E-Book
ini, akan memberi anda cara mudah
memasang iklan di Google Ads. Bersama-sama membongkar stigma bahwa iklan itu
rumit dan mahal. Membuat iklan itu ribet. E-Book ini membuat anda jadi tahu
persis langkah-langkah yang harus dilakukan kalau mau memasang Iklan di Google
Ads. Jadi jelas, jadi gamblang meskipun anda baru kali ini mau pasang iklan.
Atau bagi yang sebenarnya sudah lama baca tutorial nya tapi tidak paham paham
juga. Tidak Ngeh Juga. Maka miliki sekarang dan buat iklanmu dengan senang serta
lihat usahamu akan terus berkembang.
Pernahkah
anda membayangkan sebuah toko tanpa papan nama? Tanpa promosi,hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut?
Atau sebuah produk Bagus yang tersimpan di Gudang? Tak seorang pun tahu
keberadaannya? Mungkin dahulu, hal itu masih bisa bertahan. Namun, sekarang
dimana informasi mengalir bagaikan air bah. Bisnis seperti itu tinggal
kenangan.
Dengarkan
baik-baik, karena ini adalah kebenaran yang hakiki. Di era digital ini, ber
iklan bukan lagi sebuah pilihan atau sekadar biaya tambahan. Ber iklan adalah
sebuah investasi. Pilar utama yang tak tergantikan dalam mengembangkan
usahamu.Sekecil apa pun itu! Jika anda
masih berpikir bisa bertahan tanpa ber iklan, maaf.Sama saja layaknya membohongi diri sendiri.
Jujur
saya katakan. Bayangkan anda sudah mencurahkan waktu, tenaga, bahkan mungkin
seluruh tabunganmu untuk membangun bisnismu. Anda sudah menciptakan produk
terbaik, memberikan pelayanan prima. Itu laksana sebongkah berlian. Tapi, jika
tersimpan di dalam goa yang gelap, tidak akan ada yang tahu, tidak akan pernah
ditemukan. Iklanlahyang mengangkat
berlianmu. Iklanlah yang memancarkan kilaunya ke seluruh penjuru,
memberitahukan kepada dunia.Ini lo, aku punya sesuatu yang kalian butuhkan!"
Di
luar sana, persaingan kian ketat. Setiap hari, ada bisnis baru bermunculan,
berusaha merebut perhatian pasar. Jika anda tidak beriklan, anda akan dengan
mudah tenggelam dalam lautan informasi. Anda akan tertinggal di belakang,
sementara pesaingmu dengan sigap merebut pangsa pasar yang seharusnya bisa
menjadi milikmu. Ini bukan tentang siapa yang punya modal paling besar, tapi
siapa yang paling cerdas dalam memanfaatkan alat yang ada.
Internet,
khususnya Google, telah mengubah lanskap bisnis secara drastis. Jutaan orang
setiap detiknya mencari solusi, mencari produk, mencari jasa. Mereka
mengetikkan kata kunci yang spesifik: "catering diet sehat terdekat,"
"kursus bahasa Inggris online," "bengkel motor panggilan."
Ini adalah momen emas! Ini adalah saat ketika calon pelangganmu, yang sudah
memiliki niat beli, sedang aktif mencari keberadaanmu. Pertanyaannya, apakah
anda ada di sana saat mereka mencari? Apakah bisnismu muncul di hadapan mereka,
menawarkan solusi yang tepat?
Melalui
E-Book ini, kita akan bersama-sama membongkar stigma bahwa iklan itu rumit atau
Iklan itu hanya untuk perusahaan besar. Kita akan membuktikan bahwa Google Ads
adalah platform yang demokratis, yang memberikan kesempatan yang sama bagi
setiap pengusaha, termasuk anda, yang mungkin baru memulai atau memiliki budget
terbatas. Anda bisa beriklan mulai dari nominal yang sangat terjangkau,
menargetkan pasar yang sangat spesifik, dan yang paling penting, anda bisa
mengukur setiap rupiah yang anda keluarkan. Tidak ada lagi iklan
"kira-kira", semuanya berbasis data yang jelas.
Jadi,
lepaskan keraguanmu. Singkirkan ketakutanmu. Ini bukan lagi era di mana kita
bisa "bersembunyi" dan berharap pelanggan datang sendiri. Ini adalah
era di mana kita harus aktif menjemput peluang, harus bersahabat dengan iklan,
dan menjadikannya sebagai pilar fundamental dalam strategi bisnismu.
Mari
kita mulai perjalanan ini bersama. Mari kita nyalakan lampu di goa
gelap bisnismu, agar berlian yang sudah anda poles dengan susah payah
itu bisa bersinar terang benderang di mata dunia! Siap untuk menjadikan Google
Ads sebagai sahabat terbaik bisnismu? Mari kita mulai!
Potensi pertanian Indonesia dalam menghasilkan sayur-sayuran
dan buah-buahan yang berkualitas tentunya tidak bisa diragukan lagi. Namun,
negara ini menghadapi tantangan dalam hal memasarkannya baik di dalam maupun
luar negeri. Mengingat negara kepulauan yang luas dan kemampuan untuk
menjangkau pasar domestik dan internasional. Tapi… Sogan melihat harapan ini
pada kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, maka muncullah Mahni Sindoro
yang bercita-cita untuk membuka pasar Dunia bagi para Bakul Sayur dari
Nusantara.
Beberapa Pendekatan komprehensif untuk memasarkan sayuran
dan buah-buahan Indonesia secara efektif:
Berinvestasi dalam Praktik Penanganan Pasca Panen: Terapkan
praktik penanganan pasca panen yang tepat untuk meminimalkan kerusakan dan
pembusukan. Hal ini mencakup teknik pemanenan yang hati-hati, pencucian dan
penyortiran yang benar, serta pendinginan yang cepat untuk mencegah penumpukan
panas di lahan. Mendidik petani dan penangan tentang pentingnya penanganan
pascapanen yang tepat untuk meminimalkan kerugian dan mempertahankan kualitas
produk yang tinggi.
Optimalkan Bahan Kemasan: Pilih bahan kemasan yang sesuai
dengan karakteristik spesifik setiap sayuran atau buah. Misalnya, gunakan
kemasan yang dapat menyerap keringat untuk produk yang mengeluarkan etilen
seperti apel dan pisang, sedangkan kemasan non-permeabel cocok untuk produk
yang sensitif terhadap kelembapan seperti selada dan buah beri. Pertimbangkan
alternatif pengganti plastik yang ramah lingkungan, seperti bahan yang dapat
terurai secara hayati atau dapat dibuat kompos.
Strategi Pengemasan untuk Pasar Domestik
Manfaatkan Modified Atmosphere Packaging (MAP):MAP memperhatikan penggantian udara di
sekitar produk dengan campuran gas yang dimodifikasi, biasanya kombinasi
nitrogen, karbon dioksida, dan terkadang oksigen. Suasana yang terkendali ini
memperlambat proses respirasi dan enzimatik, sehingga memperpanjang umur simpan
buah dan sayuran. MAP sangat efektif untuk sayuran berdaun hijau, buah beri,
dan produk-produk lain yang mudah rusak.
Kantong Plastik Berlubang: Untuk buah-buahan dan sayuran
yang tidak terlalu sensitif, kantong plastik berlubang menawarkan solusi
sederhana dan hemat biaya. Perforasi memungkinkan terjadinya pertukaran gas,
mencegah penumpukan etilen, hormon yang dapat mempercepat pematangan dan
pembusukan. Kantong berlubang cocok untuk apel, jeruk, dan buah keras lainnya.
Wadah yang Dapat Digunakan Kembali: Wadah yang dapat
digunakan kembali memberikan alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan
terhadap kemasan plastik sekali pakai. Mereka sangat cocok untuk menyimpan
sayuran akar, kentang, dan bawang. Dengan mempromosikan wadah yang dapat
digunakan kembali, Anda dapat mendorong konsumen untuk mengurangi limbah dan
menerapkan praktik berkelanjutan.
Prioritaskan Manajemen Rantai Dingin: Membangun sistem
rantai dingin yang kuat untuk menjaga suhu rendah secara konsisten di seluruh
rantai pasokan. Hal ini penting untuk produk yang sensitif terhadap suhu,
mencegah pembusukan dan menjaga kualitas selama transportasi, penyimpanan, dan
distribusi eceran. Memanfaatkan wadah berpendingin, kendaraan, dan fasilitas
penyimpanan untuk memastikan kontrol suhu optimal.
Strategi Pengemasan untuk Pasar Internasional
Pengemasan Aktif: Teknologi pengemasan aktif memasukkan
komponen tambahan ke dalam bahan pengemas untuk secara aktif mengendalikan
lingkungan di sekitar produk. Komponen-komponen ini dapat menyerap etilen,
melepaskan zat antimikroba, atau menjaga tingkat kelembapan, sehingga
memperpanjang umur simpan dan memastikan kualitas produk selama pengangkutan
jarak jauh.
Controlled Atmosphere Storage (CAS): CAS melibatkan
penyimpanan buah-buahan dan sayuran dalam lingkungan tertutup dengan suhu,
kelembapan, dan komposisi gas terkendali. Metode ini sangat efektif untuk
penyimpanan jangka panjang dan secara signifikan dapat memperpanjang umur
simpan buah-buahan tertentu, seperti apel, pir, dan buah kiwi dll.
Manajemen Rantai Dingin: Membangun infrastruktur rantai
dingin yang kuat sangat penting untuk menjaga integritas produk di seluruh
rantai pasokan. Hal ini mencakup fasilitas penyimpanan berpendingin, kendaraan
transportasi berinsulasi, dan sistem pemantauan suhu yang tepat.
Strategi Perluasan Pasar:
Fokus Pasar Domestik: Menargetkan konsumen dalam negeri
dengan meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan produk-produk Indonesia.
Memperluas jaringan distribusi untuk menjangkau daerah pedesaan dan terpencil,
dan mendorong konsumsi lokal melalui kampanye dan inisiatif.
Eksplorasi Pasar Ekspor: Mengidentifikasi peluang ekspor
produk Indonesia di pasar internasional. Melakukan riset pasar untuk memahami
preferensi konsumen dan persyaratan peraturan di pasar sasaran.
Berpartisipasilah dalam pameran dagang dan pameran untuk memamerkan
produk-produk Indonesia.
Kemitraan dan Kolaborasi: Berkolaborasi dengan produsen
lokal, perusahaan pengemasan, penyedia logistik, dan lembaga pemerintah untuk
mengembangkan dan menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Memanfaatkan
kemitraan untuk mengakses keahlian, sumber daya, dan jaringan pasar.
Pencitraan Merek dan Story Telling: Mengembangkan identitas
merek yang kuat yang mencerminkan kualitas produk-produk Indonesia, dengan
menekankan kualitas unik, praktik keberlanjutan, dan signifikansi budayanya.
Ciptakan narasi menarik yang menonjolkan asal usul, kesegaran, dan cita rasa
buah dan sayuran Indonesia. Pelabelan yang informatif harus mencakup informasi
produk, petunjuk penyimpanan, dan fakta nutrisi.
Ketertelusuran dan Sertifikasi: Menerapkan sistem
ketertelusuran untuk melihat asal dan perjalanan produk Indonesia, memastikan
transparansi dan kepercayaan konsumen. Dapatkan sertifikasi dan akreditasi
untuk kualitas, keamanan, dan praktik berkelanjutan untuk meningkatkan
kredibilitas pasar.
Pemasaran Bertarget: Identifikasi segmen pasar tertentu dan
sesuaikan strategi pemasaran. Misalnya, mempromosikan produk organik kepada
konsumen yang sadar kesehatan atau menonjolkan cita rasa unik dari
produk-produk Indonesia kepada para pecinta kuliner.
Kemitraan dengan Pengecer: Berkolaborasi dengan pengecer
untuk memastikan penanganan dan pemajangan produk Indonesia yang tepat di toko.
Sertifikasi Ekspor: Dapatkan sertifikasi yang diperlukan dan
patuhi peraturan ekspor untuk memastikan kelancaran akses ke pasar
internasional.
Buku buku Tentang Perbatasan & Bisnis Online Yang Bisa dimanfaatkan Dari Perbatasan,Beli Dua"BEBAS ONGKIR"
Bagi sahabat yang tertarik Masalah dan Dinamika Wilayah Perbatasan…bisa melihat Koleksi Buku dan Literasi Kita terkait Perbatasan Di sini..Semoga bermanfaat…Dalam hal hubungan Internasional, masalah teritorial merupakan salah satu penyebab klasik munculnya konflik antar negara dan menjadi ancaman abadi bagi perdamaian serta keamanan internasional Tapi anehnya, tidak semua Negara dengan benar-benar membenahi perbatasannya. Bahkan banyak Negara yang menempatkan penegasan perbatasannya pada Lembaga/Kementerian yang justeru awam dengan masalah perbatasan itu sendiri. Indonesia bisa digolongkan pada Negara yang seperti itu. Padahal semua paham bahwa ketidakjelasan batas territorial; merupakan salah satu hal, menjadi faktor laten penyebab munculnya sengketa perbatasan yang akan mengganggu stabilitas hubungan antarnegara. Hal seperti itu sudah bukan lagi rahasia umum, boleh dikatakan 85% Negara di Dunia ini mempunyai permasalahan perbatasan dengan Negara tetangganya.
Bagi sahabat yang tertarik Masalah dan Dinamika
Wilayah Perbatasan…bisa melihat Koleksi
Buku dan Literasi Kita terkait Perbatasan Di sini..Semoga bermanfaat…Dalam
hal hubungan Internasional, masalah teritorial merupakan salah satu penyebab
klasik munculnya konflik antar negara dan menjadi ancaman abadi bagi perdamaian
serta keamanan internasional Tapi anehnya, tidak semua Negara dengan
benar-benar membenahi perbatasannya. Bahkan banyak Negara yang menempatkan
penegasan perbatasannya pada Lembaga/Kementerian yang justeru awam dengan
masalah perbatasan itu sendiri. Indonesia bisa digolongkan pada Negara yang
seperti itu. Padahal semua paham bahwa ketidakjelasan batas territorial;
merupakan salah satu hal, menjadi faktor laten penyebab munculnya sengketa
perbatasan yang akan mengganggu stabilitas hubungan antarnegara. Hal seperti
itu sudah bukan lagi rahasia umum, boleh dikatakan 85% Negara di Dunia ini
mempunyai permasalahan perbatasan dengan Negara tetangganya. Apalagi kalau hal
itu kita lihat dibelahan Asia, hampir semua Negara punya masalah perbatasan
dengan Negara tetangganya. Sebut saja nama negarnya, misalnya China atu
Tiongkok, Negara ini punya permasalahan batas dengan India, dengan Jepang,
dengan Korea Selatan, dengan Malaysia, dengan Brunai, dengan Vietnam, dengan
Filipina. Indonesia sendiri mempunyai masalah perbatasan dengan sepuluh (10)
Negara tetangganya dan selalu bermasalah dengan kedaulatan perbatasannya.
Kalau ingat perbatasan, maka saya juga akan mengingat kehidupan masa kecil saya. Masa kecil yang menyenangkan. Menyenangkan dalam suasana kesederhanaan. Kesederhanaan Desa terpencil bagai di perbatasan. Sebagai penulis, saya tidak akan pernah lupa
nasihat guru SR ( Sekolah Rakyat, kini SD), guru idola saya lima puluhan tahun lalu. Ketika itu kita masih
di kelas 3 SR. Setiap ada kesempatan beliau selalu memberi motivasi dan selalu menyemangati.
Kalau kalian ingin jadi murid bapa dan berhasil, maka inilah tugas-tugas yang
harus kalian lakukan dengan baik. Pertama, kalian harus bisa pelajaran tambah,
kali dan bagi mulai dari satu sampai 10 di luar kepala. Kedua, kalian harus
bisa menunaikan shalat, dan bisa jadi imam dalam melaksanakan shalat. Ketiga, kalian
harus bisa “berpidato” di depan kelas. Keempat, kalian harus bisa menuliskan
“ceritra” dengan baik dan enak dibaca dan bisa menceritrakannya dan enak
didengar.
Bagi kalian yang ingin
melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, maka kalian harus bisa dan jadikan ini
sebagai modalmu. Kamu akan bisa hidup senang di kampungmu ataupun kalau kamu
merantau. Pertama, kamu harus bisa menanak nasi. Menanak nasi dengan benar,
mulai dari persiapan kayu bakarnya (waktu itu belum ada kompor, yang ada baru
kayu bakar) hingga menghidangkannya. Kedua,
bisa mencuci dan menyetrika pakaian kalian sendiri (sterika juga masih
pakai arang kayu atau batok kelapa, belum ada listrik). Ketiga, bisa naik
sepeda (kala itu belum ada sepeda motor,sepeda juga model sepeda ontel besar).
Keempat, bisa menjadi penjual”Es lilin” jajanan yang berhasil (kala itu es
lilin dalam termos, Es bisa dijajakan dan kalau laku kita dapat komisi).
Kelima, kalian harus bisa jadi “penyadap karet” yang baik; Sebetulnya yang paling menarik dari ceritra beliau
itu adalah ilustrasi di setiap ketrampilan yang dijelaskannya.
Kalau semua ini kalian bisa
lakukan dengan baik, maka percaya sama bapa kamu akan bisa sekolah ke mana
saja, ke negeri mana saja dengan “kekuatan kamu” sendiri. Sejak itu apa yang
disampaikan Guru saya itu…betul-betul menjadi azimat yang saya pelajari dan
ikhtiarkan agar bisa saya wujutkan; bahasa masa kininya mewujudkannya secara
professional, ahli dan jadi trampil dalam bidang yang ada di lingkungan kita
berada. Logikanya. Kalau kita punya ketrampilan yang sesuai atau dibutuhkan
oleh lingkungan kita sendiri, maka tidak terasa kita sudah bisa beradaptasi
dengan lingkungan, merasa dihargai dan diterima oleh lingkungan. Dalam kondisi seperti
itu kita percaya dan yakin semua “jalan, semua ketrampilan adalah Emas”. Saya
sangat ingin menyampaikan pesan-pesan beliau itu kembali dalam versi Catata
Blog Seorang Prajurit Perbatasan dengan bahasa
apa adanya…
Harmen
Batubara Penulis Dari Daerah Perbatasan
Melihat desa tertinggal
di perbatasan tentu tidak semua orang dapat “melihatnya”, karena untuk bisa
melihat ketertinggalan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang tahu makna
“tertinggal” itu sendiri. Desa tertinggal itu, ya jauh darimana-mana. Secara
fisik desa itu baru dicapai setelah melakukan “perjalanan kaki”, selama satu
atau dua hari, karena memang akses jalannya belum ada. Di sepanjang jalan kaki
itu, sama sekali tidak ada “warung”. Karena memang semuanya masih berupa hutan
dan hutan belukar. Kemudian sampailah anda ke perkampungan tertinggal itu. Ya
benar-benar kampung apa adanya. Warung sudah ada, tetapi yang di jual hanya
sebatas, beras, garam dan berbagai super mie serta jajanan anak-anak berupa
permen dan sejenisnya. Rokok memang ada, tetapi lebih banyak jenis tembakau dan
kertas linting. Pendek kata hanya sepertiga dari keperluan sehari-hari,mereka
bisa beli juga karena masih bisa dengan cara barter. Jual kelapa, kemudian beli
minyak tanah dst.dst.
Bila di diskripsikan
dengan kata-kata masyarakat pedesaan perbatasan terpencil adalah masyarakat
yang relatf tertutup, mempunyai ketergantungan kuat dengan alam. Melakukan
kegiatan produksi yang bersifat subsistence atau peramu, sekedar mengambilnya
dari alam dengan mata pencaharian serabutan. Tidak ada ataumemperoleh pelayanan sosial yang sangat
minim, menyebabkan tumbuhnya tingkat kualitas SDM yang relatif sangat rendah.
Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat pedesaan terpencil, khususnya
masyarakat adat, mampu menghasilkan produk budaya berkualitas tinggi seperti
ukiran suku Asmat, tato suku Mentawai, pengelolaan hutan yang harmonis suku
Baduy, dll.
Ketika Wisuda di UGM
Saya masih ingat
kehidupan dikampung saya di Aekgarugur, Tapanulis Selatan di tahun-tahun 60 an.
Kampung yang menghubungkan jalan raya provinsi dengan Kampung Sipotang Niari (±
20 km) lewat tengah hutan dan persawahan. Jalan memang sudah ada, tetapi masih
sebatas diperkeras, hanya bisa dilewati oleh Pedati, kuda beban dan sepeda
ontel. Geliat ekonomi ada, dan warung-warung di sepanjang jalan itu sudah hidup
terutama oleh pelaku usaha “transportasi”, di sana sudah kita temukan
tempat-tempat warung untuk pangkalan Pedati, ada pula tempat persinggahan bagi
para pemilik kuda beban dan juga bagi para pelaku transportasi sepeda ontel
para pemikul barang. Mereka membawa hasil bumi (padi, kopi,karet dll) dari
sawah, kebun ke perkampungan di sepanjang jalan tersebut, dan kemudian membawa
keperluan primer sehari-hari dan sekunder lainnya dari Kampung Aekgarugur atau
Sayurmatinggi ke kampung-kapung sepanjang jalan ke Sipotang Niari. Layanan dari
pemerintah masih sangat terbatas, belum ada listrik, lokasi sekolahan 4km dari
kampung, tidak ada puskesmas tapi untunglah terdapat satu Rumah Sakit di
Sayurmatinggi. Jadi kalau ada yang sakit dari desa Sipotang Niari maka cara
membawanya adalah dengan ditandu cara sederhana. Kain sarung diusung dengan
tiang bambu sebagai tandu, sipesakitan di tidurkan untuk kemudian diusung oleh
dua orang, biasanya ada dua pasang tenaga “ganti” yang secara terus menerus
bergantian. Jalan 20 km dengan mengusung orang sakit secara bergantian dan
marathon adalah sesuatu yang biasa kala itu dan hal itu membutuhkan waktu satu
sampai dua harian penuh. Sementara Rumah Sakitnya juga kira-kira setara dengan
Puskesmas sekarang ini.
Meski tinggal di
kampung terpencil, tetapi ke sekolah terus saja berlanjut. Sejujurnya saya juga
tidak mengerti mengapa saya masih terus saja sekolah, padahal jumlah anak SR di
sekolahan saya itu hanya tinggal 9 anak lagi, itupun sudah dari berbagai
kampung tetangga. Dari kampung saya sendiri hanya tinggal saya saja, yang masih
sekolah. Tetapi hebatnya lagi, saya ikut dua sekolah. Pagi jadi murid di SR dan
Sore hari ikut Sekolahan Agama. Praktis semua teman-teman di kampung sudah
tidak ada lagi yang bersekolah, saya juga sebenarnya ingin juga seperti mereka.
Tapi kedua orang tua tidak pernah meminta saya untuk berhenti, dan saya terus
melakoninya begitu saja.
Saat Belajar di Fort Belvoir Virginia USA
Sehabis di SR saya
harus ikut dengan keluarga ke Kotanopan untuk bersekolah di SMP Kotanopan.
Padahal jarak dari Kampung ke Kotanopan itu sekitar 80 Km. Meski jaraknya 80
km, tetapi pada masa itu harus di tempuh selama satu hari perjalanan dengan
mobil antar Kota. Namanya mobil Adianbania. Mobil itu memang setiap hari ada 5
trayek dari Kotanopan-Padangsidimpuan. Mereka dari Kotanopan pada pagi hari,
mulai dari jam 05.00 pagi dan pulang lagi dari Padangsidimpuan kembali ke
Kotanopan. Nah kalau saya naik dari Kampung saya misalnya jam 09.00, saya harus
jalan kaki dahulu sejauh 2 km ke pinggir jalan, menunggu Adianbania dari
Padangsidimpuan dan baru sampai di Kotanopan Jam 17.00. Tamat dari SMP
Kotanopan, saya kemudian melanjutkan ke SMA Kotanopan. Tetapi sayangnya, saya
harus dipindahkan ke SMA Padangsidimpuan, karena kebetulan dari anak-anak SMA
klas satu naik ke kelas dua ada 4 orang anak yang masuk katagori jurusan
Pas/Pal. Saya termasuk salah satunya. Untungnya semua keperluan perpindahannya
diatur oleh sekolahan. Jadi saya resmi menjadi Anak kelas II Pas/Pal di SMA 2
Padangsidimpuan. Saya sangat menikmati suasana sekolah saya di Padangsidimpuan.
Karena setiap sabtu sore saya bisa pulang ke Aekgarugur (± 30km) dan besok
paginya saya bisa manderes karet. Jadi tiap minggu saya bisa dapat uang sendiri
dari manderes karet uang setara RP75 -100 ribu. Dalam pergaulan saya, saya ikut
Klub Boxing, dan pelari Marathon. Nah yang juga menarik adalah setamat SMA dan
perubahan sikap mencari Pendidikan Berikutnya.
Terus terang, saya tadinya tidak punya niat
untuk kuliah lagi. Hal itu disebabkan keuangan orang tua dan juga belum ada
contohnya anak yang berhasil kuliahnya di Kampung saya. Malah sebaliknya mereka
telah menghabiskan semua kebun dan sawah orang taunya, tetapi sekolah juga
tidak selesai-selesai. Tetapi sekitar dua minggu sebelum pengumuman kelulusan
SMA, saya main ke sekolahan saya. Saat itulah saya baru sadar bahwa sebagian
besar teman-teman saya sudah pada punya rencana kuliah. Mereka umumnya ke
Medan, Padang, Palembang da nada juga yang ke Jakarta, Bogor dan Yogyakarta.
Pada saat itulah hati saya berguncang, dalam hati saya sangat yakin bahwa
dengan ketrampilan hidup ( bisa menderes karet, bisa bersawah, bisa berkebun,
bisa berjualan sayur mayur dengan sepeda, bisa berjualan minyak tanah dengan
sepeda dll) yang sudah saya lakoni di Kampung saya, maka saya percaya saya akan
mampu menghidupi diri saya sendiri dan bahkan yakin mampu mengkuliahkan diri
sendiri, dimanapun kotanya. Pulang dari Sekolahan niat itu saya bicarakan
dengan keluarga. Intinya adalah, keluarga mau mendukung Kuliah ke Yogya dengan
Rp 15 ribu serta mampu membiayai sebesar Seribu rupiah perbulan. Waktu itu
harga beras masih sekitar 30 rupiah/Kg. Jadi perhitungan saya dengan besar 10
kg atau Rp 300 dan dengan uang Rp 700 lainnya saya akan bisa hidup di Yogya
dengan pola saya sendiri. Maka kesampaianlah cita-cita saya untuk meneruskan
Kuliah ke Yogyakarta. Soal gimana nantinya? Yan anti sajalah dibicarakan. Toh
kalau misalnya gagal juga, ya kembali ke Kampung. Begitu saja.
Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak
langsung. Tapi ini untuk setting ceritra tahun tahun 70an. Itu menurut saya
adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia
dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang
tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu
mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan “abang-ijo”
di perempatan jalan. Tetapi semua itu
tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari
mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai
kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekat. Tidak berbeda dengan anakan penyu yang meluncur ke laut, dari ribuan
yang berlari yang sampai hanya beberapa. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu,
hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya
bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuanYogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu.
Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.
Ketika Mampir di Pos Pam Tas Indonesia-Timor Leste
Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Bagaimana anak
kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan.
Banyak dari teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan
bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi
pengaruh yang berlebihan bagi perjalanan nasibku. Sangat bersyukur karena meski
dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat
itu sebuah pencapaian luar biasa. Apalagi bagi seorang siswa lulusan SMA pedalaman dari Sumatera. Tetapi dengan uang satu
ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Tantangannya nyata dan sungguh
luar biasa.
Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi,menurut saya pas. Misalnya dalam
mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya.
Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan,
yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat
mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code kala itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas
itu jauh lebih baik dari di Kampung. Waktu itu saya malah dapat tempat kost
yang tidak perlu bayar apa-apa.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang
harga beras waktu itu per kilonya masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya
sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk
semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di
asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat
percaya jalan pasti ada. Sayayakin
sekali, jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya
belum tahu. Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia
adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak
mengganggu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya,
bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa
tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada
di sana. Cuma bagaimana memulainya.
Ketika Belajar di Australia
Saya beruntung dan tergolong anak anak yang mudah beradaptasi, dan dengan cepat
saya mendapatkan tugas sebagai pembersih dan penunggu “kantor” RW. Sebagai
petugas RW saya boleh memakai sarana itu kapan saja, tugas saya hanya merawat
kantor, mengetikkan dan menyampaikan surat-surat dinas dan undangan. Entah
bagaimana ceritanya, pak RW malah membolehkan saya tinggal di situ, lengkap
dengan makan minum gratis di warung yang ada di dekat kantor itu. Coba
bayangkan, alangkah murahnya hati pak RW itu. Tuhan menolongku lewat kebaikan
hati pak RW. Sederhananya saya dapat pekerjaan jadi penjaga dan merawat kantor
RW tanpa upah, tetapi sebaliknya saya bisa tinggal di kantor itu dan dapat
makan. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan, itu saya peroleh ketika saat
mandi di pinggiran kali code.
Sungguh saya sangat bersyukur karena “tangan Tuhan” memberikan saya begitu
mudahnya dan semuanya. Tempat tinggal dengan semua sarananya, malah ada
listrik, air ledeng dan mesin tik kantor yang bisa saya pakai sampai pagi.
Padahal umumnya warga di kampong
itu ya hanya dengan lampu teplok dan air sumur. Waktu itu, sasaran dan tekad
saya hanya satu jadi penulis. Menulis untuk mendapatkan honor bagi kelanjutan
kuliah. Sebagai mahasiswa UGM akses ke perpustakaan terbuka lebar, bahan bacaan
saya melimpah. Saya terus menulis, menulis, menulis dan menulis. Menulis dengan
mesin tik sebelas jari setiap ada kesempatan.
Sampai suatu hari setelah enam bulan mengetik tulisan siangdan malam. Salah satu tulisan saya dimuat di
Koran dua mingguan EKSPONEN YOGYAKARTA. Aduh senangnya bukan main. Rasanya
dunia ini jadi begitu indah. Saya lalu mengajak anak pak RW mengambil honor
tulisan itu di jalan KH Dahlan. Memang besarnya hanya 500 rupiah, dan honor itu
sendiri saya berikan ke anaknya pak RW. Maka sontak di desa itu nama saya jadi
buah bibir dan terkenal, mahasiswa UGM itu ternyata pintar juga menulis. Tetapi
yang lebih heboh lagi, dua minggu kemudian, koran Sinar Harapan Jakarta memuat
tulisan saya dengan honor 27.500 rupiah begitu juga dengan Surabaya Post dengan
honor 30.000 rupiah. Setelah itu tulisan saya sudah ada dimana-mana. Bayangkan
teman-teman saya umumnya hanya punya wessel antara 15-25 ribu perbulan
sementara saya sudah punya penghasilan dengan rata-rata 30 ribu perbulan.
Saya menikmati kehidupan masa muda saya di Gondolayu selama dua tahun. Pada
tahun ke tiga saya sudah bisa menyewa kamar di Jetis Harjo tepat di depan
Teknik Geologi UGM waktu itu. Sebagai mahasiswa penulis saya juga sudah punya
sepeda motor, dan bisa membayar berbagai kebutuhan saya sebagai mahasiswa
Yogya.Setelah saya memasuki kuliah di tahun
ketiga, maka dunia kepenulisan telah mulai memudar karena digantikan oleh dunia
survei dan pemetaan. Dari segi penghasilan, tantangan kerja di lapangan
ternyata dunia survei lebih menantang. Menulis bagi saya waktu itu hanyalah
jadi selingan, sementara kehidupan saya sudah sepenuhnya di topang oleh
pekerjaan survei dan pemetaan. Apalagi waktu itu saya juga diangkat sebagai
Chief Surveyor untuk lembaga penelitian kerja sama UGM dan KemenPU dalam hal
penelitian persawahan Pasang Surut. Kehidupan mahasiswa saya sangat
mennyenangkan. Mandiri, penuh dinamik dan antusiasme.
Prajurit Dengan Gaji
Terbatas
Setelah lulus
Geodesi UGM, mencari pekerjaan masih tergolong Mudah. Kalau di perusahaan cuku
Telpon Perusahaannya dan pekerjaan selalu Ada. Saya malkukannya dan sempat
beberapa bulan kerja di perusahaan Swasta. Begitu juga kalau mau jadi PNS masih
tergolong mudah. Hanya saja memang harus seperti “magang” dahulu.
MaksudnyaKementerian itu mau menerima,
tetapi waktunya kan pada bulan-bulan tertentu. Jadi sebelum bulan itu datang,
kita jadi “magang” dulu dengan mereka dengan upah sebesar 30% dari Gaji.
Sekedar untuk bisa ongkos ke Kantor. Kebetulan saya dipanggil untuk ikut Wajib
Militer. Maka jadilah saya prajurit TNI. Tetapi jadi prajurit gajinya juga
terbatas, artinya kalau mengandalkan Gaji saja tidak cukup.
Bersama Keluarga
Saya lalu ingat
besaran gaji saat memulai meniti karier di TNI dahulu. Ya di tahun-tahun
1980an. Sebagai seorang perwira pertama dengan pangkat Letnan Satu total
gajinya, sebesar Rp 90 ribu. Itu sudah termasuk ULP ( Uang Lauk Pauk). Artinya
itulah semua. Hal yang sama untuk personil Pollri dan PNS, kalaupun beda
besarnya kecil sekali. Tentu berbeda dengan karyawan swasta. Kalau perusahaanya
baik, ya gajinya besar tetapi kalau perusahaanya biasa saja, maka gajinya juga
menyesuaikan. Tetapi tetap penghasilannya masih lebih baik. Untuk menyicil
Rumah BTN atau katakanlah Sewa rumah, waktu itu, sebesar Rp60 ribuan/bulan.
Bisa dibayangkan bagaimana sisa uang Rp30 ribu itu bisa membiayai makan,
pakaian, sekolah anak-anak dan transportasi kekantor dll dalam sebulan. Dalam
kondisi keuangan seperti itu, kita juga harus menjaga “road Map” jenjang karier
kita. Bagaimana kau bisa tampil sehat, kerja bersemangat dan dapat penilaian
baik dari atasanmu? Terus terang tidak banyak yang bisa lolos dengan baik dalam
hal seperti ini. Intinya adalah kau harus bisa mencukupi keperluan harian
keluargamu terlebih dahulu dan kemudian baru bisa bertugas dengan baik di
tempatmu bekerja. Kau harus paham dengan Pareto 80/20. Tapi bagaimana kau melengkapi keperluan
keluargamu? Itulah tantangannya.
Pada masa itu
banyak sekali hal yang dilakukan oleh mereka-mereka yang mempunyai persoalan
seperti ini. Ada yang nyambi jadi sopir angkot setelah selesai jam kerja. Ada
yang buka warung di rumah kontrakannya. Ada juga yang membuka “lesehan” semacam
pecel lele dan mengajak teman patungan. Ada yang jadi guru les privat, ada yang
jadi petugas “ keamanan” di berbagai tempat usaha atau kegiatan malam. Biasanya
para anggota prajurit/Polri yang punya “pergaulan” bisa memanfaatkan jejaring
seperti ini. Bisa dibayangkan, bagaimana kinerja mereka ditempat kerjanya,
kalau semalaman tidak tidur. Ada juga yang jadi “pengamanan” truk. Jadi anggota
prajurit/polri itu sehabis kerja ikut duduk di kenderaan Truk. Dll ternyata
dinamika kehidupan itu sangat “responsip”, banyak sekali ragamnya, sulit untuk
mengatakannya satu persatu. Bahkan ada banyak yang juga bisa melihat peluang
ditengah-tengah kondisi ekonomi seperti itu.
Pada zaman itu,
setiap instansi yang memiliki peralatan yang banyak diminati oleh masarakat
atau pengusaha (alasan, untuk membantu biaya pemeliharaan)masih diperbolehkan untuk menyewakannya.
Misalnya jajaran Kementerian PU, mereka boleh menyewakan alat-alat eskapator,
stoom walls dsb. Begitu juga TNI., satuan yang mempunyai alat-alat berat
seperti itu atau alat-alat “pemetaan”bisa menyewakannya. Peluang ini sesungguhnya sangat “baik” dan bisa
dimanfaatkan oleh anggota prajurit itu sendiri. Saya pernah melihat seorang
prajurit bisa “menyewakan” alat-alat pemetaan dari satuan TNI terdekat kepada
koleganya di seluruh Nusantara. Karena memang satuan itu ada di setiap Kodam,
boleh dikatakan ada di setiap provinsi. Memang “komisi”nya tidak besar, dalam
artian sang parjurit tersebut juga harus memikirkan nama baiknya dan nama
satuannya. Tetapi yang jelas, kalau bisa memanfaatkannya dengan baik maka ada
“pemasukan” yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut.
Hal lain juga
sangat khas, khususnya pada prajurit TNI/Polri dan PNS yang bisa berbahasa inggeris
atau bahasa lain seperti Jerman, Belanda Dll. Pada masa itu masih sangat banyak
kesempatan untuk bisa mengkuti “pendidikan” di luar negeri. Kelebihannya pendidikan
di luar negeri apa? Pertama sesuai dengan jenjang kariernya, karena secara
langsung bermanfaat untuk meningkatkan SDM di tempat dia bekerja. Penilaian
kantornya pasti bagus. Hal lain yang lebih menarik lagi adalah honor yang
diterima saat mengikuti pendidikan tersebut. Misalnya untuk prajurit TNI/Polri
(waktu itu masih bersatu) dalam satu hari pendidikan di luar negeri minimal
mereka memperoleh $10 dari TNI dan $14 dari Kementerian Pertahanan belum lagi
dari Negara yang menyelenggarakannya. Besarnya tidak mesti tetapi biasanya
sudah menyediakan semua fasilitas dan sarana selama pendidikan. Mulai dari
apartemen, makan minum, rekreasi dan uang saku. Artinya kalau prajurit tersebut
mau berhemat maka ia akan dengan mudah memperoleh $24-$35 perhari selama ia
mengikuti pendidikan. Umumnya mempunyai rentang waktu antara 3-6 bulan. Kalau
di hitung dengan kurs pada waktu itu, setara dengan Rp24-35 ribu perhari.
Bayangkan dengan gaji yang hanya Rp90 ribu per bulan. Peluang yang sungguh
tidak dinyana. Terus terang penulis juga ikut memanfaatkan kesempatan ini. Dari
beberapa Sekolah ke dinasan saya, hanya dua yang saya ambil dalam negeri
selebihnya saya ambil di luar. Mulai dari Amerika, Autralia, dan Inggeris. Berkat
dengan semangat itu. Saya bisa belajar di Mapping Charting And Geodesy Course
(DMA,USA,1984) ; Map Control Survey Course (Aust,1988); Mapping And Manegement
Border Area Course (Aust,1993); Rasvy Regimen tal Officer Course (Aust,1994)
dan MBA (Leicester Univ, 1998)
Hari hari yang menyenangkan dengan keluarga
Hal lain yang
memungkinkan bisa dikerjakan oleh anggota prajurit/Polri atau PNS adalah
menulis. Ya menulis untuk mengejar Honor. Besaran honor menulis pada waktu itu
jauh labih besar daripada saat ini. Kenapa saya berani bilang begitu? Pada
masa-masa itu harga satu artikel untuk harian sekelas Kompas, Sinar Harapan dan
Surabaya Post bisa mencapai antara Rp27.500-35.000. Sementara Koran-koran Lokal
seperti Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Merdeka, Yudhagama Dll bervariasi
mulai dari Rp 1.500-3.500 per artikel. Jadi dengan bisa menulis 2 artikel dalam
sebulan di harian sekelas Sinar Harapan, atau Surabaya Post, atau Kompas
ditambah dengan 4 artikel di harian lokal maka anda bisa memperoleh Rp
50.000-65.000. lumayan kan? Bandingkan dengan gaji yang sebesar Rp 90.000
perbulan. Penulis sendiri, pada waktu itu juga memanfaatkan kemampuan menulis
untuk mencari penghasilan tambahan. Saya kebetulan di ajak teman untuk
bergabung dengan Majalah Elektronika di Bandung. Disamping menjadi anggota
redaksi tersebut, saya juga menjadi penulis buku. Saya punya kesepakatan dengan
Penerbit. Waktu itu, setiap naskah buku yang saya serahkan saya dibayar Rp
1.000.000 ( satu juta ). Dengan catatan, besarnya honor penulisan 12.5 % dari
harga buku. Jadi besaran satu juta itu adalah pembagian honor yang dibayarkan
di depan, yang nantinya akan diperhitungkan kemudian. Kesepakatannya biaya itu,
adalah biaya untuk membantu penulisan; seperti biaya untuk pembelian buku-buku
referensi dan kebutuhan lainnya.
Sebagai bagian dari
provinsi Kalimantan Utara banyak orang menghayalkan bahwa suatu saat Sebatik
akan jadi Singapura nya Kaltara. Bukan tidak ada alasan, pulau Sebatik berada
di pertigaan wilayah Malaysia-Brunai dan Filipina. Tetapi apapun itu, sebatik
sebenarnya adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang perlu mendapat
perhatian. Dia tidak saja sebagai beranda depan Bangsa, tetapi ia layak dan
perlu dijadikan “role model” bagi pengembangan pulau-pulau terluar. Dahulu
Kemenhan dan Kementerian Kelautan dan Kemenhub mencoba untuk mengangkatPulau Nipah, Batam sebagai salah satu model
bagi pengembangan pulau terluar dengan titik berat eknomi dan pertahanan.
Pemerintah lewat KemenPU kemudian mereklamasi pulau Nipah dan jadilah ia
seperti yang sekarang.Tapi sebenarnya belum bisa memberikan makna apa-apa,
kecuali sedikit dari sisi pertahanan.
Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan
Kali ini saya menulis
tentang pengembangan pulau Sebatik ke depan, dengan jalan melihat pulau itu
sejak abat ke 16, bagaimana posisinya terhadap Tawau. Dengan mengetahui sedikit
banyak tentang realitas tersebut maka para perencana nantinya akan bisa
memberikan ciri khas yang sesuai bagi pengembangan pulau Sebatik jadi Kota
Perbatasan. Dari sisi pertahanan Malaysia jelas sudah menjadikan Tawau sebagai
Armatim atau Armada Timur (pangkalan utama Angkatan Laut nya), sementara
Indonesia tidak punya ide terkait untuk itu, meski memang akan ada rencana
pembangunan satu brigif di Nunukan. Tetapi masih jauh dari sepadan. Kalau
Malaysia punya dua Lanud di Tawau dengan panjang runway 3000 meter, nampaknya
Indonesia baru Punya Sepinggan. Sementara Tarakan, Nunukan, Malinau, Putu Sibau
bandaranya baru kelas sedikit diatas “perintis”.
Belanda Juga Diusir
Inggris Dari Tawau. Dalam catatan penulis, awal mula etnis pertama yang
bermukim di Pulau Sebatik adalah etnis Tidung, Mereka bermukim di Pulau Sebatik
bermula sekitar tahun 1912, saat mereka membuka desa Setabu atas perintah
Sultan Tidung. Cerita itu sudah kita dengar dari mulut ke mulut. Termasuk dari
Kepala desa Stabu sendiri (2011) saat penulis melakukan penelitian lewat
Universitas Pertahanan di wilayah itu. Waktu itu, beliau menambahkan bahwa ia
merupakan keturunan langsung dari orang pertama yang membuka daerah Pulau
Sebatik untuk permukiman. Etnis yang menjadi mayoritas di Pulau Sebatik saat
ini bukanlah etnis Tidung tetapi Bugis. Bugis menjadi etnis mayoritas dengan
jumlah mencapai 70% dari keseluruhan populasi Pulau Sebatik. Etnis Jawa menjadi
etnis kedua terbesar, disusul etnis Tidung, Dayak Agaba, Timor, dan Lombok.
Kemudian saya juga mendapati bahwaAmbo
Mang bin Haji Midok diyakini sebagai orang pertama yang membawa keluarganya
menetap di Sebatik pada 1940, tepatnya di daerah Liang Bunyu.
Tapi jauh sebelum itu
padaAbad ke 17, kongsi dagang Hindia
Belanda VOC sudah mulai memperluas wilayah koloni mereka ke Borneo Timur atau
Kalimantan Utara. Pada tahun 1635 Garit Thomasen Pool untuk pertama kalinya
diutus Pemerintah Hindia Belanda berkunjung ke Kaltara untuk melakukan kontak
dagang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara, tetapi usaha ini tidak berhasil. Pada
Tahun 1671 Belanda mengutus lagi Paoelos De Bock dengan kapal Chiolop de
Noorman melakukan perluasan wilayah koloni ke Kalimantan Utara. Mereka
melakukan kontak dagang dengan kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong.
Pada tahun Tahun 1672
Frans Heys dengan tiga Kapal dagang berkunjung lagi ke Kerajaan Kutai
Kartanegara untuk melakukan kontak dagang. Tetapi karena hasilnya kurang
memuaskan maka mereka meneruskan perjalanan ke pesisir Timur pantai Kalimantan
hingga Kalimantan Utara yang sekarang menjadi Negara bagian Sabah Malaysia
Timur. Di suatu tempat kawasan pantai yang disebut Tanjung Tinagat (kini
Tawau), Belanda membuka perkampungan baru. Disini mereka mendirikan perwakilan
dagang sebagai bagian dari wilayah koloni mereka. Pada sebuah batu yang
menjorok ke laut diukir lambang VOC yang secara jelas bisa dilihat dari laut
sebagai bukti bahwa Tanjung Tinagat (Tawau) adalah wilayah koloni Hindia
Belanda.
Strategisnya Tawau atau
Malaysia, itu terlihat dari upaya Belanda dan Inggeris memperebutkan Tawau.
Pada masa itu. Inggris yang telah menguasai India, Burma, semenanjung Malaya,
dan Singapura, juga tengah memperluas wilayah koloninya ke Borneo Utara.
Sarawak, Berunei dan Sabah berhasil mereka diduduki. Inggris berniat memperluas
wilayah jajahanya hingga Tawau, tetapi tidak berhasil. Kota Tawau lebih dahulu
dikuasai Belanda. Mereka terikat perjanjian bahwa sesama Bangsa Eropa tidak
boleh saling berebut wilayah jajahan yang sudah dikuasai.
Akan tetapi keinginan
Inggris tidak berhenti sampai disitu. Dengan sengaja Inggris membuat kekacauan
di Tawau. Suku Heban dan suku suku lain diadu domba bahwa mengayau atau
memenggal kepala Manusia diperbolehkan dengan alasan adat. Maka terjadilah
perang antar suku di Kota Tawau. Di muara sungai Tawau dirintangi berbagai
pohon yang sengaja ditumbangkan. Kapal-kapal dagang Belanda dan kapal dagang
asing dirampok, awak kapalnya dibunuh. Kantor maskapai VOC Belanda diserang
kemudian dibakar. Batu cadas yang bertuliskan lambang VOC diujung tanjung
dihancurkan oleh agen Inggris untuk menghilangkan bukti tapal batas wilayah
koloninya Belanda.
Meluasnya kekacauan di
Tawau membuat Belanda merasa kewalahan. Akhirnya orang-orang Belanda menyingkir
kesebuah desa yang disebut Kampung Pembeliangan. (kini berada di Kabupaten
Nunukan). Disini Belanda berkirim surat Kepada Raja Bulungan Sultan Kaharuddin,
untuk minta dijemput. Maka sultan mengirim beberapa perahu mengambil
orang-orang Belanda untuk dibawa ke Tanjung Palas, ibukota kerajaan Bulungan.
Sesampai di Tanjung Palas Sultan Kaharuddin mengajukan penawaran Kepada
orang-orang Belanda apakah akan pulang kenegeri Belanda atau tetap ingin
tinggal di Bulungan. Ternyata mereka memilih untuk tetap tinggal di Kerajaan
Bulungan. Oleh Sultan kaharuddin Orang-orang Belanda ini diberi tempat tinggal
berupa tanah seribu depa diseberang Sungai Kayan. Tempat orang-orang Belanda
ini sekarang menjadi Kota Tanjung Selor, ibuKota Kabupaten Bulungan.
Kisah masa lalu
setidaknya telah memberikan kita semacam referensi bagaimana perebutan wilayah
ini dilakukan serta bagaimana Belanda mengincar posisi strategis wilayah Tawau
dalam perdagangan. Dari sudut pandang ini, maka cara yang termudah untuk
mengembangkan kawasan di segitiga Tawau, Malaysia-Brunai-Filipina adalah dengan
jalan melakukan sinergi terhadap berbagai keunggulan yang sudah ada. Posisi
Pulau Sebatik-Nunukan-Tarakan-Sangata-Balikpapan adalah partner yang sangat
ideal bagi perkuatan kota Tawau sebagai pertigaan arus ekonomi yang mengkaitkan
potensi Malaysia-Brunai-Indonesia dan Filipina. Bagaimana Kota perbatasan Pulau
Sebatik mampu memanfaatkan potensi disekitarnya demi kemaslahatan bersama.
Masih ingat sejarahnya bagaimana Pulau Batam jadi Badan
Otorita (sekarang Badan Penggusahaan,BP) pada tahun-tahun awal kelahirannya
1970an? Adanya semangat untuk menghadirkan Kota Industri yang bisa bekerja sama
dengan negara tetangga, kota yangtidak
disibukkan oleh birokrasi pemerintahan, dan dikelola laiknya sebuah perusahaan.
Sekarang ini Kota Batam[1]
adalah kota terbesar di Kepulauan Riau dan merupakan kota
dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatra setelah Medan dan Palembang, Menurut Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam Per April 2012 jumlah penduduk Batam
mencapai 1.153.860 jiwa.
Metropolitan Batam terdiri dari tiga pulau, yaitu Batam, Rempang dan Galang yang dihubungkan oleh
Jembatan Barelang. Batam merupakan
sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran
internasional, kota ini memiliki jarak yang cukup dekat dengan Singapura dan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan
pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota
ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam
bertumbuh hingga 158 kali lipat. Dan jangan lupa Batam masih tergolong wilayah
perbatasan, yang memang pantas untuk dijadikan halaman depan bangsa. Lalu
bagaimana dengan Pulau Sebatik?
Ikon Kota Perbatasan
Pengembangan Kota Pulau
Sebatik (selanjutnya disebut Kota Sebatik)ke depan haruslah mengupayakan untuk mengoftimalkan pemanfaatan berbagai
potensi sumber daya yang ada, baik dari sisi letak geografisnya sendiri maupun
potensi sumber daya alam yang telah ada, mencakup pengembangan usaha perikanan
tangkap, rumput laut, pengembangan usaha tani perkebunan dan tanaman pangan
seperti kakao, kopi, kelapa sawit dan padi serta pengembangan usaha-usaha
perdagangan dan jasa yang menjadikannya sebagai pintu masuk ke Indonesia
khususnya wilayah KalimantanTimur dan Kalimantan Utara, khususnya kota-kota
disepanjangn pantai timur Kalimantan mulai dari Balikpapan, Bontang,Tanjung
Selor, Tarakan, Nunukan dan Sebatik; dan juga sepanjang jalan paralel
perbatasan mulai dari Tanjung Datu-hingga ke Nunukan, termasuk di dalamnya
adalah potensi pariwisata (Trade and Service).
Usaha dan upaya diatas
dipandang penting dalam menggerakan perekonomian Pulau Sebatik. Kalau dilihat
dari potensi wilayah-wilayah yang ada di belakang Sebatik, maka jelas daya
tarik pengembangan ekonomi kawasan perbatasan di segi tiga
Malaysia-Brunai-Filipina itu akan sangat terpesona oleh potensi yang dimiliki
Sebatik dan jajarannya. Terlebih lagi kalau Sebatik-Tawau bisa di satukan lewat
jalan khusus (dengan Kapal Ferry-Roro) atau Jembatan sekelas Barelang. Kalau di
perhatikan secara alami saja perkembangan Pulau Sebatik selama ini telah jadi
perhatian utama bagi kawasan disekitarnya- sehingga dapat menjadi perhatian
positip dari kota tetangganya Tawau. Tawau secara pasti telah menjadikan
Sebatik sebagai partner dagang yang baik dan memberikan semangat kerjasamanya.
Kalau sebatik didandani dengan sarana dan prasarana yang tepat maka tidak
mustahil Kota Sebatik akan sangat memukau.
Bisa kebayang nggak?
Kalau misalnya suatu saat nanti dibentuk sebuah Badan Pengelola Kawasan Sebatik ( disingkat BPKS) yakni lembaga instansi
pemerintah Pusat yang dibentuk oleh BNPP (Badan Nasional Pengelola Perbatasan)
yang mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengelolaan, pengembangan dan
pembangunan kawasan perbatasan sesuai dengan fungsi-fungsi kawasan?Badan semacam ini sangat dibutuhkan dalam
upaya membangun perbatasan jadi beranda depan kedaulatan bangsa. Seperti di
Batam terdapat dua model pengelolaan dalam satu Pulau yakni satu Kota Batam dan
satunya lagi BP Batam.
Badan Pengelola Kawasan Sebatikini nantinya akan
menyiapkanbeberapa proyek unggulan
untuk meningkatkan keunggulan dan kelebihan Pulau Sebatik dari kawasan
sekitarnya. Langkah ini dimaksudkan untuk menjadikan Pulau Sebatik sebagai
tempat investasi yang menarik bagi kalangan perdagangan dan pelabuhandi kawasan segi tiga emas
Malaysia-Brunai-Filipinadan sekitarnya.
Proyek tersebut di
antaranya seperti pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Sebatik-
Nunukan dan pulau Kalimantan,bahkan termasuk dan sampai ke Tawaunya sendiri. Kemudian
diikuti dengan pengembangan pasilitas PPLB Lamijung yang menjadi satu kesatuan
dengan Border Trade Zone, jalan tol Sebatik –Nunukan dan pulau Kalimantan,
Perluasan atau peningkatan kualitas Pelabuhan Nunukan- pembangunan SMK unggulan
pertanian, perikanan Rumput Laut, Karet dan Kakao dan bahkan balai pelatihan
untuk TKI.
Konsepsi pengembangan
wilayah Kabupaten Nunukan secara umum dan pulau Sebatik khususnya di masa depan
harus terintegrasi dan dikembangkan melalui strategi pengembangan wilayah yang spesifik
sesuai dengan kondisi geografi wilayahnya, yang sinkrondengan VISI INDONESIA 2025 DAN KONEKTIVITAS
ASEAN serta Masyarakat Ekonomi Asean 2015baik pada wilayah laut maupun daratnya. Hal ini dikarenakan pada wilayah
ini disamping merupakan wilayah perbatasan juga sebagai simpul dalam system
jaringan perdagangan antar Negara, yang bisa memanfaatkan potensi perekonomian
kota-kota besar di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara khususnya Balik Papan,
Samarinda, Bontang, Sangata, Tanjung Selor, Tarakan dan Nunukan dengan
kota-kota di wilayah Sabah.
Perekonomian wilayah di
pulau Sebatik sebenarnya telah jadi daya pikat tersendiri di daerah itu. Kalau
saja Sebatik bisa dijadikan tumpuan sarana Transit (Ferry Roro-Kapal Laut Cepat
dan Kapal Pesiar Sewaan), fasilitas pelabuhan, serta jaringan Hotel dan
penginapan maka ia akan jadi tempat transit yang menyenangkan dan apalagi bisa
lebih murah bagi kota-kota disekitarnya. Misalnya dengan Tarakan. Tarakan dapat
dicapai dan dilayani oleh kapal Feri Tawindo MV dan Indomaya MV pulang pergi,
setiap pagi jam 09.00 dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan dan jam 11.00. Harga
tiket feri dari Tarakan adalah Rp 290.000 per orang(data tahun 2013) dan dari
Tawau adalah 140 MYR (ringgit) per orang dan tidak tersedia tiket dengan kategori
eksekutif ataupun ekonomi. Lama perjalanan adalah 4 sampai 5 jam tergantung
cuaca laut.
Sebatik, Tarakan dan
Tawau adalah surga petualangan laut, bila di Tarakan anda bisa melanjutkan
jalan ke Pulau Derawan, maka dari Tawau anda dapat ke Pulau Sipadan dan
Ligitan. Kalau Sebatik misalnya bisa membuat paket Tour dari Sebatik ke Pulau
Derawan dan kota-kota disekitarnya termasuk paket penginapan, transport dan
island shopping bahkan dengan atau tidak termasuk makan serta pengeluaran
pribadi. Kemudian hal yang sama Tour ke Tawau- Semporna-Sipadan-Ligitan.berikut
kota-kota di sekitar nya, maka ia akan jadi sesuatu yang menarik.
Sekarang sudah era
globalisasi, termasuk didalamnya globalisasi ekonomi yang sedang dan masih
terus akan berlangsung membawa dampak terhadap pergerakan orang, barang dan
modal yang tidak lagi dapat dibatasi oleh dimensi waktu dan ruang. Menurut
Dumairy[2]
globalisasi dimaknai mendunianya kegiatan perekonomian, yang tidak lagi
mengenal batas kenegaraan; globalisasi bukan hanya sekedar berada di tataran
nasional, namun sudah menjadi transnasional kegiatan yang tidak hanya mencakup
aspek perdagangan dan keuangan saja, tapi sudah memasuki ranah aspek produksi,
pemasaran dan sumber daya manusia. Konsekuensinya, perekonomian antar Negara menjadi
saling berkaitan, dimana peristiwa ekonomi suatu Negara dengan dan mudah
berimbas ke Negara lainnya.
Apakah Sebatik serta kawasan perbatasan di
Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dapat memanfaatkan dampak positif arus
globalisasi ekonomi, terutama peluang perdagangan bebas kawasan sekitarnya.
Artinya, langkah awal pengembangan perdagangan seperti apa yang pas untuk
Sebatik? Apakah perdagangan bebas perlu dikembangkan di kawasan Pulau Sebatik?
Semua itu sangat tergantung pada kemampuan memanfaatkan potensi pasar Negara
Bagian Sabah, Brunai dan Filipina dengan memanfaatkan peraturan yang ada yakni
Border Trade Agreement (BTA) Tahun 1970 serta aturan yang ada pada BIMP-EAGA?
Untuk menjawab pertanyaan
ini sebaiknya dalam jangka pendek perdagangan bebas lintas batas negara lewat
lautlah kelihatannya yang “lebih mudah”; yakni melalui pembentukan Border Trade
Zone (BTZ) – Pos Pengamanan Lintas Batas (PPLB), khususnya di kawasan
perbatasan laut (pesisir), mencakup Nunukan dan sekitarnya. Dalam jangka panjang
secara bertahap PKSN atau PPLB yang berada dikawasan perbatasan darat
dikembangkan kegiatan perdagangan bebas lintas batas.
Kawasan perbatasan laut
(pesisir) yang kita sebut di sini mencakup 5 Kecamatan di Pulau Sebatik, 2
Kecamatan di Pulau Nunukan (Nunukan, Nunukan Selatan) dan wilayah pesisir
Kecamatan Sei Manggaris. Untungnya sejak awal telah dipersiapkan infrastruktur
yang diperlukan untuk mendukung pergerakan lalu lintas orang dan barang.
Infrastruktur transportasi berupa bandar udara Nunukan dan pelabuhan laut Tunon
Taka, untuk melayani kapal melakukan bongkar muat barang dalam jumlah besar
sudah tersedia.
Demikian pula PPLB
Lamijung akan segera difungsikan sebagai lalu lintas keluar - masuk orang dari
Nunukan ke Tawao atau sebaliknya. Model pengembangan Kawasan Perbatasan
Lautyang merupakan pilihan tepat untuk
mengembangkan Nunukan dan sekitarnya membutuhkan keberadaan KawasanBerikatdan KawasanPelabuhanBebas.Dalamhal yang sama, Menteri
Dalam Negeri selaku Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah
mencanangkan Pulau Sebatik sebagai Kawasan Pengembangan Agroindustri dan Jasa
Maritim, pada 28 Mei 2012 lalu. Sebagai kawasan pengembangan agroindustri lebih
realistis untuk segera direalisasikan dalam jangka pendek, dibandingkan dengan
pembentukan kawasan berikat. Karena kawasan berikat membutuhkan penyediaan
sarana dan prasarana yang lebihkompleks.
Namun demikian, pilihan
model pengembangan diatas sudah mengisyaratkan peluang untuk dilakukannya
kegiatan perdagangan bebas dikawasan perbatasan, walaupun perdagangan bebas
dimaksud tidak dalam skala besar pada tahap awalnya. Ketersediaan fasilitas
kepelabuhan perlu disiapkan dan dikembangkan, seperti dermaga, terminal
penumpang, lahan penumpukan barang (kontainer), gudang, perkantoran, fasilitas
CIQ serta pengamanan harus sudah disiapkan. Kenyataannya seluruh fasilitas
dimaksud sudah tersedia pada pelabuhan laut Tunon Taka; hanya saja setatus
pelabuhan tersebut belum sebagai Pelabuhan ekspor – impor.
Rencananya Pemerintah
daerahakan segera memindahkan lalu
lintas pergerakan orang dari Nunukan menuju Tawao atau sebaliknya, yang semula
berada di Tunon Taka, dialihkan ke Lamijung yang nantinya akan menjadi PPLB
Laut (dilengkapi CIQS) Keberadaan Tunon Taka dan Lamijung ini dalam jangka
pendek sudah relevan untuk mendukung terwujudnya perdagangan bebas lintas
batas, karena selama ini antara Nunukan dan Tawao sudah terjadi kegiatan ekspor
- impor melalui mekanisme perdagangan lintas batas berdasarkan ketentuan BTA.
Apa yang terjadi saat ini
memang seolah dan nyatanya menjadikan posisi Nunukan tidak mengun tungkan;
karena hal yang tidak mungkin dipungkiri lagi adalah produk olahan dari
Malaysia sudah membanjiri pasaran retail di Sebatik, Nunukan, bahkan sudah
merambah Tarakan; padahal belum tentu produk produk tersebut sesuai dengan
standar laik sehat yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia (SNI).
Hal seperti ini mestinya
harus dapat dilihat sebagai bagian dari proses alami. Sebab sejak zaman
kolonial dahulu, Tawau memang sudah lebih berkembang bila dibandingkan dengan
Nunukan apalagi Sebatik.Dihadapkan pada
kondisi demikian, maka langkah yang bijak dan terbaik adalah memformalkan
kegiatan perdagangan lintas batas ini, menjadi perdagangan bebas lintas batas.
Dengan demikianPemerintah agar mempertim bangkanperubahan status Pelabuhan Tonan Taka menjadi
pelabuhan ekspor - impor; atau pelabuhan lainnya di Pulau Sebatik dalam rangka
menjadikan Sebatik sebagai kawasan perkotaan, dengan basis agroindustri dan
jasa maritim. Keberadaanpelabuhan
ekspor - impor ini adalah sebagai pintu keluar - masuk tunggal kegiatan
perdagangan bebas, tidak hanya untuk perdagangan bebas lintas batas, namun
lebih luas dari itu, yaitu dipersiapkan untuk perdagangan luar negeri yang
mencakup BIMP-EAGA-Asean-Brunai-Malaysia-Indonesia dan Filipina.
Langkah berikutnya,secepatnya merealisasikan Lamijung sebagai
PPLB (CIQS), untuk keperluan lalu lintas orang antar Negara. Pergerakan
pelintas batas ini, baik menggunakan passport atau pass lintas batas tidak
menutup kemungkinan akan membawa barang, baik untuk keperluan pribadi maupun
dagang. Adanya PPLB ini maka kegiatan keluar masuknya orang/barang dapat lebih
terpantau dengan baik. PPLB lainnya ditempatkan di Pulau Sebatik. Keberadaan
kedua PPLB tersebut, apabila sudah berfungsi dengan baik, maka pelbagai pos
lintas batas tradisional yang ada harus ditutupsecarabertahap,mengingatselamaini kegiatan perdagangan
illegal banyak melalui pos tradisional dimaksud, yang sudah menyatu dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari.
Langkah berikutnya upaya
memberi nilai tambah pada produk hasil bumi, hasil laut dengan jalan melakukan
pengolahannya terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan adanya Border Trade Zone
(BTZ) dalam kawasan PPLB. Konsepsi BTZ ini identik dengan upaya perluasan
marketing. Dalam kawasan ini dipertemukan penjual - pembeli, denganmemperdagangkan produk setegah jadi atau
untuk sementaraproduk ekstratif; BTZ
ini perlu dilengkapi fasilitas gudang untuk transit (penyimpa nan sementara)
produk yang diperdagangkan; didukung sistem pengelolaan profesional, transaksi
perdagangan (ekspor), bongkar muat yang dapat diselesaikan cepat dan
profesional, serta langsung dapat dikapalkan atau sementara menunggu proses
administratifnya, produk tersebut dapat dititipkan di gudang transit) sebelum
diekspedisikan menuju pelabuhan ekspor - impor (kapal).
Langkah berikutnya,
memastikan produk yang diperdagangkan merupakan produk unggulan kawasan; unggul
dari segi apa saja, mulai dari kualitas produk, harga jual yang kompetitip;
tentu ini membutuhkan strategi dan taktis yang komprehensipmulai dari upaya perbaikan pada faktor
pembudidayaannya yang didukung faktor penanganan pasca produksi; sudah ada
sentuhan teknologi (kompetitif dinamis). Produk unggulan sejatinya diproduksi
dalam skala besar, sehingga ini hanya dimungkinkan oleh perusahaan yang
memiliki modal besar dan lahan usaha yang luas dengan pola Inti-Plasma.
Sementara produksi yang dilakukan secara individual terutama penduduk lokal,
harus dihimpun terlebih dahulu dalam suatu lembaga usaha bersama semisal
"koperasi".