May 24, 2026

Desain Ulang Nasibmu: Desain Kembali MauMu

 


Oleh Harmen Batubara 

Hidup adalah pilihan.
Dan setiap manusia diberi hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita bisa memilih menjadi pribadi yang berani melangkah berbeda, atau memilih hidup apa adanya. Tidak ada yang sepenuhnya salah, juga tidak selalu lebih baik. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah milik kita sendiri.

Namun, hidup hanya sekali. Rasanya terlalu sayang jika dijalani tanpa makna, tanpa keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Karena itu, tentukanlah maumu.

“MauMu” adalah arah hidupmu.
Ia adalah tujuan yang membuat seseorang tetap bertahan, tetap bekerja keras, dan tetap percaya meski keadaan sering kali tidak mudah. Pada akhirnya, tujuan hidup manusia bukan hanya tentang mencari penghidupan, tetapi juga tentang beribadah kepada Sang Pencipta, memberi manfaat kepada sesama, dan menjaga kehidupan di sekitarnya dengan sebaik-baiknya.

Sebenarnya, mauku dan maumu mungkin sederhana:
kita hanya ingin hidup yang selaras dengan keinginan, minat, bakat, dan tujuan hidup kita sendiri.

Banyak orang berkata, “Ikuti saja passion-mu.”
Tetapi kenyataannya hidup tidak sesederhana itu. Setiap orang memiliki keinginan dan gairah terhadap sesuatu. Sama seperti saat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama—dunia terasa begitu indah dan semuanya terasa mungkin. Kita mencintai keluarga, pekerjaan, hobi, lingkungan, bahkan hal-hal kecil yang membuat hidup terasa berarti. Ada yang bahagia saat membantu orang lain, ada yang menemukan ketenangan ketika bertani, berdagang, merawat anak, menjaga alam, atau memelihara hewan.


Namun hidup sering bertanya lebih keras:

“Bagaimana kalau nasibku sudah begini?”
“Aku hanya petani penggarap.”
“Anakku sudah tiga.”
“Aku ingin kuliah, tapi orang tuaku tidak punya biaya.”

Pertanyaan-pertanyaan itu nyata. Dan jawabannya memang tidak mudah.

Dalam dunia strategi militer ada istilah ramalan pelibatan—memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan agar kita masih punya kesempatan melakukan antisipasi. Seperti permainan catur: sebelum melangkah, kita mencoba menghitung segala kemungkinan, untung dan rugi, lalu menentukan langkah terbaik.

Begitu pula hidup.

Jika seorang anak ingin kuliah, maka kesadaran itu seharusnya dibangun sejak awal. Bukan hanya menunggu keajaiban datang setelah lulus sekolah. Anak-anak perlu dibekali keterampilan hidup sejak muda. Keterampilan apa saja yang bisa membuat mereka bertahan dan menghasilkan di kampungnya sendiri: bertani, berdagang, berkebun, memperbaiki sesuatu, atau pekerjaan apa pun yang memberi nilai.

Keterampilan sederhana sering kali menjadi penyelamat hidup.

Sebagai anak kampung, aku pernah menikmati semua itu.
Saat SMP hingga SMA, aku belajar banyak hal dari kehidupan desa. Dan jujur, dari situlah aku merasakan nikmatnya hidup. Waktu itu cita-citaku pun sederhana. Jika aku tidak bisa melanjutkan sekolah, mungkin aku akan tetap tinggal di kampung, bekerja, menikah, lalu menjalani hidup seperti kebanyakan orang.



Namun ternyata Tuhan menyiapkan jalan lain.

Saat pengumuman kelulusan SMA, aku baru sadar bahwa hampir semua kawanku sudah punya rencana kuliah ke berbagai kota: Medan, Padang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan lainnya. Saat itu aku tersentak. Untungnya waktu belum terlambat.

Aku percaya satu hal:
siapa pun yang memiliki keterampilan hidup, tidak akan benar-benar miskin.

Dengan keyakinan itu, aku memberanikan diri memutuskan pergi merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Keputusan itu membuat kampungku geger. Orang tuaku khawatir. Mereka sulit percaya bahwa anak kampung yang kurus dan sederhana itu berani mengambil langkah sebesar itu.

Tetapi mungkin mereka juga tahu:
ada mimpi yang tidak boleh dipatahkan.

Akhirnya mereka merelakan aku pergi merantau, mencoba mengikuti jalan nasib yang kupilih sendiri.

Lalu bagaimana jika hidup sudah terlanjur rumit?
Sudah punya anak, sudah banyak tanggungan, atau usia tidak lagi muda?

Maka skenarionya harus diubah.
Kita perlu menghitung ulang kebutuhan hidup, kemampuan yang kita punya, dan peluang yang masih bisa diciptakan. Mungkin perlu belajar keterampilan baru, mencari tambahan penghasilan, atau memulai sesuatu dari bawah lagi.

Tetapi percayalah:
ketika kita menemukan masalah yang sebenarnya, di situlah jalan keluar mulai terlihat.

Dan tentang anak atau cucu yang ingin kuliah?
Biarkan mereka tetap punya harapan. Hari ini banyak jalan untuk belajar. Ada kuliah daring, ada pendidikan terbuka, ada banyak kesempatan yang dulu bahkan tidak pernah kita bayangkan.

Sambil belajar, mereka juga bisa memperkuat keterampilan hidupnya. Karena pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi tentang kemampuan untuk bertahan, berkembang, dan memberi manfaat.

Nasib memang tidak selalu bisa kita pilih saat lahir.
Tetapi arah hidup masih bisa kita desain ulang.

Dan sering kali, perjalanan memperbaiki nasib itulah yang justru membuat hidup terasa paling bermakna.




No comments:

Post a Comment