June 20, 2021

Mereka Yang Sulit Melihat Peluang



Kegagalan sering terjadi karena mereka tidak peka dengan PELUANG yang ada. Sesungguhnya, peluang itu sebenarnya selalu ada.  Hanya kitalah yang tidak persis mengenalnya atau kalaupun ia datang wujutnya tidak seperti yang kita persepsikan. Untuk selalu mampu mengambil peluang itu, dibutuhkan talenta dan kesediaan  untuk berubah. Hal seperti ini, sulit untuk bisa diterima oleh setiap orang. Orang umumnya tidak mau kalau suatu perubahan itu, berlangsung dengan ritme yang berbeda. Orang cenderung ingin sesuatu yang biasa atau yang lazim serta dapat diperediksi secara jelas. Sangat sulit dibayangkan seseorang yang telah belasan tahun menekuni usaha atau kariernya untuk kemudian merubah arah serta memulainya dari posisi lebih bawah lagi; padahal  secara sadar ia tahu persis  kesempatannya di tempat lama sudah dapat dikatakan pupus sama sekali.     

      

Lihat PeluangMu Nikmati PerjuanganMu.

Oleh : Harmen Batubara   

Lihat PeluangMu Nikmati PerjuanganMu. Menurut Gede Prama, setiap orang lahir bersama peluangnya. Namun sebenarnya, kalau kita  jeli belum tentu setiap orang peduli terhadap peluang. Banyak pula diantara kita yang tidak sempat berpikir tentang peluang itu sendiri. Umumnya kita menerima saja ritme kehidupan itu, terserah ia mau dibawa kemana. Tetapi sudah tepatkah sipat seperti itu ?  Kalau hidup sudah tidak lagi pernah dievaluasi, maka sebenarnya  ritme seperti itu tidak ada bedanya dengan ritme kehidupan hewani. Ya, hidup adalah hari ini, persoalan besok itu soal lain lagi. Atau kelewat  peduli seperti kata  WS Rendra, “ Kemarin- esok adalah hari ini “. Atau apakah anda tidak percaya bahwa segala sesuatunya itu telah sesuai dengan desain sang pencipta ?

Mereka yang mempunyai paham optimis,  meyakini bahwa peluang sebenarnya selalu ada dan akan ada. Masalahnya peluang itu  sering muncul tidak persis seperti yang kita asumsikan. Kalaupun ia datang, kondisinya tidak ideal sebagaimana yang diharapkan. Katakan anda dari Bandung, tepatnya dari Cimahi mau ke Jakarta dan inginnya lewat Puncak. Tetapi setiap Bis yang anda stop, selalu penuh dan mereka tak mau membawa anda. Sementara pada waktu yang bersamaan dan malah hampir setiap saat selalu ada Angkutan Kota dari Cimahi ke Cianjur, dan umumnya selalu saja tersedia tempat kosong. Kalau saja anda mau, anda bisa naik itu; dan dari Cianjur bisa diteruskan oleh Angkot  Cianjur- Bogor dan seterusnya Bisnonstop Bogor – Jakarta.

Sesungguhnya, peluang itu sebenarnya selalu ada; hanya kitalah yang tidak persis mengenalnya atau kalaupun ia datang wujutnya tidak seperti yang kita persepsikan. Untuk selalu mampu mengambil peluang itu, dibutuhkan talenta dan kesediaan  untuk berubah. Hal seperti ini, sulit untuk bisa diterima oleh setiap orang. Orang umumnya tidak mau kalau suatu perubahan itu, berlangsung dengan ritme yang berbeda. Orang cenderung ingin sesuatu yang biasa atau yang lazim serta dapat diperediksi secara jelas. Sangat sulit dibayangkan seseorang yang telah belasan tahun menekuni usaha atau kariernya untuk kemudian merubah arah serta memulainya dari posisi lebih bawah lagi; padahal  secara sadar ia tahu persis  kesempatannya di tempat lama sudah dapat dikatakan pupus sama sekali.           

Bagai Produk

Sebenarnya banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai suatu keinginan, menurut Tom Pieters penulis Buku “The Brand You”,  Kau adalah produkmu. Bagaimana kau bisa menjual  “dirimu”, dan kemana kau bisa menjualnya, sangat tergantung dengan image yang anda bangun itu sendiri. Ibarat suatu produk kata Tom, dapatkah anda membayangkan produk apakah sebenarnya anda itu. Karena andalah yang menjadi “desain” anda, maka

Baca   Juga   :   Buku Pilkada, 10 Langkah Efektif Memenangkan Pilkada

Seyogyanya anda sendirilah yang tahu persis produk seperti apakah yang anda persepsikan terhadap diri anda sendiri. Anda juga yang sudah mempersiapkan atau mencari segmen pasar yang memang tepat terhadap produk tersebut. Dalam pemahaman yang amat sederhana, semua orang sebenarnya sudah melakukannya ; hanya saja memang banyak yang melakukannya tanpa pola serta arah yang jelas dan tidak terukur. Misalnya, para orangtua yang menyekolahkan putranya, meskipun tidak ada target yang jelas, tetapi minimal agar si anak kelak lebih baik dari dirinya sendiri.

Bagi sebagian lainnya, memang telah mempersiapkan disain pendekatan. Mereka secara empiris sudah dapat melihat bakat putranya sedari dini. Karena itu mereka membuat suatu cetak biru pendekatan demikian pula tentang pendanaannya; mereka sediakan secara terencana, baik itu lewat asuransi atau bentuk-bentuk lain yang memungkinkan putra mereka kelak tetap terbantu pendanaan pendidikannya. Meskipun suatu hari kelak sang anak merasa tidak sepenuhnya setuju dengan rencana “ blue print “ orang tuanya; tokh membuat perubahan tidaklah susah-susah amat. Yang jelas sang anak sudah terencana secara benar tentang akan jadi apa dia kelak. Masalahnya adalah; tidak banyak orangtua yang mampu mempersiapkan  program yang jelas bagi anak-anak mereka. Contohnya ya barangkali diri kita sendiri. Yang tidak jelas produk macam apakah kita ini. Dan bisa di “jual” kemana dan dengan harga berapa.

Bagi mereka yang masih muda, tentu dengan mudah dapat kembali mengevaluasi “hidup” mereka. Artinya, mereka bisa memulainya dari awal kembali. Mereka tinggal mengintip pasar, sehingga tahu persis produk seperti apa sebenarnya yang bisa mereka jual ke pasar seperti itu. Kalau mereka menginginkan  jadi seorang CEO di perusahaan Multi National. Maka tentu yang dilihat pertama kali adalah persyaratan jadi CEO seperti itu. Misalnya pendidikannya apa saja; ketrampilan penunjang dan pengalaman-pengalaman yang diperlukan. Atau menjadi seorang Birokrat, apakah itu di Sipil atau Militer. Umumnya selalu ada kriteria yang menjadi dasar, seperti pendidikan, ketrampilan penunjang dan pengalaman dst.dst. Kemudian mereka tinggal membuat suatu perencanaan agar persyaratan tadi bisa terpenuhi. Secara teoritis hal seperti itu bisa dilakukan, meskipun nantinya akan selalu muncul dinamika; tetapi dinamika itu selalu bisa dievaluasi dan diubah suai atau disesuaikan kembali.

Perencanaan juga tidaklah suatu pendekatan yang mati; artinya berbagai kondisi bisa saja ikut mempengaruhi jalannya pencapaian.  Misalnya, untuk memperoleh pendidikan harus dilakukan sambil bekerja cari uang. Artinya, anda tidak punya sumber pendanaan yang spesifik bagi kuliah anda. Hal seperti itu tidak jadi soal; dalam suatu perencanaan selalu ada kondisi seperti itu. Ujungnya adalah, berapa penghasilan anda yang sebenarnya. Untuk merealisir cita-cita anda, tentu harus membutuhkan dana; seberapa besar dana yang diperlukan. Untuk mencari dana seperti itu, apakah anda bayar didepan atau di belakang. Kalau di depan itu artinya anda harus mencari penghasilan tambahan. Dari mana anda bisa mencari penghasilan tambahan ? Tentu banyak sekali pilihannya. Tergantung hal itu dilakukan dengan kerja tenaga atau pikiran. Kalau pembayarannya dibelakang, anda bisa mencari dana pinjaman; sumber-sumber dana pinjaman pada saat ini sangat banyak ragamnya. Terserah anda pilih yang mana. Pendek kata, selalu ada jalan keluar yang elegan.


Lakukan Sesuatu

Yang sering terjadi adalah ketemu jalan buntu,artinya anda tidak punya modal untukberbuat apa saja termasuk untuk sekedar mencari informasi. Kondisi seperti ini yang sering membuat seseorang kehilangan harkat diri; merasa dirinya tak lebih dari seekor hewan yang ditinggal oleh tuannya.Pegangannya adalah jangan berhenti dalam perasaan seperti itu.Tapi perlu keyakinan bahwa setiap jalan buntu, jangan teruskan ke ujungnya tapi kembalilah ke simpang terahir ; terserah anda mau ke kiri atau ke kanan atau malah balik lagi ke awal. Pastikan bahwa setiap gang pasti ada jalan utamanya; pastikan kalau jalan mendaki pasti ada turunannya dst.dst. Kalau anda lagi kepayahan dalam pendakian; kau tetap punya banyak pilihan. Kau bisa istirahat, lakukan evaluasi; apakah kau terus menuju puncak atau mencari jalan alternatif lain. Tapi yang perlu diyakini adalah diperlukan kesabaran, talenta, arah yang jelas dan keyakinan.

Seorang anak muda lulusan S1 informasi, sudah enam bulan mencari pekerjaan kesana, kemari. Menurut penuturannya hampir setiap kantor sudah dia datangi, tak peduli itu swasta maupun negeri tapi tak pernah ada yang menerimanya. Sinar matanya jadi kuyu, badannya sudah setengah layu sesuai dengan penampilannya yang sudah mencerminkan keputus asaan.Diujung semua keluhannya, penulis sengaja memberikan senyuman padanya, suatu tanda hal seperti itu adalah sesuatu yang biasa. Saya memberinya uang lima puluh ribu, temui saya besok waktu ashar di mesjid ini.Kami lalu berpisah.

Benar besoknya dia sudah ada, dan sedikit lebih ceria.Kau punya teman? Ya ada, kerja di angkot. Kau mau jadi kernetnya? Maksud bapak ? Kau cukup jawab ya atau tidak ? Ya. Kau percaya dia mau menerima anda? Pasti. Oke lakukan itu dengan sungguh-sungguh sekarang juga dan gunakan semua kemampuanmu untuk mendapatkan peluang yang kau mau. Temui aku seminggu lagi pada waktu yang sama. Lalu penulis memberinya uang seratus ribu rupiah. Lama ia menatap mata penulis, jangan salah sangka sahabat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Kami lalu berpisah.  Kenapa penulis melakukan itu ? Karena konsep itu tadi. Peluang sebenarnya selalu ada, hanya kita tidak bisa mengenalinya dan sangat percaya kalau seseorang berbuat sesuatu pasti ada jalan keluar untuk itu.

Baca Juga  :   LandingPress Buat Website Bisnis Lebih Menyenangkan

Seminggu kemudian ketika bertemu lagi semuanya sudah berubah. Pakaiannya sudah persis seorang kernet dengan sebungkus rokok di kantongnya. Apa yang telah kau dapatkan anakmuda? Bapak benar, tiga hari setelah jadi kernet peluang itu datang. Aku waktu itu mengantar seseorang  yang mau mencarter angkot untuk membawa barangnya dari Stasiun KA ke rumahnya di Gedebage. Diluar dugaan sama sekali. Bapak itu menanyakan kalau-kalau punya teman yang bisa jadi supir, dia perlu supir. Saya bilang saya bisa. Dia lalu bertanya apakah saya juga bisa Komputer ? Saya bilang saya bisa; saya S1 dari Jurusan Komputer. Dia lalu menerima saya; sejak kemarin saya sudah resmi jadi sopir dan asistennya, ternyata beliau adalah Kolonel Angkatan Darat yang bertugas sebagai Security Officer pada perusahaan Survei milik pemerintah Jepang. Pada hari itu dia pilih Angkot, hanya karena beliau pingin kembali merasakan naik angkot. Di rumahnya ternyata beliau mempunyai Sedan Camry 2.5 dan Honda CRV tahun 2020. Dia lalu mencium tangan penulis dan mengucapkan terima kasih; hemat saya sangat tulus sekali.

Hal yang perlu jadi pegangan adalah anda harus mempunyai ketrampilan, punya kualifikasi dan seterusnya. Artinya anda perlu mempunyai ketrampilan entah itu formal dengan ditandai oleh selembar izasah atau sertifikat. Kalau anda belum punya maka upaya pertama adalah untuk memilikinya. Bagaimana anda memperolehnya ? Juga banyak cara untuk itu. Artinya kalau anda punya niat, dan sungguh-sungguh jalan untuk itu pasti ada, yang penting lakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Caranya banyak sekali, mulai dari cara-cara tradisional seperti dengan membayar uang kuliah atau uang kursus atau dengan cara bekerja sambil kuliah atau sambil kursus.



Sering terjadi adalah kalau kita tidak punya persepsi yang positif dengan hukum Tuhan atau hukum alam; artinya di dunia ini kita harus berpegang dengan aturan-aturan yang ada. Kita harus mau dan berkenan dengan aturan aturan itu. Yang kerap dilupakan orang adalah, mencari sesuatu dengan cara-cara yang sangat vulgar; sama seperti para peminta-minta, mereka “berdandan” dengan memelas dan mengulurkan tangan. Mencari kerja dengan melamar kesana kemari tanpa “ polesan” koneksi, tanpa networking samalah halnya dengan cara para peminta-minta di pinggir jalan. Bukan mereka tidak butuh anda, tapi ya karena tidak kenal saja. Kemudian jangan kaku, tapi justeru harus fleksibel dan kuasai atau kenali medan. Jadi sebenarnya  kalau zaman sekarang anda masih saja jadi seorang pengangguran maka itu ada yang salah di sana, yakni pada cara pandang anda. Dunia ini sangat sederhana, hukumnya juga sangat sederhana, kalau anda datang dengan cara sederhana dan bersahabat maka dunia ini ada dalam gemgaman anda.

 

 

No comments:

Post a Comment