Balik Papan, Samarinda, Bontang, Sangata, Tanjung Selor, Tarakan dan Nunukan dengan kota-kota di wilayah Sabah.

Perekonomian wilayah di pulau Sebatik sebenarnya telah jadi daya pikat tersendiri di daerah itu. Kalau saja Sebatik bisa dijadikan tumpuan sarana Transit (Ferry Roro-Kapal Laut Cepat dan Kapal Pesiar Sewaan), fasilitas pelabuhan, serta jaringan Hotel dan penginapan maka ia akan jadi tempat transit yang menyenangkan dan apalagi bisa lebih murah bagi kota-kota disekitarnya. Misalnya dengan Tarakan. Tarakan dapat dicapai dan dilayani oleh kapal Feri Tawindo MV dan Indomaya MV pulang pergi, setiap pagi jam 09.00 dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan dan jam 11.00. Harga tiket feri dari Tarakan adalah Rp 290.000 per orang(data tahun 2013) dan dari Tawau adalah 140 MYR (ringgit) per orang dan tidak tersedia tiket dengan kategori eksekutif ataupun ekonomi. Lama perjalanan adalah 4 sampai 5 jam tergantung cuaca laut.
Sebatik, Tarakan dan Tawau adalah surga petualangan laut, bila di Tarakan anda bisa melanjutkan jalan ke Pulau Derawan, maka dari Tawau anda dapat ke Pulau Sipadan dan Ligitan. Kalau Sebatik misalnya bisa membuat paket Tour dari Sebatik ke Pulau Derawan dan kota-kota disekitarnya termasuk paket penginapan, transport dan island shopping bahkan dengan atau tidak termasuk makan serta pengeluaran pribadi. Kemudian hal yang sama Tour ke Tawau- Semporna-Sipadan-Ligitan.berikut kota-kota di sekitar nya, maka ia akan jadi sesuatu yang menarik.


Sekarang sudah era globalisasi, termasuk didalamnya globalisasi ekonomi yang sedang dan masih terus akan berlangsung membawa dampak terhadap pergerakan orang, barang dan modal yang tidak lagi dapat dibatasi oleh dimensi waktu dan ruang. Menurut Dumairy[2] globalisasi dimaknai mendunianya kegiatan perekonomian, yang tidak lagi mengenal batas kenegaraan; globalisasi bukan hanya sekedar berada di tataran nasional, namun sudah menjadi transnasional kegiatan yang tidak hanya mencakup aspek perdagangan dan keuangan saja, tapi sudah memasuki ranah aspek produksi, pemasaran dan sumber daya manusia. Konsekuensinya, perekonomian antar Negara menjadi saling berkaitan, dimana peristiwa ekonomi suatu Negara dengan dan mudah berimbas ke Negara lainnya.
 Apakah Sebatik serta kawasan perbatasan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dapat memanfaatkan dampak positif arus globalisasi ekonomi, terutama peluang perdagangan bebas kawasan sekitarnya. Artinya, langkah awal pengembangan perdagangan seperti apa yang pas untuk Sebatik? Apakah perdagangan bebas perlu dikembangkan di kawasan Pulau Sebatik? Semua itu sangat tergantung pada kemampuan memanfaatkan potensi pasar Negara Bagian Sabah, Brunai dan Filipina dengan memanfaatkan peraturan yang ada yakni Border Trade Agreement (BTA) Tahun 1970 serta aturan yang ada pada BIMP-EAGA?
Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya dalam jangka pendek perdagangan bebas lintas batas negara lewat lautlah kelihatannya yang “lebih mudah”; yakni melalui pembentukan Border Trade Zone (BTZ) – Pos Pengamanan Lintas Batas (PPLB), khususnya di kawasan perbatasan laut (pesisir), mencakup Nunukan dan sekitarnya. Dalam jangka panjang secara bertahap PKSN atau PPLB yang berada dikawasan perbatasan darat dikembangkan kegiatan perdagangan bebas lintas batas.
Kawasan perbatasan laut (pesisir) yang kita sebut di sini mencakup 5 Kecamatan di Pulau Sebatik, 2 Kecamatan di Pulau Nunukan (Nunukan, Nunukan Selatan) dan wilayah pesisir Kecamatan Sei Manggaris. Untungnya sejak awal telah dipersiapkan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung pergerakan lalu lintas orang dan barang. Infrastruktur transportasi berupa bandar udara Nunukan dan pelabuhan laut Tunon Taka, untuk melayani kapal melakukan bongkar muat barang dalam jumlah besar sudah tersedia.
Demikian pula PPLB Lamijung akan segera difungsikan sebagai lalu lintas keluar - masuk orang dari Nunukan ke Tawao atau sebaliknya. Model pengembangan Kawasan Perbatasan Laut  yang merupakan pilihan tepat untuk mengembangkan Nunukan dan sekitarnya membutuhkan keberadaan Kawasan  Berikat  dan Kawasan  Pelabuhan  Bebas.  Dalam  hal yang sama, Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah mencanangkan Pulau Sebatik sebagai Kawasan Pengembangan Agroindustri dan Jasa Maritim, pada 28 Mei 2012 lalu. Sebagai kawasan pengembangan agroindustri lebih realistis untuk segera direalisasikan dalam jangka pendek, dibandingkan dengan pembentukan kawasan berikat. Karena kawasan berikat membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana yang lebih  kompleks.
Namun demikian, pilihan model pengembangan diatas sudah mengisyaratkan peluang untuk dilakukannya kegiatan perdagangan bebas dikawasan perbatasan, walaupun perdagangan bebas dimaksud tidak dalam skala besar pada tahap awalnya. Ketersediaan fasilitas kepelabuhan perlu disiapkan dan dikembangkan, seperti dermaga, terminal penumpang, lahan penumpukan barang (kontainer), gudang, perkantoran, fasilitas CIQ serta pengamanan harus sudah disiapkan. Kenyataannya seluruh fasilitas dimaksud sudah tersedia pada pelabuhan laut Tunon Taka; hanya saja setatus pelabuhan tersebut belum sebagai Pelabuhan ekspor – impor.
Rencananya Pemerintah daerah  akan segera memindahkan lalu lintas pergerakan orang dari Nunukan menuju Tawao atau sebaliknya, yang semula berada di Tunon Taka, dialihkan ke Lamijung yang nantinya akan menjadi PPLB Laut (dilengkapi CIQS) Keberadaan Tunon Taka dan Lamijung ini dalam jangka pendek sudah relevan untuk mendukung terwujudnya perdagangan bebas lintas batas, karena selama ini antara Nunukan dan Tawao sudah terjadi kegiatan ekspor - impor melalui mekanisme perdagangan lintas batas berdasarkan ketentuan BTA.
Apa yang terjadi saat ini memang seolah dan nyatanya menjadikan posisi Nunukan tidak mengun tungkan; karena hal yang tidak mungkin dipungkiri lagi adalah produk olahan dari Malaysia sudah membanjiri pasaran retail di Sebatik, Nunukan, bahkan sudah merambah Tarakan; padahal belum tentu produk produk tersebut sesuai dengan standar laik sehat yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia (SNI).

Hal seperti ini mestinya harus dapat dilihat sebagai bagian dari proses alami. Sebab sejak zaman kolonial dahulu, Tawau memang sudah lebih berkembang bila dibandingkan dengan Nunukan apalagi Sebatik.  Dihadapkan pada kondisi demikian, maka langkah yang bijak dan terbaik adalah memformalkan kegiatan perdagangan lintas batas ini, menjadi perdagangan bebas lintas batas.
Dengan demikian  Pemerintah agar mempertim bangkan  perubahan status Pelabuhan Tonan Taka menjadi pelabuhan ekspor - impor; atau pelabuhan lainnya di Pulau Sebatik dalam rangka menjadikan Sebatik sebagai kawasan perkotaan, dengan basis agroindustri dan jasa maritim. Keberadaan  pelabuhan ekspor - impor ini adalah sebagai pintu keluar - masuk tunggal kegiatan perdagangan bebas, tidak hanya untuk perdagangan bebas lintas batas, namun lebih luas dari itu, yaitu dipersiapkan untuk perdagangan luar negeri yang mencakup BIMP-EAGA-Asean-Brunai-Malaysia-Indonesia dan Filipina.
Langkah berikutnya,  secepatnya merealisasikan Lamijung sebagai PPLB (CIQS), untuk keperluan lalu lintas orang antar Negara. Pergerakan pelintas batas ini, baik menggunakan passport atau pass lintas batas tidak menutup kemungkinan akan membawa barang, baik untuk keperluan pribadi maupun dagang. Adanya PPLB ini maka kegiatan keluar masuknya orang/barang dapat lebih terpantau dengan baik. PPLB lainnya ditempatkan di Pulau Sebatik. Keberadaan kedua PPLB tersebut, apabila sudah berfungsi dengan baik, maka pelbagai pos lintas batas tradisional yang ada harus ditutup  secara  bertahap,  mengingat  selama  ini kegiatan perdagangan illegal banyak melalui pos tradisional dimaksud, yang sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Langkah berikutnya upaya memberi nilai tambah pada produk hasil bumi, hasil laut dengan jalan melakukan pengolahannya terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan adanya Border Trade Zone (BTZ) dalam kawasan PPLB. Konsepsi BTZ ini identik dengan upaya perluasan marketing. Dalam kawasan ini dipertemukan penjual - pembeli, dengan  memperdagangkan produk setegah jadi atau untuk sementara  produk ekstratif; BTZ ini perlu dilengkapi fasilitas gudang untuk transit (penyimpa nan sementara) produk yang diperdagangkan; didukung sistem pengelolaan profesional, transaksi perdagangan (ekspor), bongkar muat yang dapat diselesaikan cepat dan profesional, serta langsung dapat dikapalkan atau sementara menunggu proses administratifnya, produk tersebut dapat dititipkan di gudang transit) sebelum diekspedisikan menuju pelabuhan ekspor - impor (kapal).
Langkah berikutnya, memastikan produk yang diperdagangkan merupakan produk unggulan kawasan; unggul dari segi apa saja, mulai dari kualitas produk, harga jual yang kompetitip; tentu ini membutuhkan strategi dan taktis yang komprehensip  mulai dari upaya perbaikan pada faktor pembudidayaannya yang didukung faktor penanganan pasca produksi; sudah ada sentuhan teknologi (kompetitif dinamis). Produk unggulan sejatinya diproduksi dalam skala besar, sehingga ini hanya dimungkinkan oleh perusahaan yang memiliki modal besar dan lahan usaha yang luas dengan pola Inti-Plasma. Sementara produksi yang dilakukan secara individual terutama penduduk lokal, harus dihimpun terlebih dahulu dalam suatu lembaga usaha bersama semisal "koperasi". 


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batam
[2] Drs. Dumairy, MA. 1997. Perekonomian Indonesia. Cetakan Pertama. Yogyakarta; Penerbit Erlangga. Hal 10.