Oleh Harmen Batubara
Hidup adalah pilihan.
Dan setiap manusia diberi hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita
bisa memilih menjadi pribadi yang berani melangkah berbeda, atau memilih hidup
apa adanya. Tidak ada yang sepenuhnya salah, juga tidak selalu lebih baik.
Karena pada akhirnya, hidup ini adalah milik kita sendiri.
Namun, hidup hanya sekali. Rasanya terlalu sayang jika dijalani tanpa
makna, tanpa keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang benar-benar kita
inginkan. Karena itu, tentukanlah maumu.
“MauMu” adalah arah hidupmu.
Ia adalah tujuan yang membuat seseorang tetap bertahan, tetap bekerja keras,
dan tetap percaya meski keadaan sering kali tidak mudah. Pada akhirnya, tujuan
hidup manusia bukan hanya tentang mencari penghidupan, tetapi juga tentang
beribadah kepada Sang Pencipta, memberi manfaat kepada sesama, dan menjaga
kehidupan di sekitarnya dengan sebaik-baiknya.
Sebenarnya, mauku dan maumu mungkin sederhana:
kita hanya ingin hidup yang selaras dengan keinginan, minat, bakat, dan tujuan
hidup kita sendiri.
Banyak orang berkata, “Ikuti saja passion-mu.”
Tetapi kenyataannya hidup tidak sesederhana itu. Setiap orang memiliki
keinginan dan gairah terhadap sesuatu. Sama seperti saat seseorang jatuh cinta
pada pandangan pertama—dunia terasa begitu indah dan semuanya terasa mungkin.
Kita mencintai keluarga, pekerjaan, hobi, lingkungan, bahkan hal-hal kecil yang
membuat hidup terasa berarti. Ada yang bahagia saat membantu orang lain, ada
yang menemukan ketenangan ketika bertani, berdagang, merawat anak, menjaga
alam, atau memelihara hewan.
Namun hidup sering bertanya lebih keras:
“Bagaimana kalau nasibku sudah begini?”
“Aku hanya petani penggarap.”
“Anakku sudah tiga.”
“Aku ingin kuliah, tapi orang tuaku tidak punya biaya.”
Pertanyaan-pertanyaan itu nyata. Dan jawabannya memang tidak mudah.
Dalam dunia strategi militer ada istilah ramalan pelibatan—memperkirakan
kemungkinan yang akan terjadi di masa depan agar kita masih punya kesempatan
melakukan antisipasi. Seperti permainan catur: sebelum melangkah, kita mencoba
menghitung segala kemungkinan, untung dan rugi, lalu menentukan langkah
terbaik.
Begitu pula hidup.
Jika seorang anak ingin kuliah, maka kesadaran itu seharusnya dibangun
sejak awal. Bukan hanya menunggu keajaiban datang setelah lulus sekolah.
Anak-anak perlu dibekali keterampilan hidup sejak muda. Keterampilan apa saja
yang bisa membuat mereka bertahan dan menghasilkan di kampungnya sendiri:
bertani, berdagang, berkebun, memperbaiki sesuatu, atau pekerjaan apa pun yang
memberi nilai.
Keterampilan sederhana sering kali menjadi penyelamat hidup.
Sebagai anak kampung, aku pernah menikmati semua itu.
Saat SMP hingga SMA, aku belajar banyak hal dari kehidupan desa. Dan jujur,
dari situlah aku merasakan nikmatnya hidup. Waktu itu cita-citaku pun
sederhana. Jika aku tidak bisa melanjutkan sekolah, mungkin aku akan tetap
tinggal di kampung, bekerja, menikah, lalu menjalani hidup seperti kebanyakan
orang.
Namun ternyata Tuhan menyiapkan jalan lain.
Saat pengumuman kelulusan SMA, aku baru sadar bahwa hampir semua kawanku
sudah punya rencana kuliah ke berbagai kota: Medan, Padang, Jakarta,
Yogyakarta, Surabaya, dan lainnya. Saat itu aku tersentak. Untungnya waktu
belum terlambat.
Aku percaya satu hal:
siapa pun yang memiliki keterampilan hidup, tidak akan benar-benar miskin.
Dengan keyakinan itu, aku memberanikan diri memutuskan pergi merantau ke
Yogyakarta untuk kuliah. Keputusan itu membuat kampungku geger. Orang tuaku
khawatir. Mereka sulit percaya bahwa anak kampung yang kurus dan sederhana itu
berani mengambil langkah sebesar itu.
Tetapi mungkin mereka juga tahu:
ada mimpi yang tidak boleh dipatahkan.
Akhirnya mereka merelakan aku pergi merantau, mencoba mengikuti jalan
nasib yang kupilih sendiri.
Lalu bagaimana jika hidup sudah terlanjur rumit?
Sudah punya anak, sudah banyak tanggungan, atau usia tidak lagi muda?
Maka skenarionya harus diubah.
Kita perlu menghitung ulang kebutuhan hidup, kemampuan yang kita punya, dan
peluang yang masih bisa diciptakan. Mungkin perlu belajar keterampilan baru,
mencari tambahan penghasilan, atau memulai sesuatu dari bawah lagi.
Tetapi percayalah:
ketika kita menemukan masalah yang sebenarnya, di situlah jalan keluar mulai
terlihat.
Dan tentang anak atau cucu yang ingin kuliah?
Biarkan mereka tetap punya harapan. Hari ini banyak jalan untuk belajar. Ada
kuliah daring, ada pendidikan terbuka, ada banyak kesempatan yang dulu bahkan
tidak pernah kita bayangkan.
Sambil belajar, mereka juga bisa memperkuat keterampilan hidupnya.
Karena pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi tentang kemampuan untuk
bertahan, berkembang, dan memberi manfaat.
Nasib memang tidak selalu bisa kita pilih saat lahir.
Tetapi arah hidup masih bisa kita desain ulang.
Dan sering kali, perjalanan memperbaiki nasib itulah yang justru membuat
hidup terasa paling bermakna.
