January 30, 2026

Membuat Batam Jadi Surga Belanja Sungguhan-Saatnya Memberikan yang Terbaik

 


Oleh   Harmen Batubara

Bayangkan sebuah wilayah perbatasan yang tak hanya menjadi pintu gerbang antar negara, tapi juga tempat di mana impian berbelanja terwujud tanpa batas—di mana harga mewah turun seperti embun pagi, layanan ramah menyapa seperti sahabat lama, dan setiap langkah membawa sensasi eksotis dari dua dunia bertemu.

Kini, Batam telah bangkit sebagai surga belanja nyata bagi warga Singapura dan Malaysia, didorong oleh status Free Trade Zone-nya yang legendaris. Kawasan ini menawarkan diskon-diskon gila pada elektronik, fashion, kosmetik, bahkan pariwisata mewah, sembari memanfaatkan lokasi strategis dekat pelabuhan internasional dan dermaga feri yang mudah dijangkau. Pusat perbelanjaan megah seperti Harbour Bay atau Nagoya Hills bukan sekadar gedung beton, melainkan simfoni modernitas yang mengundang Anda untuk merasakan kebebasan ekonomi tanpa pajak penghalang.

Bayangkan sebuah beranda rumah yang selalu ramai dikunjungi tetangga. Mereka datang bukan sekadar bertamu, tapi membawa harapan untuk menemukan sesuatu yang istimewa yang tidak ada di rumah mereka sendiri. Itulah Batam hari ini bagi Singapura dan Malaysia.

Sebagai kawasan Free Trade Zone, Batam adalah "anomali" yang manis. Di sini, batas negara bukan lagi pemisah, melainkan pintu peluang. Namun, pertanyaannya: Apakah kita sudah benar-benar menjadi tuan rumah yang memberikan "surga", atau sekadar menjadi "etalase transit"?


Diplomasi Keramahan di Gerbang Depan

Kita bangga dengan label harga yang kompetitif dan akses feri yang secepat kedipan mata. Namun, surga belanja yang sesungguhnya tidak dibangun hanya dari tumpukan barang murah. Ia dibangun dari pengalaman.

Saatnya kita melampaui sekadar transaksi. Kita perlu meningkatkan standardisasi pelayanan yang tidak hanya ramah, tapi profesional dan berintegritas. Wisatawan dari negeri jiran harus pulang dengan cerita tentang bagaimana Indonesia memperlakukan mereka dengan martabat, kenyamanan, dan rasa aman yang tak tertandingi.

Paradoks di Balik Gemerlap Mal

Namun, di balik kilau itu ada pertanyaan mendalam: Apakah Batam benar-benar menjadi surga bagi semua, termasuk rakyat lokal yang hidup di pinggiran? Kehadiran ribuan wisatawan asing ini memang menghidupkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan daerah. Tapi bagaimana nasib warga Batam sendiri?

Harga-harga dasar seperti beras, minyak goreng, atau transportasi mulai bergoyang naik akibat permintaan tinggi, membuat kehidupan sehari-hari mereka lebih sulit. Bukan berarti kita harus menutup pintu bagi tamu-tamu kaya ini—justru sebaliknya! Ini adalah panggilan darurat kepada pemerintah, bisnis swasta, komunitas lokal, dan siapa pun yang peduli.

Jadikan Batam bukan hanya surga bagi orang luar, tapi juga rumah hangat bagi anak-anak negerinya. Mulailah dengan program subsidi untuk produk esensial lokal, integrasikan teknologi digital untuk transparansi harga, dan dorong kolaborasi lintas batas yang adil, sehingga manfaatnya tersebar luas tanpa meninggalkan satu jiwa pun tertinggal.

Menjadikan Batam bermanfaat bagi tetangga tidak boleh berarti mengorbankan daya beli masyarakat setempat. Di sinilah peran kebijakan yang cerdas diperlukan:

Segmentasi yang Adil: Memastikan ketersediaan kebutuhan pokok lokal tetap terjaga dan terjangkau, sementara barang perdagangan bebas tetap kompetitif untuk pasar ekspor/wisata.

Integrasi UMKM: Jangan biarkan merek global mendominasi. Berikan panggung utama bagi produk lokal agar "surga belanja" ini memiliki jiwa Indonesia yang otentik.

Sebuah Ajakan Kolaboratif

Menjadikan daerah perbatasan sebagai aset bernilai adalah tugas kolektif. Pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat akar rumput harus bergerak dalam irama yang sama.

Apa yang perlu ditingkatkan lagi?

Infrastruktur yang Manusiawi: Bukan hanya mal yang megah, tapi trotoar yang nyaman dan transportasi publik yang terintegrasi.

Digitalisasi Pelayanan: Mempermudah setiap jengkal proses birokrasi dan transaksi.

Pencerahan Budaya: Mengedukasi bahwa setiap wisatawan adalah duta yang akan membawa nama baik Indonesia ke kancah dunia.

Batam adalah wajah terdepan kita. Jika kita mampu memberikan yang terbaik—keseimbangan antara kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial—maka Batam bukan lagi sekadar tempat singgah untuk mencari barang murah. Ia akan menjadi simbol peradaban perbatasan yang modern, bernilai, dan penuh berkah bagi semua yang berpijak di atasnya.

Saatnya kita berhenti bermimpi dan mulai beraksi. Mari jadikan Batam surga yang nyata, bagi mereka yang datang, dan terutama bagi kita yang menetap.



 

 


November 29, 2025

Starbuck VS LuckIn, Kopi Kini Bukan Lagi Soal Gaya

 


Oleh Harmen Batubara

Pada 30 Maret 1971, di Seattle, Washington, tiga sahabat—Jerry Baldwin (guru bahasa Inggris), Zev Siegl (guru sejarah), dan Gordon Bowker (penulis)—membuka kedai Starbucks pertama di 2000 Western Avenue. Terinspirasi oleh pemanggang kopi Alfred Peet yang mereka kenal pribadi, mereka hanya menjual biji kopi berkualitas tinggi beserta peralatannya, tanpa menyentuh minuman kopi. Relokasi ke 1912 Pike Place pada 1976 mempertahankan semangat sederhana itu. Namun, angin perubahan berhembus: pada 1984, mereka mengakuisisi Peet's Coffee, memulai penjualan kopi siap minum. Tahun 1986, enam toko di Seattle mulai menyajikan espresso. Puncaknya, 1987, Howard Schultz membeli perusahaan, mengubahnya menjadi ritual global—kafe nyaman dengan sofa empuk, WiFi gratis, musik lembut, dan latte art yang Instagramable. Starbucks bukan lagi sekadar kopi; ia jadi simbol gaya hidup, pusat sosial mendunia dengan ribuan gerai di setiap sudut kota.

 Kedatangan Pendatang Baru Luckin Coffee

 Lalu datang “Luckin Coffee” pada Oktober 2017, seperti petir di siang bolong. Didirikan di China, Luckin tak peduli romantisme. Mereka menargetkan pencinta kopi sejati—pekerja kantor sibuk, mahasiswa di kampus, siapa pun yang butuh kafein cepat, di mana pun. Toko kecil "pickup" di gedung perkantoran atau kampus, tanpa tempat duduk mewah, tanpa dekorasi artsy. Pesan via app, ambil, atau kirim—sederhana, to the point. Hanya kopi enak yang kamu suka, harga terjangkau. Hebatnya, Januari 2018, toko pertama di Beijing dan Shanghai langsung meledak: 1.300 gerai, lampaui Costa Coffee jadi nomor dua di China. Pada Januari 2020, 4.507 toko—melebihi Starbucks di pasar asal mereka.

 Perubahan bisnis dunia, khususnya kopi, kini bergeser drastis. Pandemi percepat digitalisasi: konsumen tak lagi haus "third place" ala Starbucks, tapi efisiensi. Luckin kuasai rantai pasok lincah—roasting lokal, app terintegrasi, pengiriman instan—didukung jaringan China raksasa (super app seperti WeChat). Starbucks, raksasa global dengan kekuatan merek dan suplai biji premium, terpaksa adaptasi: tambah drive-thru, pickup, delivery. Gaya hidup berganti selera praktis; Gen Z dan milenial urban pilih kopi fungsional, bukan pose. Luckin bukti: di era hyper-connected, bisnis kopi unggul lewat kecepatan, aksesibilitas, dan harga—bukan lagi soal gaya. Starbucks akhirnya mengakui: kopi kini hakikatnya kafein, bukan cerita.


Drama Persaingan Menemukan Peminum Kopi Sejati

* “Outlook:” Luckin Coffee[1] diproyeksikan mencapai pendapatan sebesar CN¥ 73.6 miliar dan laba CN¥ 6.9 miliar pada tahun 2028, membutuhkan pertumbuhan pendapatan tahunan 21.5%.

*   “Jumlah Toko:”

* “Q1 2025:” Jaringan toko Luckin[2] meluas hingga lebih dari 24.000 lokasi, menjadikannya rantai kopi terbesar di China berdasarkan jumlah toko. Ini termasuk 15.541 toko yang dioperasikan sendiri dan 8.491 toko kemitraan di China, serta 65 toko internasional.

* “Q2 2025:” Luckin[3] telah berkembang menjadi 26.206 toko pada Juli 2025.

* “Q3 2025:” Menambah 3.008 toko baru, sehingga total toko menjadi 29.214. Pada akhir Juni 2025, total jumlah toko Luckin[4] mencapai 26.206, termasuk hampir 9.300 lokasi waralaba.

* “Pelanggan:” Rata-rata pelanggan[5] transaksi bulanan mencapai rekor tertinggi 112.3 juta pada Q3 2025.

* “Ekspansi Internasional:” Luckin[6] telah membuka dua toko pertama di AS pada 30 Juni 2025, di New York City, diikuti oleh toko ketiga dan keempat dalam waktu kurang dari dua bulan. Lima toko di New York telah dibuka pada Juli 2025.

 “Starbucks[7] di Tahun 2025:”

*   “Pendapatan (Revenue):”

* “Q4 FY25 (berakhir September 2025):” Pendapatan konsolidasi global meningkat 5% dari tahun ke tahun menjadi US$ 9.6 miliar. Pendapatan di China[8] mencapai US$ 830 juta, naik 6% dari tahun sebelumnya, menandai pertumbuhan positif selama empat kuartal berturut-turut.

* “Full Fiscal Year 2025:” Pendapatan[9] keseluruhan tumbuh 3% menjadi US$ 37.2 miliar. Pendapatan China tumbuh 5% menjadi US$ 3.1 miliar.

*   “Penjualan Toko yang Sama (Comparable Store Sales):”

* “Q4 FY25:” Global comparable[10] store sales meningkat 1%, didorong oleh peningkatan transaksi yang sebanding sebesar 1%. Di China, penjualan toko yang sebanding tumbuh 2% pada Q4 FY25.

*   “Jumlah Toko di China:”

* Pada tengah tahun 2025[11], Starbucks memiliki sekitar 7.000 toko di daratan China.

* Pada Q4 FY25[12], total portofolio toko di China melampaui 8.000 lokasi.

* Starbucks[13] memiliki lebih dari 7.500 toko di China.

* “Perubahan Strategi di China:” Starbucks[14] telah setuju untuk membentuk usaha patungan (joint venture) dengan Boyu Capital untuk mengoperasikan ritelnya di China. Usaha patungan ini akan memiliki dan mengoperasikan 8.000 kedai kopi Starbucks yang ada saat ini dengan visi untuk berkembang hingga 20.000 lokasi di masa depan. Penjualan saham mayoritas kepada Boyu Capital ini dinilai sekitar $4 miliar.

* “Pangsa Pasar China:” Pangsa pasar Starbucks[15] di China telah menurun dari 34% pada 2019 menjadi 14% pada 2024, menyoroti tekanan dari kompetitor lokal seperti Luckin.

Perbandingan dan Tren Kondisi Persaingan Sebenarnya

* “Jumlah Toko:” Luckin Coffee[16] secara signifikan melampaui Starbucks dalam jumlah toko di China pada tahun 2025, dengan hampir 30.000 toko berbanding sekitar 8.000 toko Starbucks.

* “Pendapatan:” Meskipun Luckin memiliki jumlah toko yang lebih banyak dan pertumbuhan pendapatan yang pesat, pendapatan global Starbucks masih jauh lebih tinggi. Luckin melaporkan pendapatan $1.72 miliar pada Q2 2025, sedangkan Starbucks[17] melaporkan pendapatan kuartalan $8.8 miliar.

* “Fokus Pasar:” Luckin[18] terus berfokus pada model berbasis aplikasi, pengambilan cepat, dan harga yang kompetitif, yang sangat sesuai dengan konsumen urban muda di China. Starbucks merespons dengan strategi "Back to Starbucks" yang berfokus pada renovasi toko, keterlibatan digital, dan penyesuaian harga untuk mendapatkan kembali pangsa pasar.

* “Perang Harga:” Pasar kopi di China sedang mengalami perang harga[19] yang intens, dengan Luckin dan Cotti Coffee menawarkan harga yang sangat rendah. Starbucks juga perlu berkompromi lebih lanjut dalam harga produk untuk menarik konsumen di kota-kota tingkat bawah.

Data-data ini menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Luckin Coffee terus mempertahankan momentum pertumbuhan yang agresif, terutama dalam jumlah toko dan pendapatan di pasar China, bahkan mulai berekspansi ke pasar AS. Sementara itu, Starbucks, meskipun masih merupakan pemain global yang dominan dengan pendapatan yang lebih besar, menghadapi tantangan besar di China dan harus beradaptasi dengan cepat melalui perubahan strategi dan model bisnisnya.




[1] [sahmcapital.com](https://www.sahmcapital.com/news/content/does-luckin-coffees-lkncy-revenue-surge-reveal-a-sustainable-edge-in-chinas-coffee-market-2025-11-25)

[2] [finance.yahoo.com](https://finance.yahoo.com/news/luckin-coffee-inc-lkncy-q1-070813904.html)

[3] [chainstoreguide.com](https://www.chainstoreguide.com/offthechain/2025/09/luckin-vs-starbucks-the-coffee-battle-everyones-talking-about/)

[4] [investor.luckincoffee.com](https://investor.luckincoffee.com/news-releases/news-release-details/luckin-coffee-announces-third-quarter-2025-financial-results)[chinadaily.com.cn](https://www.chinadaily.com.cn/a/202511/05/WS690aa933a310f215074b9098.html)

[5] [investor.luckincoffee.com](https://investor.luckincoffee.com/news-releases/news-release-details/luckin-coffee-announces-third-quarter-2025-financial-results)

[6] [ceibs.edu](https://www.ceibs.edu/new-papers-columns/27644)[chainstoreguide.com](https://www.chainstoreguide.com/offthechain/2025/09/luckin-vs-starbucks-the-coffee-battle-everyone%E2%80%99s-talking-about/)

[7] [ceibs.edu](https://www.ceibs.edu/new-papers-columns/27644)[chainstoreguide.com](https://www.chainstoreguide.com/offthechain/2025/09/luckin-vs-starbucks-the-coffee-battle-everyone%E2%80%99s-talking-about/)

[8] [yicaiglobal.com](https://www.yicaiglobal.com/news/starbucks-is-confident-in-china-growth-plans-to-retain-major-equity-stake)

[9] [yicaiglobal.com](https://www.yicaiglobal.com/news/starbucks-is-confident-in-china-growth-plans-to-retain-major-equity-stake)

[10] [about.starbucks.com](https://about.starbucks.com/press/2025/starbucks-reports-q4-full-fiscal-year-2025-results/)[youtube.com](https://www.youtube.com/watch?v=EKJi03N2C-M)

[11] [globalbrandsmagazine.com](https://www.globalbrandsmagazine.com/starbucks-reshapes-its-china-strategy/)

[12] [youtube.com](https://www.youtube.com/watch?v=EKJi03N2C-M)

[13] [chainstoreguide.com](https://www.chainstoreguide.com/offthechain/2025/09/luckin-vs-starbucks-the-coffee-battle-everyone%E2%80%99s-talking-about/)

[14] [about.starbucks.com](https://about.starbucks.com/press/2025/starbucks-and-boyu-announce-joint-venture-for-the-next-chapter-of-growth-in-china/)[nytimes.com](https://www.nytimes.com/2025/11/03/business/starbucks-china-boyu-capital.html)

[15] [eu.36kr.com](https://eu.36kr.com/en/p/3538638945426310)

[16] [chinadaily.com.cn](https://www.chinadaily.com.cn/a/202511/05/WS690aa933a310f215074b9098.html)

[17] [foodandwine.com](https://www.foodandwine.com/luckin-coffee-expands-in-us-11796954)

[18] [monexa.ai](https://www.monexa.ai/blog/starbucks-corporation-latest-financial-market-anal-SBUX-2025-07-02)

[19] [eu.36kr.com](https://eu.36kr.com/en/p/3538638945426310)