Oleh Harmen Batubara
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa
(KopDes), dan Kampung Nelayan merupakan pilar program unggulan Presiden Prabowo
yang sangat didambakan oleh masyarakat luas. Harapan publik begitu besar agar
kebijakan ini mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan di akar rumput.
Namun, di balik potensi besarnya, realita di lapangan membunyikan alarm keras:
tanpa pengawasan ketat, program-program visioner ini rentan menjadi celah
"bancaan" korupsi oleh oknum birokrasi dan pihak-pihak yang
memanfaatkan kedekatan kekuasaan.
Jika kita mencoba berpikir positif, karut-marut di
fase awal ini seolah sengaja dibiarkan bergulir apa adanya demi memotret
realita yang sesungguhnya. Ini menjadi cermin retak yang memperlihatkan secara
telanjang bagaimana kualitas, mentalitas, dan bobroknya kapasitas birokrasi
kita hari ini—sekaligus menjadi momentum untuk menyaring serta menghukum mereka
yang korup. Untuk sesaat, publik mungkin bisa memaklumi bahwa inilah batas kemampuan
administratif negara kita saat ini. Namun, pertanyaan mendasar yang wajib
diajukan adalah: kualitas tata kelola seperti apa yang sebenarnya ingin
dihadirkan pemerintah dalam mengeksekusi program strategis ini ke depan?
Koperasi Desa (KopDes): Dipaksa langsung bertarung di pasar bebas melawan raksasa ritel modern
yang telah mapan, memiliki keunggulan jaringan pasokan, integrasi teknologi,
serta sistem keuangan yang mutakhir. Tanpa modernisasi sistem, KopDes hanya
akan menjadi papan nama tanpa daya saing.
Kampung Nelayan: Sejauh ini
intervensi baru menyentuh aspek fisik seperti pembagian kapal, pembangunan depo
minyak, atau penyediaan kamar pendingin (cold storage).
Pemerintah melupakan aspek yang lebih krusial: sistem penggerak armada,
manajemen penangkapan ikan yang efektif, dan ekosistem hilirisasi. Tanpa
kepastian akses ke jaringan pasar konsumen berskala besar atau industri
pengolahan yang solid, para nelayan miskin tetap akan kesulitan keluar dari
lingkaran kemiskinan.
Jujur saja, jika pola eksekusinya masih pragmatis
dan konvensional seperti sekarang, publik justru lebih mudah melihat potensi
kebocoran anggaran oleh para pengelolanya ketimbang melihat peta jalan (roadmap) menuju keberhasilan program. Sudah saatnya
pemerintah beralih dari sekadar retorika program populer menuju ketegasan
eksekusi yang profesional, transparan, dan akuntabel. Jangan biarkan harapan
besar rakyat kandas akibat sistem yang lemah dan birokrasi yang gemar berburu
rente.


No comments:
Post a Comment